
“Tuan, jika kau tak bisa mengendalikan emosi, maka Nona Cathleen tetap tak mau dengan Anda.” Bene memberikan nasihat seraya memungut ponselnya yang sudah tak keruan lagi layarnya.
“Diam kau! Aku sedang emosi!” sentak Edbert. Baru juga beberapa waktu lalu dia nampak manis, sudah kembali garang saja.
Bene menggelengkan kepala, namanya sudah sifat yang mendarah daging, pasti sulit untuk dirubah. “Yang penting aku sudah memberi tahu, tapi kalau tak didengarkan pun terserah Anda.”
“Kalau kesabaranku habis, akan ku seret paksa saja Cathleen. Aku tak peduli dia senang atau tidak, yang penting kembali ke dalam pelukanku.” Edbert sampai naik turun dadanya saat berucap karena terlalu emosi.
“Jangan terlalu mencolok memaksakan diri seperti itu, Tuan. Nona Cathleen bisa semakin takut dan menjauh kalau Anda seperti itu. Lebih baik melakukan dengan pendekatan lain,” cetus Bene.
Membuat Edbert memusatkan mata pada sang sekretaris. “Pendekatan seperti apa yang ampuh?”
Bene pun memberikan ide yang terlintas dalam pikirannya. Cara yang tak ekstrim dan sepertinya cocok untuk mendekati Cathleen.
“Akan ku coba,” ujar Edbert. Sepertinya dia tertarik dengan ide yang diberikan oleh Bene.
“Lebih baik sekarang fokus untuk penyembuhan. Saat kesehatan sudah pulih, maka Anda bisa melakukan rencana itu.” Bene berinisiatif menurukan ranjang supaya nyaman untuk tidur.
__ADS_1
Edbert pun diam saja saat sekretarisnya menurunkan ranjang pasien. Sebab, dia sedang berpikir. “Ck! Sia-sia aku membayar agen rahasia itu sangat mahal, tapi satu bulan belum kembali membawa informasi apa pun.” Mulutnya menggerutu kesal.
“Anda meminta untuk informasi langsung detail, maka sudah pasti lama, mungkin kalau yang diinginkan laporan bertahap, pasti saat ini sudah ada hasil walaupun tak banyak,” balas Bene.
“Kau hubungi orang itu, aku ingin mendengar informasi apa pun yang dia dapatkan, dan aku ingin tahu asalannya kenapa bisa lama sekali memberikan hasil.” Edbert mengeluarkan perintah seraya menutup mata untuk mulai istirahat.
“Baik, secepatnya akan saya hubungi setelah membeli ponsel baru.”
“Nanti ku ganti uangnya sebagai kompensasi karena aku yang merusak.”
Gerald sejak tadi tidak bisa tidur lagi karena mendengar suara Cathleen yang melakukan panggilan dengan seseorang. Tapi pria dingin itu hanya menatap ke arah sandaran sofa tanpa mengganggu istrinya yang berkomunikasi dengan seorang pria.
Gerald tidak bermaksud menguping pembicaraan Cathleen. Tapi, telinganya masih normal dan bagus untuk mendengar. Jadi, semua yang diucapkan oleh istrinya itu bisa terdengar jelas, bahkan termasuk suara dari pria yang sudah pernah memukul wajah tampannya saat hari pernikahannya bersama Cathleen.
Namun, saat suasana sudah mulai sunyi dan tak ada suara sedikit pun dari dalam kamar, Gerald memutar tubuh hingga kedua bola mata bisa terisi oleh sosok Cathleen yang tidur tertutup selimut. Dia tidak mengeluarkan apa pun, cukup memandang istrinya dalam cahaya yang remang-remang.
...........
__ADS_1
Pagi harinya, semua orang sudah selesai sarapan. Para lelaki bersiap untuk mulai menyelam ke dasar laut menggunakan kapal selam yang disewa dari angkatan laut.
Sebelum menuju transportasi yang akan digunakan, Gerald ke kamar terlebih dahulu untuk mengambil barang-barang yang dibutuhkan. Dan di sana sedang ada Cathleen yang tengah duduk memangku MacBook karena sedang bekerja.
Gerald melihat sekilas, lalu segera mengambil ponsel yang ada di atas nakas saat Cathleen tiba-tiba menatap ke arahnya.
“Sudah mau pergi?” tanya Cathleen seraya meletakkan MacBook ke atas ranjang. Dia beralih memperhatikan suami dinginnya.
“Hm.” Gerald mengantongi ponsel dan berbalik badan menuju pintu.
Sebelum benar-benar keluar, Gerald berhenti sejenak di depan pintu. “Jika tak suka, jangan memberikan perhatian pada orang.”
Gerald tiba-tiba mengeluarkan kalimat yang membuat Cathleen menaikkan alis karena bingung. “Maksudmu?”
...*****...
...Aku juga gak paham Cath, makin ke sini si Gege makin ke sono. Maksudnya ke sono tuh gak jelas, susah dipahami. Temenan sama sule aje sono lu...
__ADS_1