
Satu bulan berlalu, setelah Gerald dan Cathleen saling meminta maaf atas kesalahan mereka, kini sepasang pengantin yang sudah setengah tahun menikah itu mulai menunjukkan kemajuan yang bagus. Keduanya terlihat lumayan mesra meskipun belum dilakukan secara terang-terangan di depan umum. Tapi tetap saja itu bagus walaupun mereka tidak saling mengutarakan kalimat cinta.
Di luar masih turun salju, membuat udara dingin, dan tentu saja Gerald malas keluar jika jalanan mulai dipenuhi oleh setumpuk buliran putih dengan suhu melebihi freezer. Lebih baik ia menghidupkan tungku api, memposisikan sofa supaya berhadapan dengan perapian tersebut, dan merebahkan tubuh di sana. Tak lupa ponsel yang selalu menemani untuk bermain game online.
Mata Gerald memang fokus ke layar berukuran enam koma tujuh inch, tapi telinga bisa mendengar kalau ada seseorang yang baru saja masuk ke dalam apartemennya. “Tumben kau pulang lebih awal?” Ia bertanya tapi tidak melihat pada orang yang diajak berbicara.
“Ya, aku takut terlalu malam dan ketinggalan kereta,” jawab Cathleen. Selama musim dingin, ia tidak diantar jemput oleh Gerald, tapi menggunakan transportasi umum.
Jalanan sedang licin dan sering tertutup salju, Cathleen tahu kalau sang suami malas repot, sehingga dirinya sendiri yang berinisiatif untuk menolak ketika Gerald menawarkan menemani berangkat dan pulang kerja menggunakan transportasi umum.
“Bagaimana di jalan? Semua baik-baik saja?” Gerald masih saja fokus memencet layar ponsel. Tapi ia bisa tahu kalau pakaian Cathleen banyak salju, matanya melihat dari pantulan sang istri yang ada di layar kecil yang sengaja dia arahkan ke Cathleen, supaya bisa bermain game sembari melihat wanita itu.
“Everything is good, tidak ada orang yang menjahatiku ataupun melecehkan saat di kereta.” Cathleen menjawab seraya melepaskan jaket tebal dan meletakkan ke stand hanger. “Tapi lalu lintas sangat sepi, jalanan banyak tertutup salju dan belum dibersihkan oleh petugas,” imbuhnya memberi tahu.
“Oh, berarti ada benarnya kita tak perlu bepergian, kalau perlu mulai besok kau bekerja dari rumah saja supaya tak kedinginan ketika berangkat dan pulang kerja.” Gerald memberikan saran yang pasti sesuai dengan kebiasaannya. Memilih berdiam di tempat tinggal daripada membeku di luar.
“Musim dingin dengan salju yang setiap hari turun, tak membuat semangatku untuk bekerja menjadi luntur. Tapi, terima kasih atas saranmu.” Cathleen menghargai pendapat sang suami, meskipun ia tidak bisa menjalankan saran dari Gerald. “Aku ingin berendam air hangat dulu,” pamitnya seraya berjalan menuju kamar.
“Hm, kalau ingin mencari kehangatan lain, kau bisa ke sini, mungkin pelukanku jauh lebih hangat dari bara api,” ucap Gerald. Ia menyempatkan untuk menatap Cathleen yang sedang melihat ke arahnya hingga keduanya saling beradu pandang.
Cathleen mengulas senyum diiringi kepala mengangguk. Ia jadi teringat malam saat badai salju yang membuatnya menggigil. Gerald memeluk dirinya sangat erat, menghalau seluruh suhu minus yang hendak menyentuh kulitnya, hingga hanya ada rasa hangat yang disalurkan dari suhu tubuh sang suami.
Pipi Cathleen jadi merona saat mengingat itu, karena sejak kejadian tersebut, kini kehidupan rumah tangganya menjadi normal. Gerald dan Cathleen sering berbincang, mengajukan pertanyaan, tidak ada sisi dingin si pria pecandu game online. Tapi memang kebiasaan Gerald di depan komputer maupun ponsel tidak bisa dihilangkan. Walaupun seperti itu, Gerald tahu bagaimana membagi waktu untuk dunianya dan pasangannya.
Cathleen hilang dari pandangan Gerald setelah pintu kamar tertutup. Pria itu melanjutkan lagi memencet layar sebesar enam koma tujuh inch. Sedangkan sang wanita membersihkan tubuh di dalam genangan air yang mengeluarkan sedikit asap, menandakan kalau panas.
Selama tiga puluh menit Cathleen mandi, ia keluar dengan piyama yang tidak terlalu panjang, hanya sebatas paha dan lengan saja. Gerald sudah mengganti penghangat ruangan dengan yang baru, sehingga suhu dingin di luar tak akan menusuk kulitnya.
Cathleen duduk di sofa dekat lokasi Gerald merebahkan tubuh. Ia melihat sang suami yang asyik bermain game.
“Ke mari, sofa ini masih muat untuk ditiduri dua orang,” ucap Gerald seraya menggeser badan supaya lebih ke tepi dan memberikan tempat agar Cathleen bisa ikut merebahkan tubuh di sampingnya.
Cathleen menggelengkan kepala sebagai penolakan. “No, aku tak ingin mengganggu kesenanganmu.” Sudah cukup senang saat Gerald menunjukkan sisi penuh perhatian dan kelembutan.
Mendapatkan penolakan, Gerald membiarkan permainannya terjeda sejenak. Ia meletakkan ponsel ke atas karpet, merubah posisi menjadi berdiri, dan mendekati sang istri.
Tangan Gerald secara tiba-tiba menarik Cathleen. “Tidak akan mengganggu, aku hanya bermain game biasa,” jelasnya seraya mengajak sang istri untuk bersama-sama menghangatkan tubuh di depan tungku api.
__ADS_1
Gerald mendorong pelan tubuh Cathleen hingga wanita itu terduduk di sofa, lalu ia merebahkan tubuh di bagian tepi, menarik sang istri sampai tertidur saling berhimpitan dengannya. “Lebih hangat seperti ini daripada duduk sendiri.”
Gerald memposisikan mereka supaya santai dan nyaman. Ia lebih meninggikan kepala dengan bantal, sedangkan Cathleen dibiarkan berbantal dada bidangnya.
“Kau sudah nyaman seperti ini?” tanya Gerald seraya melingkarkan tangan kanan ke bagian punggung hingga lengan Cathleen.
Kepala Cathleen mengangguk sebagai jawaban iya. “Mungkin akan semakin nyaman kalau aku memelukmu,” celetuknya seolah sedang meminta izin. Sifat Gerald di masa lalu yang tidak senang ketika ia sentuh tanpa izin, membuat dirinya masih sering takut jika tiba-tiba menyentuh sang suami.
“Lakukan jika kau mau.” Tangan kiri Gerald meletakkan tangan Cathleen hingga melingkar di perutnya.
Bibir Cathleen otomatis mengulas senyum lega. Sedangkan Gerald mengambil ponselnya lagi yang teronggok di bawah.
“Tidurlah, nanti ku bangunkan saat makan malam, pasti kau sangat lelah setelah seharian bekerja.” Tangan kanan Gerald menepuk pelan lengan Cathleen seolah sedang meninabobokan wanita itu, sementara yang sebelah kiri digunakan untuk membuka aplikasi game online lagi.
“Aku tidak mengantuk,” tolak Cathleen. Ia cukup menikmati kehangatan dari posisi yang tiada jarak tersebut.
“Baiklah, apa kau mau melihatku bermain game?” Gerald tidak memaksa kalau memang Cathleen tak mau, ia mencoba menawarkan kegiatan yang lain agar sang istri tak bosan.
“Boleh.”
Gerald pun sedikit menurunkan tangan supaya layar ponsel dapat dilihat oleh Cathleen. Ia memainkan game yang sangat populer dan selama satu tahun terakhir berada di urutan teratas pengunduhan terbanyak, serta memiliki rating yang tinggi.
“Kenapa? Apa kau ingin buang air?” tanya Gerald. Ia memang orang yang peka oleh gerak-gerik seseorang, apa lagi posisi Cathleen yang mendempel dengannya.
“Ya, bisakah aku mengurai pelukanmu sebentar?” izin Cathleen.
Membuat Gerald mengacak-acak rambut istrinya karena gemas. “Kau boleh melepaskan pelukanku saat mendesak. Untuk apa menunggu izin? Nanti kau bisa mengompol di sini kalau menahan kencing,” kelakarnya seraya menjauhkan tangan kanan yang sejak awal memeluk Cathleen.
Cathleen menunjukkan rentetan gigi dan tersenyum canggung. “Aku takut kau marah.”
Gerald paham betul kenapa Cathleen selalu merasa tak bebas berekspresi. Semua itu karena sifatnya di masa lalu. “Dulu segala laranganku karena aku tak suka didekati oleh wanita, tapi sekarang kondisinya sudah berbeda. Kau adalah istriku, dan boleh kapan pun menyentuhku.”
Cathleen mengangguk dengan wajah yang menunjukkan rasa bahagia. “Aku ke toilet sebentar, setelah itu kembali lagi ke sini.”
“Hm ... apa perlu ku temani?” tawar Gerald.
“Tidak.” Cathleen mengerakkan tangan sebagai isyarat. “Aku bisa sendiri.” Ia turun dengan cara melewati kaki Gerald karena pria itu memenuhi tepi sofa.
__ADS_1
Cathleen tidak berbohong saat ia ingin ke toilet. Sungguh wanita itu membuang urine. Tapi juga sekaligus menetralkan adrenalin dada yang berdetak tak keruan.
Cathleen membasuh wajah supaya ia tak tehanyut oleh setiap ucapan manis sang suami. Setelah berbaikan, Gerald memang sering berbicara lebih romantis dari biasanya.
“Apakah wajahku terlihat merona?” gumam Cathleen seraya menatap pantulan dirinya di cermin.
“Untung saja tidak, bisa malu aku kalau ketahuan tersipu oleh perlakuan manisnya.” Cathleen segera mencuci tangan setelah memegang toilet.
Cathleen mengambil ponselnya supaya ia bisa mengalihkan pikiran untuk mengurangi debaran jantung yang selalu berhasil berdendang saat berdekatan dengan Gerald. Ia kembali lagi ke sofa dan langsung ditarik oleh sang suami hingga terbaring lagi di samping pria itu.
Gerald tidak mengucapkan apa pun. Ia hanya kembali memeluk Cathleen dengan tangan sebelah yang masih bermain game online.
“Kau mengambil ponsel?” tanya Gerald saat melihat tangan istrinya menggenggam sesuatu.
“Iya.” Cathleen menaikkan tangan yang memegang ponsel hingga ke atas dada Gerald.
“Kau mau ikut bermain game denganku? Akan ku ajari,” tawar Gerald.
Tapi dijawab gelengan kepala. “Mungkin lain kali, aku ingin berselancar di internet saja.”
Baiklah, seperti biasa, Gerald tidak mau memaksa. Keduanya saling sibuk dengan urusan masing-masing. Tapi, sesekali mata Gerald melirik ke layar ponsel Cathleen untuk melihat apa yang wanita itu lakukan.
“Cantik.” Tiba-tiba Gerald memuji saat melihat sebuah gambar yang tengah dipandang juga oleh istrinya.
“Terima kasih,” ucap Cathleen. Ia pikir Gerald memuji dirinya.
“Bukan kau, tapi pemandangan itu,” jelas Gerald seraya menunjuk aurora dengan warna yang sangat indah.
Terlalu percaya diri membuat Cathleen malu. Ia semakin menyembunyikan kepala di ketiak Gerald.
Gerald langsung meletakkan ponsel di atas karpet, daya baterainya sudah habis sehingga ia berhenti bermain game. “Kau juga cantik, Sayang, tidak perlu malu atas tanggapanmu tadi.” Tangan sebelah kiri digunakan untuk mengusap puncak kepala sang istri sedangkan kanan mengelus lengan Cathleen.
“Aku yakin kalau pipiku sedang merah saat ini,” tutur Cathleen. Ia tak mau menunjukkan wajah pada Gerald jika sedang seperti ini.
“It’s okay, kau tetap cantik meskipun sedang tersipu.” Gerald semakin memuji, membuat dirinya bisa merasakan debaran jantung Cathleen yang sedang berdetak sangat kencang.
“Apa kau ingin melihat aurora?” tanya Gerald. Cara dia berbicara tak seperti biasa, bukan perihal intonasi, tapi tangan sembari membuat bulatan di lengan Cathleen dengan sentuhan sangat lembut.
__ADS_1
...*****...
...Ihhh kok gelayyyy liat Gege kaya gitu. Gak cocok banget euyyy, dah paling bener tuh ketus dan masa bodo kaya dulu. Apa lagi sekarang lagi winter, harusnya kamu makin menjiwai sifat dinginnya...