
Kapal selam itu mulai turun ke dasar laut. Gerald terus mengamati sebuah monitor yang memperlihatkan suasana di kedalaman tiga ratus lima puluh meter di bawah permukaan laut.
Gelap sekali di sana, tapi karena ada pencahayaan dari kapal selam, membuat Gerald bisa melihat biota laut yang sangat beragam.
“Kalau di dasar laut pun tak ada tanda-tanda Chloe, berarti dia diculik atau sudah habis dimakan hiu,” celetuk Marvel pada sang adik.
“Dimakan hiu pun pastinya menyisakan sedikit tanda. Tidak mungkin ikan seganas itu bisa makan manusia tanpa berceceran,” sahut Gerald.
“Hm, kita lihat saja nanti,” balas Danesh yang sudah tahu bagaimana akhir dari petualangan pencarian Chloe.
Kelima pria tampan, mapan, dan menawan itu sama-sama mengamati bagaimana kondisi dasar laut. Sudah tiga jam mereka berada di sana, tapi tak kunjung mendapatkan apa pun.
“Wait.” Tiba-tiba Gerald mengeluarkan suara saat kamera yang dipasang di badan kapal selam itu menyorot ke arah batu karang. “Coba kalian lihat itu.”
Danesh, Dariush, Delavar, dan Marvel pun menatap ke arah yang ditunjuk oleh Gerald.
“Seperti potongan baju,” tutur Danesh saat jelas sekali ada kain yang seperti bekas terkoyak ikan ganas.
__ADS_1
“Coba di zoom, pastikan itu pakaian milik Chloe atau tidak,” titah Marvel.
“Benar, jangan sampai kita keluar mengambil kain itu tapi ternyata bukan milik Chloe. Bisa sia-sia napas yang ku tahan untuk menyelam nanti.” Delavar ikut menimpali.
“Kalian tinggal perbesar sendiri. Manja sekali jadi pria.” Dariush justru langsung menyentuh layar monitor, hingga ukuran kain yang tadi terlihat dari kejauhan pun kini nampak besar dan dekat.
“Kau lihat baik-baik.” Dariush memegang kepala Gerald untuk diarahkan dan didekatkan pada layar berukuran tiga puluh dua inch. “Itu potongan kain milik Chloe atau bukan?”
Mata Gerald sedang menelisik, warna kainnya memang terlihat merah muda dan yang menjadi ciri khas adalah terlihat mengkilap. Hanya saja tertutup lumut di beberapa bagian. “Sepertinya itu potongan gaun milik Chloe yang terakhir dia pakai saat pesta.”
“Kalau kalian tak mau membantuku, aku saja yang keluar sendiri.” Gerald tak perlu menunggu para sepupunya itu turun tangan.
Gerald ingin memastikan lebih jelas lagi dengan mengambil potongan kain tersebut. Dia langsung berjalan menuju bagian kapal yang menyimpan peralatan menyelam.
Tanpa banyak bicara, Gerald langsung memakai alat selam tersebut. Termasuk gas oksigen juga.
“Kapan anggota keluarga kita waras semua, ya?” tanya Delavar saat melihat Gerald sudah masuk ke sisi belakang untuk pemisah bagian khusus ruangan beroksigen dan area yang boleh kemasukan air.
__ADS_1
“Maksudmu?” Danesh, Dariush, dan Marvel balik bertanya sembari menatap Delavar.
“Keluarga kita semuanya sudah menjadi budak cinta, tak ada yang waras satu pun kalau sudah menyangkut perasaan,” jelas Delavar.
“Sudah mendarah daging.” Sahut ketiga pria itu.
Mereka pun melihat dari layar bagaimana Gerald menyelam di kedalaman tiga ratus lima puluh meter.
Tidak ada yang membantu Gerald untuk mengambil kain yang bahkan sudah tak berbentuk gaun lagi. Mereka cukup menunggu pria itu kembali.
Dan setelah sepuluh menit berlalu, Gerald nampak kembali masuk ke dalam kapal selam tersebut.
Gerald segera melepas peralatan menyelam setelah air yang terbawa masuk mulai menyusut. Dia pun masuk ke dalam menemui keluarganya seraya membawa kain yang baru saja diambil itu.
...*****...
...Yah, dah koit si Closet? Gak seru amat masa meninggoy, si Kucing jadi bisa memiliki salju abadi dong. Miris kali nasib Edbert...
__ADS_1