
Edbert segera berganti pakaian dan menyambar kunci. Dia menuruni anak tangga yang bukan merupakan tempat tinggalnya.
Langkah kaki yang terlihat buru-buru itu didengar oleh sang pemilik mansion. Papa Danzel mengajukan pertanyaan. “Mau ke mana?”
Suara Tuan Pattinson membuat Edbert berhenti di tengah ruang antara dapur dan ruang keluarga. Ia berbalik menghadap sang pemilik mansion tempat dia tinggal selama satu minggu ini. “Ke perusahaan Cathleen.”
“Untuk apa?” Papa Danzel semakin menginterogasi.
“Memberikan sandaran bahu saat dia rapuh,” jawab Edbert, tak ada penjelasan yang detail dari bibirnya.
Membuat Tuan Pattinson mengerutkan kening karena bingung. “Maksudmu? Apa dia sedang bersedih atau memiliki masalah?”
“Belum tahu tepatnya seperti apa, tapi saat ini aku ingin menemuinya.”
__ADS_1
“Memangnya suami dia di mana? Apa tak bisa menjaga dan merawat anakku dengan benar?” Namanya orang tua, selalu mengkhawatirkan keturunannya.
Edbert mengedikkan bahu. “Aku akan membawa Cathleen pulang ke sini, nanti kau tanya saja sendiri.”
“Ya, ya, pergilah.” Papa Danzel mengibaskan tangan agar Edbert segera menyusul anaknya. Dia melihat punggung Edbert yang kian menjauh. “Entah kenapa aku justru lebih percaya dengan pria itu dibandingkan menantuku sendiri,” gumamnya yang masih belum bisa menerima Gerald sepenuhnya.
Sudah tujuh hari ini Edbert tinggal di mansion Pattinson. Tuan dan Nyonya pemilik tempat tinggal tersebut tak keberatan juga memberikan dia tumpangan. Tentu saja karena Edbert yatim piatu, sehingga Papa Danzel dan Mama Gwen sudah menganggap seperti anak sendiri. Toh Edbert juga berkelakuan baik, ditambah mansion itu mulai sepi setelah dua putri Pattinson menikah, lalu Madhiaz sering ke luar negeri.
Rencana awal Edbert adalah ingin menjaga Tuan dan Nyonya Pattinson agar tetap pro terhadap dirinya. Jadi, saat rencana-rencana berikutnya berjalan, dia ada celah untuk mendapatkan restu tanpa sebuah hambatan.
Edbert memarkir mobil secara asal di depan pintu lobby. Ia segera turun dan berlari masuk menuju lift. Suasana di sana masih sangat sepi, hanya ada satpam yang berjaga dua puluh empat jam saja.
Tidak ada yang menghalangi kedatangan Edbert. Pria bertato banyak itu segera mendorong pintu ruang CEO. Hatinya ikut berdenyut saat menyaksikan orang yang dicintai menangis hingga tersedu-sedu.
__ADS_1
Tidak ada suara yang dikeluarkan oleh Edbert, dia mengayunkan kaki mendekati Cathleen yang tak menyadari kehadiran seseorang karena sedang menunduk.
Tangan Edbert memegang sandaran kursi, ia memutar benda tersebut hingga Cathleen berubah posisi menghadap ke arahnya.
Barulah Cathleen sadar kalau dirinya sudah tak sendirian lagi di dalam ruang kerja. Ia mendongak untuk melihat siapa yang menemaninya. Ternyata mantan kekasih yang sengaja dia tinggalkan.
Sebelum mendapatkan protes, Edbert langsung meraih kepala Cathleen dan mendekatkan tubuh hingga kepala wanita itu nenyandar di perutnya. “Jangan memikul bebanmu sendiri, masih ada aku yang rela kau jadikan sandaran walaupun hanya saat rapuh.” Dia mengusap lembut rambut Cathleen.
Cathleen hendak menolak Edbert, tapi tidak bisa karena pria itu selalu mencegah agar tak menjauh. “Tolong tinggalkan aku sendiri, Ed,” pintanya dengan suara frustasi.
“Cath, apa kau masih takut padaku?” Edbert justru mengajukan pertanyaan, dan dijawab anggukan.
Membuat Edbert menghela napas, tapi tetap pada posisi memberikan pelukan pada Cathleen. “Aku sudah berubah, Sayang, jangan takut. Masa lalu membuatku banyak belajar.”
__ADS_1
...*****...
...Ee pake d bukan k, tolong jangan manis-manis, hatiku tuh mudah goyah, ntar aku jadi pengen memilikimu juga setelah kasih pada Ayang Dariush tak sampai, lalu beku mengejar Gege, maka bisa jadi ku butuh kehangatanmu...