Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 244


__ADS_3

“Cari kesempatan saja kau, Ge!” Geraldine baru saja masuk karena penasaran ingin melihat keponakan barunya. Ia datang langsung mendengar permintaan kembarannya pada Cathleen pun langsung menoyor kepala Gerald.


Rasanya masih sedikit kesal karena kelakuan Gerald di masa lalu yang sulit sekali diberi tahu. Sehingga Geraldine gemas kalau Cathleen mudah luluh dengan pria itu. Meskipun saudara dan kembarannya, tapi kesal juga ketika mengingat perilaku manusia kutub itu sebelum mencair.


“Ck! Mengganggu saja kau itu!” Gerald menepis tangan Geraldine. Gagal lagi dia karena si pengacau datang.


“Kalau Gerald tak mau memberi tahu namanya, biarkan aku saja yang membuatkan nama untuk dua keponakan tampan.” Geraldine sengaja menggeser duduk Gerald supaya menyingkir dari ranjang pasien. Dia yang akan menempatkan pantat di sana. Bukannya benci dengan kembaran sendiri, hanya ingin mengerjai saja.


Gerald menghela napas kasar. “Sepertinya aku harus menunggu ruangan ini sepi baru bisa meminta cium dari wanitaku,” gerutunya sangat pelan.


“Oke, bagaimana kalau ku beri nama anakmu Zavronce Elthansi La Giorgio?” ucap Geraldine seraya mengusap tangan mungil keponakan yang sedang menyusu Cathleen.


“Bagus,” sahut Cathleen.


“Ada artinya tidak?” Tapi berbeda dengan Gerald yang sepertinya tak menunjukkan wajah sepakat.


“Tidak ada, memangnya harus ada artinya? Cukup terdengar bagus dan sulit diucapkan saja supaya tak ada yang menyamai,” jelas Geraldine. Dia juga spontan memberikan nama dan terlintas baru satu detik yang lalu.


Karena tadi ia ditoyor, Gerald balas melakukan hal yang sama pada kembarannya. “Nama yang kau berikan jelek, tak ada filosofinya.”

__ADS_1


Geraldine memutar tubuh sampai menatap pria yang berdiri tegap. “Yasudah, coba sebutkan nama yang kau siapkan, sebagus dan maknanya apa?” tantangnya. Memang paling bisa dia memancing Gerald.


“Rencananya anak pertama akan ku beri nama Faydor Calle Giorgio dan yang kedua Galtero Wagen Giorgio.”


“Tuan yang memikirkan filosofi nama, memangnya apa artinya itu?” Mommy Gabby memberikan tanggapan seperti sedang mengejek anaknya. Tapi ia hanya bercanda saja.


“Faydor Calle Girogio, hadiah dari Tuhan yang lahir di jalan untuk keluarga Giorgio.”


Geraldine tertawa terbahak-bahak. “Kau memberikan nama jalan untuk anakmu? Lucu sekali, lebih bagus yang ku buat.”


“Namanya keren, aku suka.” Supaya tidak membuat Gerald kecewa, Cathleen langsung menyahut diiringi sebuah senyuman. “Kalau yang kedua, apa artinya?”


“Galtero Wagen Giorgio, penguasa kuat yang lahir di dalam mobil untuk keluarga Giorgio.”


“Kau itu protes terus, Cathleen saja suka pemberianku. Lagi pula, Wagen ku ambil dari bahasa Jerman, artinya mobil, bukan brand kendaraan itu,” jelas Gerald diiringi decakan kesal.


“Sudah, jangan bertengkar hanya karena nama. Ini anak Gerald juga, jadi tak apa menggunakan yang sudah disiapkan dia.” Cathleen menengahi perdebatan antar sepasang saudara kembar itu.


Gerald melayangkan senyuman sinis pada Geraldine karena akhirnya ia yang menang.

__ADS_1


“Sepertinya Faydor sudah selesai menyusu,” ucap Cathleen seraya menutup lagi bagian dadanya.


Gerald segera mendekati untuk menggendong anak pertamanya. “Sudah keluar?”


Kepala Cathleen mengangguk. “Ya, meskipun masih sedikit.”


“Tak masalah, nanti kita beli asupan nutrisi untukmu,” sahut Mama Gwen seraya ganti menyerahkan Galtero, anak kedua untuk minum dari sumbernya langsung.


Gerald menggendong anak pertama yang ia bantu keluar ke dunia, menepuk pelan bagian paha supaya tidur nyenyak. Sementara kedua mata terus tertuju pada wanitanya.


Suasana sunyi yang dipenuhi dengan wajah penuh raut gembira itu mendadak bersamaan mencari ke sebuah suara. “Sepertinya ada ponsel yang berdering.”


Geraldine paling dekat dengan sumber suara, dia melihat ke arah layar yang tertera nama Tuan Eleanor. Saat itu juga kedua bola mata mendelik ke arah Gerald. “Kau masih berhubungan dengan Chloe?” Tadinya sudah mau dimaafkan dan berdamai dengan kembarannya karena mulai normal lagi, ternyata masih ada gilanya juga pria satu itu.


“Hanya sebatas bertanya kabar saja, aku tidak pernah datang ke rumah sakit,” jelas Gerald.


Karena rasa penasaran, Geraldine akhirnya mengangkat panggilan tersebut. Sengaja mengaktifkan loudspeaker supaya semua bisa mendengar, dan Cathleen juga terbuka matanya agar tak mudah luluh dengan Gerald, kalau pria itu masih bermain-main dengan manusia bernama Chloe.


Tak ada sapaan yang diberikan, semuanya diam karena mendengar suara tangisan dari si penelepon. “Ge, dokter baru saja menyatakan kalau Chloe meninggal dunia.”

__ADS_1


...*****...


...Akhirnya, kontrak si Closet abis juga, soalnya mau ada si psikopat gila beneran wkwkwk. Satu kuman telah hilang, terganti bakteri dan virus...


__ADS_2