
“Maaf, Bene. Aku tidak bisa datang ke New York.” Cathleen membalas permohonan sekretaris mantan kekasihnya itu dengan sebuah penolakan. Matanya sembari melirik ke arah Gerald yang meringkuk di atas sofa.
“Sebentar saja, Nona, sampai Tuan Edbert sembuh. Tolong bantu saya.” Bene sampai memohon dengan suara yang terdengar sangat menyedihkan seolah hidup Edbert berada diambang kematian.
Cathleen berhenti sejenak, tidak menanggapi. Dia merubah posisi yang awalnya tiduran, lalu berpindah menjadi duduk dan bersandar di head board. “Aku sudah memiliki suami, Bene, tidak bisa seenaknya pulang pergi. Dan hubunganku dengan Edbert juga sudah berakhir.” Sembari tak melepaskan tatapan dari punggung Gerald, dia mencoba menjelaskan situasinya saat ini.
“Saya tahu, Nona. Tapi, apakah Anda tak memiliki belas kasian dengan Tuan Edbert?”
Cathleen terdiam, menggigit bibir bawahnya karena tentu saja dia memiliki rasa iba. Dia adalah orang yang mudah tersentuh hatinya. Tapi, pergi dari kehidupan pria pengekang itu adalah pilihannya, dan kini dirinya pun sudah memiliki suami.
Cathleen menjadi bimbang, bingung antara mau memberikan perhatian pada Edbert atau memilih acuh seolah tidak pernah mendengar kabar sakit mantan kekasihnya. Tapi, Cathleen bukanlah orang yang bisa terlihat masa bodo seperti Gerald, dia wanita yang mudah peduli pada siapa saja.
Sehingga, dengan sisi kemanusiaan serta sedikit sisa rasa di sudut hati Cathleen yang masih tertinggal untuk Edbert, dia pun memutuskan untuk memberikan perhatian dari jauh. Tidak mungkin tega seorang Cathleen membiarkan orang lain sakit parah bahkan sampai kehilangan nyawa karena dirinya.
“Mungkin aku hanya bisa membujuknya makan melalui telepon. Apa tak masalah?” Cathleen memberikan penawaran yang bisa dilakukan saat itu juga.
__ADS_1
Bene tidak langsung menjawab. Dia sedang menunggu tanggapan dari atasannya yang sejak tadi mendengar pembicaraan tersebut.
“Boleh, Nona, kita lakukan panggilan video saja.” Setelah mendapatkan jawaban berupa isyarat dari Tuan Edbert yang meminta untuk video call, Bene pun baru menanggapi penawaran yang diberikan oleh Cathleen.
“Telepon saja, ya? Aku sudah memastikan lampu.”
“Hidupkan saja lampu tidur, Nona. Itu sudah cukup.”
Cathleen menghela napas, tapi akhirnya dia menuruti juga. “Oke.” Dia pun menghidupkan lampu tidur yang menempel di dinding samping ranjang.
“Di mana Edbert?” tanya Cathleen.
Bene tidak menanggapi, cukup mengarahkan layar ke Edbert yang sedang terbujur lemas dengan wajah pucat.
Cathleen langsung menutup mulut hingga hidung saat melihat bagaimana kondisi mantan kekasihnya. Matanya berkaca-kaca saat itu juga. “Ed, kenapa kau menjadi sekurus itu?” Sulit menahan air mata agar tak menerobos keluar. Akhirnya pipinya basah juga.
__ADS_1
Edbert yang melihat wajah Cathleen walaupun dalam pencahayaan yang remang-remang pun mengulas senyum. “Aku merindukanmu, Cath. Apa tak bisa kau kembali padaku?”
Cathleen menutupi kedua matanya menggunakan telapak tangan. Dia tak ingin menunjukkan air matanya yang tiba-tiba meluncur deras setelah melihat kondisi Edbert. Bahkan tenggorokannya terasa tercekat, hingga tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Dan pada akhirnya dia sesegukan.
“Apa aku yang menyebabkan kau menjadi seperti ini?” tanya Cathleen. Dia menggigit bibir bawah agar isakan yang keluar tak semakin keras dan membuat Gerald terganggu.
“Tidak, semua karena aku yang ingin mencari perhatianmu.” Edbert justru menyalahkan diri sendiri, dia tidak pernah menganggap semua yang terjadi dalam hidupnya adalah kesalahan Cathleen, wanita yang sangat dicintai hingga ke sudut hati paling dalam.
...*****...
...Enggak bisa berkomentar apa-apa aku, gak bisa julid juga. Aaaa aku nangis pas nulis part ini. Sedih banget jadi Edbert, dan kezel sama Cathleen....
...*****...
...Sambil nunggu ini up, yuk baca karya temen aku judulnya Salah Nikah oleh author Novi wu...
__ADS_1