
“Tunggu, Pa.” Cathleen mencegah orang tuanya yang akan membawa Gerald pergi. Dia mendekati dua pria itu sebelum mengayunkan kaki.
“Kenapa?” tanya Papa Danzel.
“Kita cek dulu kondisi Gerald, apakah ada yang terluka atau tidak,” ucap Cathleen seraya memegang lengan mantan suaminya untuk dihadapkan ke arahnya.
Gerald tersenyum senang ketika Cathleen menelusuri setiap detail kulitnya. Wanita itu ternyata masih sama, selalu perhatian. Itulah yang membuat dia mulai menyukai mantan istrinya.
“Aku baik-baik saja,” ucap Gerald seraya mengusap puncak kepala Cathleen.
“Kulitmu memerah, dan ada beberapa goresan kecil, kita obati dulu,” ajak Cathleen, tangannya menggandeng pria yang sampai detik ini masih dicintai.
“Nanti saja, ini hanya luka kecil. Aku akan menyelesaikan urusan dengan Papamu terlebih dahulu.”
“Kau yakin?”
Kepala Gerald mengangguk. “Jangan khawatir, aku itu pejuang tangguh,” selorohnya supaya membuat ibu hamil lebih tenang.
__ADS_1
“Baiklah.” Cathleen mengalihkan pandangan pada orang tuanya yang sejak tadi hanya mengamati dengan datar. “Pa, tolong kali ini berikan syarat yang masuk akal,” pintanya dengan sorot mengiba.
Rasanya Cathleen tak tega saat melihat perjuangan Gerald seperti tadi. Ia lebih takut terpisah beda dunia daripada berpisah tempat tinggal.
“Tenang, Papa hanya ingin mengobrol dengannya. Nanti akan ku obati juga luka di kulitnya,” balas Papa Danzel. Ia memberikan isyarat kepala yang di gerakkan ke kiri supaya Gerald segera berjalan mengikuti.
Sebelum meninggalkan Cathleen, Gerald mengusap lembut pipi wanitanya dengan penuh kasih. “Tunggu aku dengan kabar yang baik.”
Kepala Cathleen mengangguk pelan. Matanya memupuk cairan, tapi bukan kesedihan, melainkan rasa haru. Andai saja dalam kehidupan mereka tidak ada wanita bernama Chloe, pasti saat ini sudah hidup dengan bahagia. Tapi, dia harus sadar diri kalau semua terjadi atas kesalahannya.
“Pa, jangan lupa berikan Gerald minum, dia pasti haus karena berjam-jam di atas pohon,” teriak Cathleen.
Lengan Cathleen merasakan jika sedang digandeng oleh seseorang. Membuat reflek mengantarkan kepala menengok ke sebelah kanan. Ternyata Mamanya.
“Ayo masuk, Cath. Mereka butuh waktu untuk berdua, mungkin Papamu ingin lebih meyakinkan diri sebelum memberikan kalian izin,” ajak Mama Gwen.
Cathleen mengangguk, mengayunkan kaki mengikuti Mamanya untuk menuju bangunan utama.
__ADS_1
Papa Danzel sudah duduk berhadapan dengan Gerald di dalam ruang kerja. “Minumlah!” titahnya seraya menunjuk air mineral yang tadi ia bawakan.
Tanpa malu-malu, Gerald langsung meraih gelas tersebut dan meneguk sampai habis. “Boleh ku minta lagi? Aku sangat haus.” Ia masih kurang, tenggorokan belum terasa lega.
Papa Danzel mengulurkan tangan meminta gelas yang ada di genggaman Gerald. “Sini, ku ambilkan.”
“Tidak, aku akan ambil sendiri saja.” Tapi Gerald menolak karena tak mau merepotkan dan sedang menunjukkan kalau ia bisa melakukan semua sendiri tanpa dilayani.
“Di sebelah sana.” Papa Danzel menunjuk kran yang mana bisa langsung dikonsumsi airnya.
“Kita tunda sebentar obrolannya, aku harus menghilangkan dahaga,” pinta Gerald seraya berdiri. Kali ini ia bisa terlihat lebih santai, tidak terkesan kaku ataupun dingin seperti biasanya.
Setelah puas minum empat gelas penuh, Gerald kembali duduk berhadapan dengan mantan mertuanya. Memasang wajah yang serius lagi karena sepertinya obrolan mereka bukan sebuah gurauan.
“Oke, apa tujuanmu membawaku ke sini untuk interview?” tanya Gerald. Dia hanya menebak saja dari gerak gerik Tuan Pattinson.
...*****...
__ADS_1
...Udah kaya ngelamar kerja aja lu Ge di interview wkwkwk open recruitment calon mantu idaman Papa Danzel...