
“Berhenti memikirkan kebahagiaan orang lain! Kau pikirkan saja hidupmu itu!” sentak Edbert. Dia langsung kesal saat Chloe menolak permintaannya. Sialan, berasa sia-sia sudah menyelamatkan wanita itu kalau tak bisa membantu apa pun.
Edbert mengeraskan rahang, mengepalkan tangan karena saat ini ingin menghajar orang. Tapi sebisa mungkin ditahan karena mengingat Cathleen tidak menyukai kalau dirinya kasar pada orang lain.
Membalikkan tubuh, Edbert berusaha meredam emosi dengan tak menatap wajah Chloe yang lemah tapi berhasil membuat amarahnya memuncak. “Jangan bodoh! Umurmu tak akan lama, dokter mengatakan kalau kau tidak pernah bisa kembali normal. Racun sudah menguasai tubuhmu, cepat atau lambat, kau akan kembali pada Tuhan.”
Mendengar penjelasan tentang kesehatannya, Chloe tentu saja sedih. Dia sudah menghirup udara bebas, tapi ternyata tak ada kehidupan normal lagi.
“Daripada menangis, lebih baik kau pikirkan saja tawaranku! Setidaknya kau bisa merasakan bahagia sebelum mati, kalau menerima dan bersedia melakukan rencanaku.” Edbert tidak ingin membuang waktu di sana. “Ku beri waktu satu menit untuk mengambil keputusan.”
Setelah emosinya menurun, Edbert baru membalikkan badan lagi, menatap Chloe dengan mata yang mendelik. “Pikirkan baik-baik.”
“Bagaimana jika aku tetap menolak?”
__ADS_1
“Kau akan ku kembalikan ke sahabatmu yang gila itu.”
“Gretta?”
“Ya! Asal kau tahu saja, dia akan menguliti wajahmu untuk ditukar dengan wajahnya. Pada akhirnya kau juga tetap akan mati. Hanya saja dengan cara dan kondisi yang berbeda.”
Edbert tidak memikirkan bagaimana perasaan Chloe mendengar setiap kalimat yang mengerikan itu. Dia hanya ingin menekan agar wanita itu menerima dan bisa diajak bekerjasama.
Edbert terus melihat jarum jam yang berputar di pergelangan tangannya. “Waktumu tersisa tiga puluh detik lagi.”
“Waktumu habis.” Edbert menyilangkan kedua tangan di dada dan menatap Chloe dengan angkuh. “Jadi, apa keputusanmu?”
Chloe memejamkan mata sejenak. Bukan hanya Gerald yang ia pikirkan, tapi keluarganya. Pasti selama ini orang tuanya sedih dan khawatir. “Oke, aku akan menerima tawaranmu. Tapi kau harus mengembalikan aku pada keluargaku.”
__ADS_1
“Good.” Edbert menepuk kepala Chloe, mendekatkan wajahnya untuk memberikan ancaman agar wanita itu tak mempermainkan dirinya. “Lusa kita berangkat ke Helsinki, jangan pernah kau berpikir untuk mengacaukan rencanaku! Orang suruhanku akan mengawasimu selama dua puluh empat jam!”
Edbert menegakkan tubuh lagi. Mengibaskan tangan yang tadi memegang Chloe seakan-akan ia menghilangkan kotoran. “Kita akan sama-sama diuntungkan jika ini berhasil. Aku mendapatkan wanita yang ku cintai lagi, dan kau merasakan kebebasan serta kebahagiaan sebelum mati.”
Urusan Edbert dengan Chloe sudah selesai. Dia langsung meninggalkan ruangan itu, menyisakan agen rahasia yang menjaga wanita tak berdaya tersebut.
...........
Hari keberangkatan Edbert ke Helsinki pun tiba juga. Dia tak pergi bersama Chloe saja, tapi membawa agen rahasia yang sudah dibayar mahal, Bene, dokter agar memastikan kondisi Chloe tetap stabil, dan beberapa pengawal.
“Sabar, Cathleen, Sayangku, sebentar lagi kau pasti akan kembali lagi ke dalam pelukanku. Aku janji akan berubah,” gumam Edbert pada foto yang tengah ia pandangi.
...*****...
__ADS_1
...Ayo Ed, keluarkan semua sisi gilamu, jangan tanggung-tanggung menghancurkan lawan. Tumbangkan Gege dan Keket, rebut cintamu, niscaya kau belum tentu bahagia wkwkwk...