
Setelah selesai merubah warna, gaya, dan panjang rambut Cathleen, wanita itu segera masuk ke dalam ruang ganti untuk memakai gaun yang diberikan oleh Gerald.
Cathleen melihat penampilan dirinya di cermin besar. Rambut pirang, panjang hampir menyentuh pinggang, sedikit bergelombang, lalu dress berwarna merah, tak lupa polesan make up yang membuat wajah terlihat sedikit tirus.
Berkali-kali Cathleen merasa tak nyaman dengan penampilannya saat ini. Tapi dia sendiri tak tahu kenapa bisa seperti itu. “Seperti bukan diriku sendiri,” gumamnya.
Jujur, Cathleen merasa aneh dengan sosoknya saat ini. Tapi, awal hubungan baik dengan Gerald baru dimulai dan sedang bagus-bagusnya. “Sudahlah, setidaknya suamiku senang melihat aku yang seperti ini. Toh dia sudah memintaku menolak kalau tak suka, tapi aku tetap lanjut.”
Cathleen pun segera keluar dari ruang ganti. Ia langsung disambut dengan senyuman Gerald yang tak disadari sedang menunjukkan sebuah kerinduan.
“Kau sangat cantik seperti biasanya, Sayang.” Gerald berdiri menghampiri Cathleen. Tangan tiba-tiba melingkar di pinggul sang istri dan mengecup pelipis.
Mendapatkan pujian atas penampilannya, Cathleen menjadi lebih percaya diri. Padahal tadi sempat takut kalau terlihat jelek. “Ini semua karena kau yang menjadi stylists.”
“Kita berangkat sekarang,” ajak Gerald. Tanpa mengurai tangan yang bersemayam pada pinggul Cathleen, dia mengayunkan kaki supaya diikuti oleh sang istri.
“Wait, aku belum membayar tagihan salonnya.” Namun tiba-tiba Cathleen menghentikan pergerakan mereka. Ingat kalau Gerald pengangguran, pelit, dan perhitungan.
“Tidak perlu, salonnya gratis,” tutur Gerald. Membuat Cathleen melongo.
__ADS_1
“Memangnya mereka pekerja sosial yang memberikan layanan gratis pada masyarakat,” timpal Cathleen, tidak percaya dan menganggap ucapan Gerald hanya sebuah candaan.
“Kau tanya saja padanya.” Gerald menunjuk orang yang sudah merubah penampilan Cathleen.
Cathleen memutar tubuh hingga menghadap ke wanita jadi-jadian. “Apakah benar semua ini gratis?”
“Benar, Nona. Khusus untuk pasangan memang layanan kami tidak memungut biaya.” Padahal itu semua akal-akalan Gerald saja yang tak mau menunjukkan sisi loyalnya.
Cathleen masih melongo seakan tak percaya. Biasanya kalau ada promo atau diskon, pasti ada pamfletnya.
“Sudahlah, kau itu terlalu overthinking orangnya.” Gerald sedikit menarik tubuh Cathleen agar segera keluar dari salon.
“Kau mau mengajakku menonton pertandingan?” tanya Cathleen.
“Tidak ada pertandingan, aku hanya tak tahu ke mana enaknya berkencan. Tapi, karena aku suka suasana sepi, maka ku putuskan untuk membawamu ke lapangan saja,” jelas Gerald. Oh sungguh malang sekali nasib Cathleen memiliki suami yang tak romantis seperti dia.
Tapi, Cathleen tidak merasa keberatan dengan kesederhanaan sang suami. Ingin memahami juga kalau Gerald memang orang yang pelit. Padahal, dia tak tahu saja kalau pria itu menyewa lapangan sepak bola untuk semalam. Dia pikir, masuk ke sana gratis kalau sedang tak digunakan untuk pertandingan.
Gerald segera turun, kali ini dia membukakan pintu untuk Cathleen. “Ayo.” Uluran tangan pun langsung dibalas oleh sang istri.
__ADS_1
Sepasang suami istri itu berjalan berdampingan memasuki area rerumputan hijau. Di tengah lapangan tersebut sudah ada sebuah tikar dan beberapa makanan yang tersaji.
“Kau yang menyiapkan semua ini?” Cathleen menatap tak percaya kalau Gerald mau direpotkan dengan persiapan kencan.
“Tentu saja, untuk memperingati hari pernikahan kita yang ke lima bulan.” Gerald duduk di atas tikar seraya menarik tangan Cathleen agar ikut juga.
Terlalu banyak hal-hal mengejutkan hari ini. “Kau ingat tanggal pernikahan kita?”
“Tentu saja.” Sembari menjawab, Gerald mengeluarkan ponsel. “Kita foto berdua, mau?” Dia memberikan penawaran tapi sudah membuka kamera.
“Boleh, sebagai kenang-kenangan. Sejak menikah, kita belum memiliki foto berdua.” Cathleen kian mendekatkan tubuh ke Gerald.
Tangan Gerald merangkul Cathleen. Tidak ada gaya yang berlebihan, hanya tersenyum saja. Dan satu foto yang diambil dari kamera depan pun sudah tersimpan di galeri.
Gerald langsung melihat hasil jepretan dari ponsel dan tangannya. Ia tersenyum saat melihat wajah, gaya rambut, dan pakaian Cathleen. “Kau persis seperti Chloe,” ucapnya sangat lirih.
...*****...
...Sumpah ya Cing, aku bakalan ngatain kamu b-o-d-o-h BODOH! pokoknya segala sumpah serapah bakalan aku umpatin ke telingamu sekenceng mukin, kalo perlu pinjem toa apa sound yang kemaren buat hajatan tetangga biar kamu itu pikirannya gak blo’on dan mudah terpedaya sama Gerald. Kalo sampe kamu pasrah dan diem aja disama-samain kaya gitu, entah kamu denger atau belagak tuli, ku tendang kau ke laut! Please, cinta boleh, tapi begonya jangan keterlaluan juga...
__ADS_1
...Othornya marah-marah mulu, iya, kan aku mah kaya Gerald cintaku, enggak perlu bermuka dua untuk dianggap baik di mata orang eaaaa ... jodoh kan tuh aku sama Gege, makanya Cathleen minggir aja, pelakor mau masuk...