
“Kenapa sampai mengorbankan kesehatanmu? Jangan seperti itu, Ed. Aku jadi merasa bersalah karena membuatmu sampai sakit dan kurus.” Cathleen berbicara dengan suara lirih diiringi isakan yang menunjukkan rasa prihatin terhadap kondisi mantan kekasihnya saat ini.
“Jangan menangis, Sayang. Ini bukan salahmu, aku seperti ini karena keinginanku sendiri. Memang sengaja tak makan selama satu bulan penuh, hanya minum, semua ku lakukan karena rindu perhatianmu.” Di wajah sangarnya, Edbert mencetak sebuah senyum supaya Cathleen berhenti menyalahkan diri.
“Makan, Ed, agar kau cepat sembuh,” bujuk Cathleen. Ah matanya yang berkaca-kaca tak bisa hilang begitu saja.
Cathleen tak bisa sepenuhnya acuh dengan kondisi Edbert. Dia memang ingin pergi dari hidup pria pengekang itu, tapi tak tega juga saat melihat mantan kekasihnya yang sekarang nampak tak terurus.
“Aku ingin disuapi olehmu, kau ke New York, ya? Atau aku yang datang ke Finlandia? Please.” Edbert sampai memohon. Padahal dia bisa saja berlaku sesuka hati seperti dahulu. Tapi, sekretarisnya sudah mengingatkan sebelum panggilan tersambung, supaya Edbert tak menunjukkan sifat pemaksa untuk mengambil hati Cathleen lagi. Maka, dia mengesampingkan sisi buruk terlebih dahulu. Walaupun saat ini dia sangat ingin langsung datang ke tempat Cathleen dan menculik wanita itu untuk disekap.
“Aku tak bisa datang ke sana, Ed. Ini sudah malam. Kau sudah dewasa, makan sendiri, ya?” Cathleen terus berusaha membujuk dengan suaranya yang lembut, meskipun masih ada sedikit irama sesegukan yang belum hilang total.
Edbert memasang wajah sedih. “Tidak enak jika makan sendiri, aku terbiasa makan ditemani olehmu.”
__ADS_1
“Sekarang makan disuapi Bene, aku temani dari sini seperti dahulu saat kita terpisah jarak,” cetus Cathleen.
“Jangan matikan panggilannya, aku ingin terus melihat wajahmu,” pinta Edbert.
“Iya.”
Akhirnya, Cathleen pun berhasil membujuk Edbert untuk makan. Pria dengan banyak tato itu terlihat makan dengan tangan sendiri dan terus mengulas senyum setiap kali memandang wajah Cathleen walaupun dari layar kecil.
“Sudah habis?” tanya Cathleen setelah Edbert terlihat meneguk air mineral.
“Good, besok jangan sampai telat makan lagi, oke?” Cathleen menunjukkan jempol kanan ke arah layar. Dia seperti seorang ibu yang sedang memuji anaknya yang pintar menghabiskan makanan.
“Sudah malam, aku tidur dulu, ya? Kau juga istirahat agar cepat sembuh. Harus makan setiap hari, jangan sampai lupa, oke?” Cathleen menaikkan kelingking kanan hingga memenuhi layar yang dilihat oleh Edbert. Dia ingin mengajak Edbert untuk berjanji memenuhi nasihatnya tersebut.
__ADS_1
“Aku mau makan asalkan kau menemaniku,” tawar Edbert.
“Ed, hubungan kita sudah berakhir, mulailah kehidupan baru. Aku tak bisa terus menemanimu seperti dulu. Sekarang aku sudah memiliki suami.” Cathleen mencoba memberikan penjelasan agar Edbert bisa memahami situasi mereka yang sudah tak seperti dahulu.
“Tapi aku masih mencintaimu, Sayang, perasaanku tidak pernah pudar sedikit pun,” sanggah Edbert yang masih ingin mempertahankan hubungannya dengan Cathleen.
Cathleen mengulas senyum. Andai Edbert selembut dan semanis ini setiap hari, pasti dia tak akan kabur dari pria itu. Tapi, emosi mantan kekasihnya sangat tak teratur, bisa mendadak marah. “Aku tutup teleponnya, ya? Aku mau tidur.”
“Aku masih ing—” Edbert belum sempat menyelesaikan ucapannya, tapi wajah Cathleen sudah tak terlihat.
Pyar!
Tiba-tiba Edbert membanting ponsel milik sekretarisnya hingga layar pecah. “Gerald sialan! Andai dia menolak saat pernikahan, pasti Cathleen masih menjadi milikku!”
__ADS_1
...*****...
...Heh asem, sia-sia air mataku keluar di part sebelumnya. Ku pikir kau sudah berubah Ed, ternyata sama aja. Menyesal aku sudah menangisimu Ed!...