
Gerald sudah berdiri di depan pohon yang memiliki nama latin Eucalyptus diversicolor. Ia mendongak ke atas memperkirakan tinggi tumbuhan hidup tersebut. Sepertinya bukan sekedar sepuluh atau dua puluh meter, tapi lebih.
“Pohon ini sudah tumbuh sejak pertama kali aku membangun mansion, artinya dari Cathleen kecil. Tingginya mencapai enam puluh lima meter,” beri tahu Papa Danzel. Dia membiarkan Gerald untuk memikirkan ulang tantangannya.
Memang ini tidak ada kaitan dengan hubungan putrinya. Tapi menurut Tuan Pattinson, ini salah satu cara melihat kesungguhan pria itu yaitu dengan melawan hal yang tidak bisa dilakukan demi mendapatkan izin. Kalau memang yakin dan bersungguh-sungguh, pasti akan belajar.
Gerald menelan saliva, meskipun wajahnya tetap nampak datar saja. ‘Gila, siapa yang bisa memanjat setinggi itu,’ gumamnya dalam hati. Ia menghela napas pelan, menimbang apakah sanggup atau tidak. ‘Permainan di dunia nyata ternyata sulit juga.’
“Bagaimana? Apa kau masih ingin melanjutkan atau menyerah? Silahkan dipikirkan,” ucap Papa Danzel.
“Akan ku lakukan.” Gerald tidak mundur sedikit pun, dia harus maju terus, sudah sampai tahap ini juga. Sayang sekali kalau menyerah hanya karena ia belum pernah mencoba memanjat pohon.
“Silahkan.” Papa Danzel bergeser, memberikan jalan pada Gerald untuk lebih mendekat ke arah pohon.
“Aku harus memanjat minimal berapa meter?” tanya Gerald seraya melepaskan jaket kulitnya.
__ADS_1
“Sampai atas.”
“Oke, berikan pengamanan yang memadahi, aku tak ingin mempertaruhkan nyawa hanya demi naik pohon. Jika aku mati, sama saja sia-sia, aku tak akan bisa hidup bersama dengan putrimu.” Kini Gerald tahu apa yang dirasakan oleh sepupunya hingga sampai terjadi kecelakaan. Ternyata memang syarat yang diberikan oleh mantan mertuanya itu sungguh tak masuk akal. Tapi, tetap saja mulutnya tak bisa menolak karena dia ingin membuktikan kalau memang serius.
“Aman, aku sudah menyiapkan matras tiga lapis yang akan melingkari pohon, dan trampolin di bagian luar. Jika kau hendak terjatuh, tolong perhatikan tempat mendaratmu.”
Gerald melihat beberapa pelayan memang sedang membawakan benda yang baru saja disebutkan oleh Tuan Pattinson. Sepertinya dia bukan sekedar diuji keberanian saja, tapi ketepatan dalam menganalisis saat situasi genting.
Tangan Gerald hendak membuang asal jaketnya, tapi Cathleen sudah memberikan tawaran. “Biar ku bawakan.”
Cathleen melemparkan senyuman seperti yang diminta oleh Gerald. “Jangan mempertaruhkan nyawamu, turunlah jika dirasa sudah tak sanggup.”
Gerald tak kuat menahan diri. Dia harus menambah energi terlebih dahulu. Kakinya terayun menjauhi pohon, tapi mendekati wanitanya. Tangan terulur mengusap pipi Cathleen dengan sangat lembut.
“Kau ingin aku berhasil melakukan tantangan dari Papamu atau tidak?” tanya Gerald. Semangatnya tergantung bagaimana keinginan Cathleen. Percuma juga kalau ia sudah berjuang tapi wanita itu justru menginginkan sebaliknya.
__ADS_1
Cathleen mengangguk. “Ya, tapi aku lebih ingin kau tetap selamat.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak ingin anak-anak kehilangan Daddynya.”
“Bagaimana dengan kau? Apa kau juga tak ingin kehilangan aku?”
Kepala Cathleen mengangguk. “Maka berhati-hatilah.”
Wajah datar Gerald mulai terukir senyum. “Aku bisa melakukan keduanya untukmu.” Ia mengecup kening Cathleen untuk sesaat. Lalu sedikit berjongkok hingga kepala sejajar dengan perut buncit wanita itu. “Demi bisa selalu bersama kalian, Daddy rela melakukan hal yang baru pertama kali akan ku lakukan.” Bibirnya maju kedepan untuk mencium anak-anaknya.
...*****...
...Panjat sosial aja Ge lebih gampang, daripada manjat pohon. Kalo pansos kan jatoh cuma dapet hujatan, la jatoh dari pohon bisa meninggoy. Berabe lagi gue harus siapin peti emas dan ngelayat ampe Finlandia...
__ADS_1