
Edbert pikir, agen rahasia yang ia sewa tak akan mengangkat panggilan karena sudah dihabisi oleh si psikopat Gretta. Tapi, ternyata ada suara yang menyahut terdengar dari ponsel tersebut.
“Ya, Tuan?” Agen rahasia yang sampai sekarang tak pernah mau memberitahukan nama pun langsung menyapa.
Edbert terkejut, nyatanya orang bayarannya masih hidup. “Bukankah kau tertangkap oleh mafia yang melindungi Gretta?”
“Ya, tapi aku berhasil kabur.”
Edbert menghela napas lega. “Sekarang kau di mana?”
“Sudah kembali ke New York.”
“Mendapatkan informasi baru?”
“Ya.”
“Laporan padaku, sekarang!” titah Edbert. Dia harus mengetahui seluruh progress tentang Gretta sebelum agen rahasia itu dilenyapkan oleh para mafia kelas kakap, karena sampai detik ini sindikat tersebut selalu berhasil dari jeratan polisi.
“Ini dari yang aku dengar saat menyamar jadi anggota mereka, sebelum ketahuan.”
“Hm, lanjut.” Edbert tersenyum saat Cathleen melihat ke arahnya. Tapi telinga terus tajam mendengarkan apa yang akan disampaikan.
__ADS_1
“Gretta menempatkan orangnya di dekat Cathleen, tapi aku tak tahu dalam bentuk apa, yang pasti hati-hati karena ancaman itu pasti sangat dekat.”
“Lalu, bagaimana dengan Gretta? Penampilan barunya seperti apa?”
“Fotonya akan ku kirim padamu. Selama ini dia tak muncul karena masih proses pemulihan setelah operasi plastik.”
“Oke, ku tunggu.” Edbert mengakhiri panggilan tersebut. Memasukkan ponsel ke dalam saku.
Sembari tersenyum ke arah Cathleen yang melihatnya seperti penasaran, ia waspada ke area sekitar, memastikan apakah ada yang mencurigakan atau tidak di dalam mansion itu.
“Cath, bawa perlengkapan Faydor dan Galtero,” ucap Edbert saat kakinya berhenti tepat di samping wanita itu.
“Untuk apa?”
“Oke, tunggu sebentar.” Cathleen tidak mau banyak tanya, pasti yang dilakukan oleh Edbert adalah terbaik untuknya.
“Hei, jangan ke atas sendiri, aku akan temani.” Edbert menghentikan Cathleen yang langsung mengayunkan kaki. Dia memberikan Faydor untuk digendong wanita itu, sementara ia membawa Galtero.
Edbert duduk di karpet lembut yang ada di ruang bayi, menanti Cathleen selesai mengemasi barang-barang anaknya.
“Bawa seperlunya saja,” ucap Edbert.
__ADS_1
“Iya, ini sudah selesai.” Cathleen menyampirkan tas di pundak kanan dan menggendong Faydor lagi.
Tapi, Edbert yang sedang mendekap Galtero pun menarik tas tersebut. “Biar aku yang bawa, ayo kau jalan dulu.”
Cathleen mengayunkan kaki mendahului, sedangkan Edbert selalu waspada ke sekitar, siapa tahu ada tanda-tanda orang yang membahayakan.
Edbert tak lupa membawa car seat baby untuk dua keponakannya duduk sendiri. Membiarkan Cathleen di belakang bersama dua bocah mungil itu. Dan ia seorang diri depan.
Ketika Edbert melajukan kendaraan, ia melihat ada seorang pelayan sedang membawa plastik sampah dan terus menatap ke arah kepergian mobilnya.
Mata Edbert tidak pernah lepas dari orang itu, ia memantau dari spion. Sedang memastikan apakah itu atau bukan mata-mata Gretta.
“Tak ada yang mencurigakan,” gumam Edbert saat pelayan tadi ternyata hanya ingin menyeberang tapi menanti mobilnya lewat.
“Siapa?” tanya Cathleen sangat penasaran, ia lalu menengok ke belakang untuk mencari tahu sendiri.
“Pelayan tadi.”
“Oh, itu saudara dari pelayan mansion yang sedang izin pulang. Jadi, dia sementara menggantikan, orangnya baik, cekatan, dan ramah.”
...*****...
__ADS_1
...Libur julid ah, gak ada yang bisa dijulidin soalnya...