
Cathleen segera turun dari mobil saat kendaraan tersebut sudah berhenti di depan sebuah apotik. Ia masuk seorang diri ke tempat yang menjual obat dan alat untuk kesehatan. Tak mau merepotkan supir yang hari ini terakhir bekerja padanya. Toh, ini untuk suaminya juga.
“Ada yang bisa dibantu, Nona?” sapa apoteker yang siap melayani pembeli.
“Aku mau membeli obat untuk luka lebam karena berkelahi, apakah ada?”
“Tentu saja ada, Nona. Apakah lukanya sangat parah? Sampai nyeri atau hanya memar saja?”
Cathleen menaikkan kedua alis, bingung hendak menjawab apa. Sebab, yang merasakan semua itu adalah suami barunya. “Berikan saja semua.”
“Baik, tunggu sebentar.”
Apoteker itu terlihat membungkukkan badan, mencari obat yang diperlukan. Sedangkan Cathleen tetap berdiri di depan etalase.
Tak lama kemudian, apoteker itu menyembul dari bawah, meletakkan beberapa obat, mulai pil sampai salep.
“Ini untuk mengobati lebam dari luar, bisa diolesi salep.” Orang tersebut menyodorkan obat yang dimaksud. “Jika mengalami nyeri, berikan pil ini sebagai pereda.” Apoteker itu memberikan obat satunya.
“Mana yang lebih bagus?” tanya Cathleen. Sebab, ada beberapa obat dengan kegunaan sama yang ditunjukkan padanya.
__ADS_1
“Ini dan ini, Nona. Tapi harganya lebih mahal.” Apoteker itu menunjukkan obat sesuai kriteria yang diminta.
“Ya, aku ambil itu, yang terbagus dan bisa cepat menyembuhkan.” Cathleen ikut saja saran yang diberikan. Toh ia tak terlalu paham tentang kesehatan.
“Baik, silahkan membayar di kasir.” Orang yang melayani Cathleen pun mengarahkan supaya berpindah ke bagian khusus pembayaran. Ia menyerahkan obat-obatan tersebut ke rekannya untuk ditotal.
“Semua jadi tiga puluh lima euro, Nona,” ucap petugas kasir.
“Oke.” Cathleen segera mambayar menggunakan uang cash.
Setelah mendapatkan kembalian dan juga obat yang dicari, Cathleen pun kembali ke mobil. “Jalan, Sir.”
Cathleen menepuk jidat karena ia sendiri juga tak tahu di mana tempat tinggal Gerald. Sebab, ia menilai dari minggu lalu saat datang ke mansion Giorgio, Gerald pernah mengatakan akan kembali ke apartemen. Jadi, ia bisa menyimpulkan kalau suaminya tinggal terpisah dari keluarga.
Benar-benar suami istri yang aneh, biasanya pengantin baru pasti tahu setidaknya sedikit saja tentang pasangannya. Tapi maklum saja karena memang pernikahan mereka bukan dilandasi sebuah cinta yang kokoh, dan belum saling mengenal satu sama lain.
“Jalan saja, Sir. Aku akan bertanya terlebih dahulu. Jika sudah ada alamatnya, akan ku beri tahu,” ucap Cathleen seraya mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Geraldine.
“Baik.”
__ADS_1
Kendaraan roda empat milik Cathleen pun melaju dengan kecepatan sedang. Dan anak Tuan Pattinson yang baru saja menikah itu segera menelepon Geraldine.
“Ya, Cath?” sapa Geraldine. Untung saja ia cepat mengangkat, jadi Cathleen tidak perlu mengulangi panggilan.
“Boleh aku bertanya dan meminta sesuatu?” Penuturan Cathleen terlontar dengan suara sangat lembut.
“Katakan saja.”
“Em ... maaf, aku ingin pulang, tapi tak tahu di mana tempat tinggal Gerald. Sepertinya dia tak tinggal di mansion keluarga kalian.”
“Oh, apartemen Casa Grande lantai teratas.” Geraldine sangat enteng memberitahukan tempat tinggal kembarannya. Ia tidak peduli kalau Gerald akan marah dengannya yang lancang.
“Maksudmu di rooftop?” celetuk Cathleen dengan sangat polos.
“Ck! Bukan di situ juga, Cathleen! Lantai di bawahnya rooftop.” Geraldine sampai berdecak gemas mendengar jawaban saudara iparnya.
“Maaf, aku tahunya lantai teratas itu rooftop.”
...*****...
__ADS_1
...Mbuh Cath, mbuh. Bengek aku menghadapi kamu. Bisa-bisanya Gerald disangka tinggal di rooftop. Walaupun ada benernya juga sih kalo lantai teratas itu rooftop. Tapi ya gak gitu konsepnya *emot nangis*...