
Karena sudah tak ada yang ingin dibeli lagi, trolley juga telah penuh dengan barang belanjaan, Gerald dan Cathleen pun menuju ke kasir. Kebetulan, supermarket itu ada yang menerapkan self service, scan barcode dan membayar tanpa bantuan petugas. Gerald memilih untuk di sana, daripada mengantri lama di kasir yang dibantu oleh karyawan supermarket untuk proses pembayaran tunai.
Sebelum melakukan scan barcode, Gerald menyadari kalau belum membawa tas belanja. “Tunggu di sini sebentar, aku akan mengambil tas untuk membawa barang-barang ini,” ucapnya seraya ingin bergegas menuju samping kasir terujung yang menyediakan tas belanja.
Tapi, tangan Cathleen melingkar di pergelangan sang suami sebelum Gerald meninggalkannya. “Tidak perlu, aku selalu membawa di dalam tasku,” cegahnya.
“Kenapa kau tak bilang sejak tadi,” protes Gerald. Dia mengurungkan niat dan kembali pada posisi.
“Aku baru mau mengeluarkan, tapi kau sudah bersemangat sekali ingin membeli tas belanja,” balas Cathleen seraya mengeluarkan dua kantung besar yang dilipat kecil, biasa dia gunakan saat berbelanja.
“Ku pikir kau tak bawa, jadi aku ingin membeli saja daripada harus pulang atau dirumitkan dengan membawa barang-barang ini menggunakan tangan.” Salah satu sifat yang belum pudar dari seorang Gerald, tidak mau disalahkan atau terlihat salah. Tapi, pria itu tetap sembari melakukan scan barcode seluruh barang belanjaan dan langsung dimasukkan ke dalam kantung.
__ADS_1
“Iya, iya, aku yang salah karena tak langsung memberi tahu.” Seperti itulah Cathleen, lebih baik mengalah daripada berakhir panjang urusannya. Dia ikut membantu dengan mengambilkan barang dari trolley untuk diberikan pada Gerald.
Secara tak disadari, mereka tengah melakukan kerja sama yang sederhana. Tidak membebankan suatu pekerjaan pada sebelah pihak, namun mereka saling melengkapi agar waktu lebih efektif juga.
Perdebatan kecil mereka tidak berlanjut karena sedang fokus pada setumpuk barang-barang yang belum discan.
Sampai akhirnya semua sudah tuntas dan total harga yang perlu dibayar pun terlihat jelas di monitor, barulah Gerald mengeluarkan suara. “Totalnya tujuh ratus lima puluh euro,” beritahunya seperti seorang penjaga kasir yang tengah meminta pembayaran.
“Sudah dibayar, ya, Sir,” kelakarnya sembari memasukkan lagi kartu debit ke dalam dompet.
“Biar aku yang membawa belanjanya.” Gerald langsung menggenggamkan tangan ke dua kantung besar tersebut. Dia tahu itu berat, maka sebagai seorang pria, harus berinisiatif membawakan karena orang seperti Cathleen sepertinya sungkan untuk meminta pertolongan.
__ADS_1
“Itu berat, aku sudah biasa membawa sendiri.” Sembari berjalan menuju tempat parkir, Cathleen berusaha mengambil alih salah satu kantung untuk dia bawa.
“Sudahlah, dibuat hidup tak susah, kenapa kau menolak.” Namun Gerald tidak memberikan izin. Tetap dia yang membawa hingga ke mobil, bahkan sampai masuk ke dalam bagasi juga.
“Aku belum terbiasa saja dibantu olehmu.” Cathleen membalas saat tubuh mulai masuk ke dalam mobil.
Gerald tidak menanggapi lagi, tangannya cukup mengacak-acak rambut Cathleen saat keduanya telah berada di dalam mobil.
Cathleen tak pernah protes jika tatanan rambut dihancurkan oleh suami. Justru hati pun ikut porak poranda karena Gerald selalu mengulas senyum ketika melakukan hal tersebut. Senyum yang ternyata sangat manis jika diperhatikan secara jelas.
...*****...
__ADS_1
...Manis sih manis, tapi kalo laki benalu begitu buat apa Cing? Masa belanja mingguan bayar pake duitmu sendiri sih hadehhhh kebangetan bener si Gege nih. Sangat tidak cocok menjadi suami, bintang nol...