
Mendengar suara Geraldine yang menuduh dirinya, Gerald hanya menjawab dengan kedikan bahu. Bahkan dia tidak peduli kalau saat ini sedang menjadi pusat perhatian semua orang. Justru pria yang sedang merebahkan diri di atas rumput dengan jarak lima meter dari sekumpulan orang-orang itu pun sedang asyik bermain game. Dimanapun dan kapanpun, selalu saja game yang nomor satu.
“Kau itu sungguh keterlaluan!” seru Geraldine. Dia hendak berdiri untuk menggeplak kepala kembarannya agar sedikit lebih pintar lagi dan tak menyia-nyiakan wanita seperti Cathleen yang nampak sangat sabar menghadapi Gerald. Jujur, dibandingkan kekasih kembarannya, dia lebih suka Gerald bersama dengan Cathleen daripada Chloe.
Tapi, belum sempat Cathleen berhasil seratus persen berdiri, Alceena sudah terlebih dahulu berjalan dengan mengepalkan tangan ke arah Gerald.
Jelas Alceena terlihat sangat marah ketika mengetahui kalau saudari kembarnya mendapatkan perlakuan tak baik. Jika dia menghadapi masalah sendiri dengan elegan, tapi tidak berlaku kalau Cathleen yang diusik. Kebar-barannya seketika itu juga menggebu ingin segera disalurkan.
Alceena sangat marah. Bukan hanya karena Cathleen datang dengan mulut dilakban, tapi juga Gerald yang acuh ketika ditanya tentang kembarannya. Menunjukkan kalau tidak ada antusias.
Tangan Alceena langsung merebut paksa ponsel yang membuat Gerald tidak memperhatikan orang disekitar. Dan langsung mendapatkan pelototan oleh pria itu.
__ADS_1
“Kembalikan ponselku!” titah Gerald dengan suara penuh penekanan.
Baik Gerald dan Alceena, mereka sama-sama terlihat emosi. “Apa yang kau lakukan pada Cathleen, ha?! Kau menyiksanya?”
“Ck! Kau tanya saja pada orang yang bersangkutan sendiri.” Gerald menarik paksa tangan Alceena dan merebut kembali ponselnya.
Alceena rasanya gemas sekali menghadapi pria acuh seperti itu. Dia melotot seraya mencengkeram kedua pipi Gerald. “Ku peringatkan padamu, jangan pernah kau sakiti hati maupun fisik kembaranku!”
“Gerald tidak menyakitiku, Ceena. Aku sendiri yang menutupi bibir dengan lakban supaya tak banyak bicara. Dia tak salah apa pun,” jelas Cathleen saat berhasil menjauhkan kembarannya dari sang suami.
Cathleen tidak menyangka kalau lakban yang sengaja ditempelkan kembali supaya membungkam bibir agar tak kelepasan berbicara banyak, justru menjadi petaka untuk suaminya. Dia jadi tak enak hati karena akibat kecerobohan tersebut, Gerald menjadi sasaran kemarahan banyak orang.
__ADS_1
Mood Gerald langsung buruk saat itu juga. Dia tanpa pamit beranjak pergi dari area taman tersebut.
Cathleen menundukkan kepala saat melihat Gerald seperti sangat marah. Ada lelehan air mata yang meluncur dari balik kelopak mata.
“Maaf jika sudah mengacaukan acara ini. Aku tidak bermaksud membuat pertikaian karena salah paham. Awalnya aku hanya ingin membatasi diri supaya tak banyak bicara, karena Gerald selalu mengeluh pusing jika aku berisik.” Agar suaminya tidak mendapatkan tuduhan buruk, Cathleen pun mencoba menjelaskan.
Sejelek-jeleknya orang lain menilai Gerald, tapi bagi Cathleen pria itu tetaplah sosok yang bertanggung jawab dan perhatian. Walaupun dengan cara yang berbeda karena Gerald adalah pria yang dingin dan kaku.
“Bukan salahmu. Gerald yang keterlaluan karena tidak sopan saat diajak bicara, apa lagi dalam suasana berkumpul seperti ini. Wajar kalau Alceena sampai marah seperti tadi,” ucap Dariush membela istrinya. Dia menggandeng Mommy dari anak-anaknya supaya duduk kembali dan meredamkan amarah yang seperti masih menggebu.
...*****...
__ADS_1
...Bela terosss! Kenapa sih Dar, istri bar-bar begitu masih dipelihara aja? Coba lihat ke arahku yang lemah lembut bagaikan putri solo, apa kurangnya aku hingga tak bisa mengalihkan perhatianmu dari si rambut singa?...