
Cathleen dan Alceena saling bertukar pesan melalui aplikasi whatsapp. Membaca tanggapan sang kembaran setelah dikirimi foto berdua dengan Gerald, membuat Cathleen mengerutkan kening karena Alceena juga mengatakan hal yang sama seperti suaminya.
Cathleen:
Maksudmu sama-sama cantik?
^^^Alceena:^^^
^^^Bukan, tapi penampilanmu persis seperti Chloe.^^^
Cathleen:
Benarkah?
Tiba-tiba Alceena sudah tak online lagi, membuat Cathleen dihantui rasa penasaran. Tapi tak lama kemudian, ada notifikasi pesan masuk. Ternyata dari Alceena, wanita itu mencari bukti kesamaan Cathleen dan Chloe.
Cathleen segera membuka pesan tersebut. Ada dua gambar hasil screen shot yang diambil dari media sosial atas nama Anastasha Chloe Eleanor.
__ADS_1
^^^Alceena:^^^
^^^Kau perhatikan baik-baik gambar yang ku kirim. Gaya rambut Chloe yang panjang, pirang, dan bergelombang, sama persis seperti milikmu saat ini. Gaun berwarna merah dengan model seperti yang kau pakai pun dia juga punya. Coba kau bercermin dan sandingkan dengan kedua foto tadi.^^^
Cathleen sangat penasaran dan ingin membuktikan. Dia berangsur turun dari ranjang, lalu berdiri di hadapan cermin besar hingga kedua bola mata bulat itu bisa melihat penampilan diri sendiri.
Dari atas sampai bawah, Cathleen terus menelisik tubuhnya, lalu beralih melihat foto Chloe. Setelah yakin, mendadak ia merasa lemas hingga membuatnya berjongkok dengan sorot mata kosong. “Apakah Gerald sejahat itu denganku?” gumamnya diiringi lelehan air mata yang tak sengaja menerjang keluar.
Cathleen berusaha menghapus jejak basah di pipi. “Jangan berburuk sangka dulu Cath, kau harus tanyakan pada Gerald agar semuanya jelas.”
Helaan napas pelan sengaja dikeluarkan dari bibir Cathleen untuk mengurangi prasangka buruk yang terus berputar di pikiran. Dia membasuh wajah untuk menghilangkan raut sedih.
Selepas mengeringkan wajah, Cathleen langsung mengambil posisi tidur. Dia mencoba memejamkan mata, tapi sulit sekali masuk ke dalam alam mimpi. Bahkan sampai ia bisa mendengar suara pintu terbuka dan Gerald ikut merebahkan tubuh di balik punggung.
Biasanya Cathleen akan langsung berbalik dan membalas memeluk Gerald. Tapi kali ini tidak dilakukan. Ia terus mematung dan pura-pura tidur pulas.
“Selamat malam, Sayang.” Gerald mencium puncak kepala sang istri.
__ADS_1
Cathleen menggigit bibir bawah saat mendapatkan perlakuan manis dari Gerald. Ia berusaha keras agar tak menangis.
‘Siapa yang kau panggil Sayang? Aku sebagai Cathleen atau membayangkan Chloe?’ gumam Cathleen dalam hati. Ah sialnya bibir itu sulit sekali berucap. Dia terlalu lemah mentalnya untuk menghadapi kenyataan yang ada.
Dan sekuat apa pun Cathleen menahan diri, dia tetap menangis dalam diam dengan cahaya kamar yang tak terang.
Memang tak ada isakan yang keluar dari bibir Cathleen, tapi bantal sudah basah oleh lelehan air mata.
Namun, Gerald yang memeluk Cathleen dengan salah satu tangan bersemayam di dada, bisa merasakan kalau sang istri tengah terisak. Orang menangis akan selalu menunjukkan pertanda meskipun tidak melalui suara.
“Kau menangis?” tanya Gerald. Dia mengurungkan niat untuk terlelap, membalikkan tubuh Cathleen agar menghadap ke arahnya.
Gerald menghidupkan lampu degan mengucapkan sebuah perintah menggunakan suara. Benar seperti dugaannya, pipi Cathleen sudah basah.
Tangan Gerald menghapus air mata sang istri. “Kenapa menangis? Cerita padaku jika kau memiliki masalah, sebisa mungkin akan ku bantu.”
...*****...
__ADS_1
...Udah deh gausah sok peduli deh Ge! Kamu bukan peduli lindungi yang dibutuhin warga Indo kalo mau pergi-pergi. Kamu itu cuma kaya permen karet, manis di depan, hambar di belakang, dan sulit untuk dibersihkan kalo udah lengket di rambut. Syuh ... syuhhhhh jauh-jauh kau!...