
"Sayang!" panggil Cakra berdiri tepat di belakang sofa. Laki-laki itu sangat tersindir dengan ucapan Liora tadi.
Kini dia menyadari kesalahannya, tidak seharusnya dia bersikap arogan seperti tadi. Harusnya meminta baik-baik dengan bahasa yang lebih sopan.
Cakra duduk di samping Liora dan mengambil Liam dari pangkuan wanita cantik itu.
"Jangan pangku Liam terlalu lama, nanti perut kamu sakit atau ke senggol," ucap Cakra tapi Liora menghiraukan begitu saja.
Tidak ingin berdebat karena ada Liam, Cakra mamutuskan fokus pada putranya saja.
"Mama benar Nak, Liam kalau besar nanti harus jadi anak yang baik jangan kayak Papa," ucap Cakra.
"Meong Liam au andi Papa, ayo lenang cama Liam!" ajak Liam tanpa mendengarkan keperkataan papanya karena fokus pada kucing yang dia dapat di halam rumah. Entah kucing siapa tau Liam menyukainya.
Cakra yang baru sadar Liam memegang kucing langsung mengambil kucing tersebut lalu menjauhkan dari Liam.
"Liam tidak boleh main kucing apa lagi kucingnya dari luar!" tegur Cakra.
"Meong Liam tatu." Liam memberontak di pangkuan Cakra dan mengejar kucing kecil yang berlari keluar dari kamar.
Cakra yang hendak mengejarnya segera dicegah oleh Liora. "Kucingnya bersih kok, biarin aja," ucap Liora.
"Kamu tidak marah sama mas?" tanya Cakra.
"Memangnya mau aku marah?" tanya balik Liora dan dijawab gelengan kepala oleh Cakra.
__ADS_1
"Jangan marah, mas minta maaf karena kelepasan tadi. Mas janji akan lebih baik lagi sama orang. Makasih Sayang sudah mengingatkan mas tentang perjuangan mas dulu." Cakra memeluk Liora dari samping, bahkan mendaratkan ciuman bertubi-tubu tanpa melewatkan satu incipun.
"Iya dimaafin, sekarang mas mandi sore sama Liam. Sekalian kucingnya juga biar lebih bersih dan Liam rawat sampai ...."
"Setelah Liam tidur mas akan membawa kucingnya ke tempat penyimpanan hewan dan membelikan Liam kucing yang lebih lucu!" potong Cakra.
"Terserah mas," sahut Liora.
Wanita cantik itu berjalan menuju lemari dan mengeluarkan baju santai kemudian meletakkan di atas ranjang.
"Mas bau jadi mandi dulu biar wangi," ucap Liora kemudian melengang pergi begitu saja.
Tidak ingin memperkeruh suasana, Cakra langsung mematuhi perintah sang istri meski merasa tubuhnya tidak bau sama sekali.
Mood Liora sering kali tidak stabil jadi Cakra takut berbuat aneh-aneh. Untung saja morning sickness Cakra yang merasakan bukan Liora.
"Meong Liam kabul, Om Eyil antu Liam!" pekik Liam seraya menuruni anak tangga dengan cara ngesot, tentu saja ada pelayan yang mengawasi.
Laju kucing dan langkah Liam tidak sebanding hingga bisa lolos begitu saja. Ini semua karena ulah Cakra. Tidak tahukah papanya itu bahwa Liam mendapatkan kucingnya karena terkurung?
"Tunggu di sini Tuan Muda," sahut Eril ikut berlari untuk mengejar kucing tersebut, namun lolos di gerbang utama dan menjauh dari lingkungan rumah mewah Aleksander.
"Huaaaaa ... meong Liam lali, Liam mau meong. Jajat Papa!" pekik Liam dengan suara nyaring.
Bocah itu duduk di lantai seraya mengusap air matanya. "Jajat papa, meong Liam," lirih Liam masih meneteskan air mata.
__ADS_1
"Tuan Muda, kucingnya sudah pergi," lapor Eril dengan nafas tersengal-sengal.
"Liam kenapa?" tanya Liora.
"Kucingnya pergi Nyonya."
Liora menghembuskan nafas kasar, lagi-lagi ulah Cakra. Sungguh suaminya sudah membuat kesalahan sangat banyak hari ini.
Liora berjongkok dan mengendong Liam. "Jangan nangis Sayang!" bujuknya.
"Meong Liam lali," adu Liam.
"Nanti dibeliin sama Papa katanya, jadi jangan nagis lagi ya. Sini mama cium pipinya Liam." Liora mencium pipi Liam berulang kali, tidak lupa menghapus air mata di pipi putranya.
"Nyonya biar saya yang mengendong Tuan Muda, Tuan Cakra akan marah jika ...."
"Saya bisa sendiri mbak, buatkan susu untuk Liam saja," potong Liora kemudian berlalu ke ruang keluarga tanpa tahu beban apa yang di tanggung para pelayan jika Liora melanggar aturan.
Eril menghampiri Liora. "Nyonya, tolong dengarkan apa yang kami katakan, karena jika Anda melanggar kami yang akan mendapat ...."
"Apa yang kau katakan?"
Eril menelan salivanya mendengar suara bariton itu. Tanpa berbalik, Eril mengelengkan kepalanya.
"Ikut saya!" Hanya sekali tarikan, Eril sudah menjauh dari ruang tamu. Setelah berada di ruangan lain Eril menatap kakaknya jengah.
__ADS_1
"Abang kira Eril kucing main dibanting saja?"