
Siapa yang mengira Eril akan menjadi seorang papa padahal belum genap sehari dia menikah. Namun, itulah yang terjadi saat ini pada hidupnya. Pria itu sejak tadi duduk di sisi brangkar dengan senyuman merekah. Dia tidak henti-hentinya menatap wajah tampan putranya yang entah mirip siapa. Intinya mustahil akan mirip dengan Eril, lantaran dia tidak menyumbang ataupun ikut andil dalam pembuatan bayi mungil tersebut.
"Sehat-sehat ya, Sayang," gumam Eril mengelus tangan kecil bayi yang masih merah tersebut.
Rahma yang melihatnya tersenyum lega. Dia merasa beruntung mendapatkan Eril yang hatinya seluas samudra. Ingin menerima dirinya juga putra yang sama sekali tidak ada sangkutnya-pautnya pada siapapun.
"Makasih, Mas, sudah menemani aku melahirkan," ucap Rahma.
"Kenapa harus terimakasih? Bukannya sudah seharusnya aku menemani istriku melahirkan?" tanya Eril dengan nada candaan, membuat Rahma, pak Somat, pak Ridwan dan bu Fatimah tertawa. Kebetulan mereka masih ada di ruangan perawatan Rahma.
Namun, bu Fatimah dan pak Ridwan tidak bisa berlama-lama lantaran harus berangkat ke desa bersama putra sulungnya yang sudah berencana akan pulang kampung tadi pagi. Kedua manusia paruh baya itu berpamitan pada Rahma, tidak lupa bu Fatimah menjabat tangan Rahma dan memberikan sesuatu.
__ADS_1
Rahma yang menyadarinya segera mengeleng. "Tidak usah repot-repot, Bu. Bu Fatimah datang saja saya sudah senang," ucap Rahma menolak pemberian bu Fatimah, tetapi tetap diberikan secara paksa, sehingga Rahma tidak kuasa menolak.
Sepeninggalan sepasang suami istri itu, pak Somat pun ikut beranjak dan berniat pergi. Tetapi sebelum itu dia menghampiri putri dan menantunya yang tampak bahagia.
"Neng, abah izin ikut sama pak Ridwan ya? Abah mau ngurus beberapa lahan untuk dijual. Neng tahu sendiri biaya rumah sakit di kota sangat mahal, terlebih ambil umum dan falitasnya lengkap banget," ucap pak Somat.
Kebetulan uang tabungan pak Somat kini mulai menipis lantaran tidak kunjung mendapatkan pekerjaan. Dulunya dia jurangan beras karena mempunyai banyak lahan, tetapi sekarang tidak ada yang mau bekerja dengan pak Somat setelah kejadian pernikahan batal. Alhasil sekarang lahan-lahan itu telah kosong tanpa tanaman apapun.
"Nak Eril, kenapa melakukan itu? Rahma melahirkan bukan karena ...."
"Maaf memotong ucapannya, Pak. Tapi sekarang Rahma istri aku, dia dan putra kita tanggung jawab aku," potong Eril cepat, membuat Rahma dan pak Somat terharu. Mereka berdua tidak menyangka akan mendapatkan menantu yang sangat baik seperti Eril, bahkan lebih baik dari Wildan.
__ADS_1
Ngomong-ngomong tentang Wildan, pria itu telah ditinggal menikah dengan dua perempuan yang sialnya diembat oleh bos dan asisten dari kota. Bukankah sungguh malang nasib Wildan selalu ditikung oleh pendatang dari kota?
Kembali pada topik, di mana akhirnya pak Somat tidak jadi pulang, pria paruh baya itu akan tinggal untuk menemani putrinya mungkin sebulan paling lama. Setelah itu mungkin dia akan kembali ke desa untuk mengelola lahannya. Pak Somat berencana akan mengambil cucu pertamanya agar suatu hari tidak ada pertengkaan antara Eril dan Rahma karena bayi mungil tanpa nasab itu. Sangat diiuntungkan bayinya seorang lelaki.
"Kalau begitu kamu boleh pulang ke rumah untuk istirahat, Nak. Biarkan Rahma, abah yang jaga."
"Ck, pak Somat lupa kalau aku sekarang suami Rahma? Ada baiknya Bapak yang pulang dan istirahat. Kami akan pulang setelah tiga hari," ucap Eril dengan senyuman.
Pria itu beranjak dari duduknya ketika melihat pak Somat mengangguk. Dia mengantar pria tersebut hingga di depan pintu ruangan perawatan, setelah memesankan taksi agar mertunya sampai dengan selama ke kontrakan. Usai memastikan pak Somat pergi, Eril kembali masuk dan tidak lupa menutup pintu. Dia melempar senyum pada Rahma yang memainkan tangan mungil bayinya.
"Sudah jam 11 malam, apa kamu tidak mengantuk?" tanya Eril mengusap pipi Rahma. Sekarang pria itu bisa memandangi wajah wanita yang dia cintai secara terang-terangan.
__ADS_1