
Cakra terus menatap Eril yang berdiri di hadapannya dengan tegap. Pria itu bersiap mencerna segala penjelasan yang akan dijabarkan oleh Eril tentang penuntutan pada pihak polisi tentang pengeledahan tanpa adanya surat perintah. Kaki Cakra saling bertumpu di bawah meja yang di mana semakin menambah aura kepemimpinan pria tersebut.
"Pihak kepolisian sudah mengurus semuanya, Tuan. Polisi yang memimpin pengeledahan kemarin telah diselidiki oleh atasannya. Ternyata polisi tersebut telah disogok oleh mantan pemegang saham Alexander group, sepertinya mereka bekerja sama di belakang kita untuk menjatuhkan perusahaan."
"Ada sangkut pautnya dengan Z Group?"
"Ada Tuan, mereka kini menjadi pemegang saham di sana. Itu lah salah satu alasan mengapa mereka ingin Z group berjaya dan menjatuhkan kita."
"Kerja bagus, kau boleh kembali bekerja di rumah. Sepertinya urusanmu dengan perusahaan telah selesai," ucap Cakra.
Memang Cakra sengaja tidak menempatkan Eril di perusahaan lantaran Istri dan anak-anaknya butuh seorang pengawal. Meski begitu, Cakra sesekali melibatkan Eril dalam perusahaan dalam kondisi yang mendesak agar Rocky tidak keteteran.
__ADS_1
"Ah ya, saya punya sesuatu untukmu," ujar Cakra ketika Eril hendak berlalu setelah memberikan bow.
Pria itu mengeluarkan sesuatu dari dalam lacinya kemudian memberikan pada Eril. Benda itu berupa kotak sedang beserta sebuah map yang entah apa isinya, hanya Cakra yang tahu.
"Apa ini, Tuan?" tanya Eril.
"Kau boleh membukanya setelah sampai di rumah. Pergilah sekarang! Liam mencarimu."
"Baiklah, terimakasih, Tuan." Eril kembali memberikan bow sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan ruangan Cakra. Pria itu langsung kembali ke kediaman Alexander dan menyimpan benda yang diberikan oleh Cakra di dasbor mobil miliknya. Kini perasaan Eril melega lantaran telah terbebas dari perusahaan, dengan kata lain, tanggung jawabnya telah selesai.
Jika semua orang sedang sibuk mengurus kekacauan perusahaan, maka berbeda dengan seorang perempuan yang kini tidak gadis lagi lantaran miliknya diambil paksa oleh seorang pria yang bahkan tidak begitu dia kenali. Perempuan itu tidak lain adalah Alea. Dia sedang berada di dalam kereta yang akan membawanya ke kota bandung. Kota yang dikenal dengan kota Kembang, lantaran banyak taman asri yang dipenuhi dengan bunga-bunga yang cantik.
__ADS_1
Alea akan ke sana untuk melajutkan hidupnya berbekal uang yang telah dia ambil dari Rocky. Sebenarnya wanita itu terkejut ketika sadar jumblah uang yang dia ambil sangatlah banyak. Dia mengira hanya lembaran rupiah, ternyata dollar yang nominalnya sangatlah besar.
"Tidak apa-apa, ini adalah bayaran untuk saya," guman Alea tersenyum, meski hatinya belum bisa menerima kejadian malam itu.
Alea menikmati perjalanan sambil bersandar pada kaca dan menikmati pemandangan di luar sana. Rasa lelah membuat Alea dangat mudah terlelap di dalam kereta tersebut. Mungkin ini adalah terakhir kalinya dia menginjakkan kaki di Kota Metropolitan.
"Selamat tinggal kota kesayangan, kau sudah berhasil memberikan luka yang tidak akan pernah saya lupakan sampai kapan pun," gumam Alea di tengah-tengah kesadarannya yang mulai hilang.
Wanita telah terlelap, anehnya air mata terus berjatuhan di pipi wanita yang selalu terlihat ceria itu. Cuaca yang sangat panas, tidak membuat Alea membuka jaket tebal yang membalut tubuhnya, hanya karena ingin menyembunyikan tubuh kotornya dari semua orang.
Alea baru terbangun dari tidurnya setelah kereta berhenti di stasiun Kiaracondong. Dia mengusap pipinya yang basah dan bergegas keluar dari kereta tersebut. Alea berjalan tanpa arah dan tujuan di sana. Dia baru pertama kali menginjakkan kakinya di kota Bandung sehingga tidak tahu harus kemana dan akan mengerjakan apa.
__ADS_1
Kaki kecil Alea terus berjalan meninggalkan stasiun sambil memperhatikan ponselnya untuk mencari kontrakan terdekat di sana sambil mencari kerja. Meski mempunyai banyak uang hasil dari mencuri, dia tidak ingin memakai semuanya dan menghambuarkannya dengan percuma. Tidak ada yang tahu bahwa mungkin saja Rocky akan mencarinya untuk mengambil uang 40 juta lebih tersebut.
"Kalau aku tiba-tiba hamil, bagaimana? Apa dia akan tanggung jawab? Tidak-tidak, meski dia ingin tanggung jawab sekalipun, aku tidak akan mau dengan pria itu."