
Mulai turun dari mobil hingga sampai di lobi perusahaan, Liora, Cakra dan Liam disambut begitu meriah oleh para karyawan kantor. Bahkan penyambutan selamat ulang tahun wanita berbadan dua itu dapati ketika telah tiba di depan lift.
"Mas, semeriah ini?" tanya Liora menutup mulutnya. Dia tidak percaya dengan kejutan-kejutan kecil yang dia temui sepanjang perjalanan menuju perusahaan sang suami.
Cakra tersenyum bangga pada istrinya. "Ini masih awal Sayang, puncaknya masih lama," jawab Cakra penuh senyuman.
"Hihihi Liam au alon tatu!" Bocah kecil yang terus mengekor kemana-mana iti mengambil balon yang jatuh di dalam lift. Dia mengambil balon berbentuk hati tersebut lalu memeluknya erat.
Dor!
"Huaaaaa, Liam tatet Papa. Bayon Lian tus," adu Liam cemberut bahkan hampir menangis.
Bukannya kasihan, Liora dan Cakra malah tertawa melihat ekspresi putra mereka yang terlihat mengemaskan.
Cakra melepaskan genggamannya dan mengendong Liam. "Makanya kalau dapat balon jangan dipeluk sambil cubit Sayang," gemas Cakra.
"Au bayon!" pinta Liam tidak jadi menangis.
__ADS_1
"Nanti Liam dapat banyak balon sama teman-teman kalau udah sampai rumah."
"Rumah? Jadi kita ke sini buat apa Mas kalau mau pulang lagi?" heran Liora tapi Cakra dan Eril malah tertawa.
"Ketawa aja terus, sejak pagi aku dikerjain. Udah dandan cantik-cantik gini nggak tau tujuannya kemana!" gerutu Liora yang mulai lelah bergaun panjang juga make up lumayan tebal.
"Diam, jangan sampai mas cium kamu di sini," bisik Cakra.
***
Namun, sepertinya kali ini Liora tidak dapat menikmati pemandangan kota dan pedesaan seperti yang dilakukan Liam juga Cakra, karena mata wanita cantik itu tengah ditutup kain hingga semuanya terligat gelap.
"Wah, papa ada tapal!" teriak Liam menunjuk kapal selam ketika mereka melewati laut lepas.
"Liam mau naik itu?"
Liam mengangguk antusias. "Au Papa."
__ADS_1
"Nanti setelah dedek lahir, kita naik kapal persiar sama-sama ya. Sekarang Mama nggak bisa di ajak jalan-jalan jauh," jelas Cakra yang setia memangku putranya itu, sementara tangan satunya mengenggam tangan sang istri yang mulai kesal.
"Papa, buyung!" pekik Liam lagi ketika melihat burung.
"Kalian kok tega sih sama aku? Kalian nikmati pemandangan sementara aku nggak," protes Liora.
Sontak, Cakra membisikkan sesuatu di telinga putranya.
"No ... no ... no, Mama nda diadak. Ini tawacan Liam cama Papa," jawab Liam sesuai bisikan Cakra.
Akhirnya setelah cukup lama mengudara, helikopter yang mereka naiki perlahan-lahan turun ketika tempat yang akan dituju sudah dekat. Bukan hanya satu helikopter, tapi dua. Helikopter satunya dihuni oleh Eril dan Rocky yang mungkin saja tengah bertengkar karena berbeda pendapat.
Tepat saat helikopter berhenti dengan sempurna, dan beberapa pelayan yang telah di kirim Cakra jauh-jauh hari sudah berbaris rapi. Barulah Cakra dan Liora turun, tentu saja hati-hati agar sang istri tidak terjatuh.
"Mas udah bisa di buka belum sih? Sebenarnya kita kemana?" Sungguh pertanyaan itu sudah berulangkali Liora lontarkan tapi belum dijawab juga oleh sang suami.
"Sebentar lagi Sayang, beberapa menit."
__ADS_1