
Sudah tiga hari sejak Liam di rawat di rumah sakit atas permintaan Cakra. Hari ini adalah hari terakhir Liam di rumah sakit sebelum di kirim ke Kota, sayangnya belum ada persetujuan dari Liora.
Cakra sudah bicara pada wanita itu, tapi sampai sekarang Liora belum memberi jawaban apapun.
"Papa Liam mau nunu," lirih Liam membuat Cakra tersadar dari lamunannya.
Cakra langsung membuka tutup botol kemudian memasukkan sedotan. Membantu bocah kecil tersebut minum.
"Badan Liam udah nggak pegal lagi? Kepalanya masih pusing Nak?" tanya Cakra.
"Liam cehat Papa."
Cakra tersenyum, mengelus rambut Liam lembut. Perasaan laki-laki itu tiba-tiba menghangat melihat senyuman Liam yang hilang beberapa hari ini karena sakit.
"Papa senang liat Liam senyum lagi. Maafin Papa karena ngajarin Liam nggak-nggak."
"Liam tanen Papa."
Liam langsung berdiri di atas brangkar kemudian memeluk Cakra sangat erat. Entahlah, bersama beberapa hari di desa membuat Liam sulit berpisah dengan Cakra. Mungkin karena kasih sayang dan perhatian laki-laki itu membuat Liam nyaman.
"Papa juga kangen sama cerianya Liam. Pulang dari rumah sakit, Liam mau apa? Biar papa beliin."
"Mau Papa."
__ADS_1
"Ini udah pasti bocil." Cakra menjawil hidung mancung Liam.
Dia langsung melerai pelukan Liam saat ponsel di saku jasnya berdering.
"Duduk dulu, Papa angkat telpon di luar," ucap Cakra sebelum meninggalkan Liam sendirian, sebab Liora ada urusan sebentar.
Cakra langsung menjawab panggilan dari Eril.
"Ada apa?"
"Nona Rissa mengamuk minta di bebaskan Tuan. Katanya dia bersedia membongkar kejahatan Brian jika di bebaskan."
"Tidak perlu, saya tidak butuh kesaksiannya. Yang saya butuhkan bukti, bukan omong kosong. Kurung dia sampai benar-benar jera sampai ingin bunuh diri. Itulah akibat jika bermain-main dengan Saya!"
"Baik Tuan."
Cakra langsung berbalik dan mendepati Liora berdiri di belakangnya. Dia langsung melempar senyum pada wanita yang dia cintai.
"Udah selesai?"
"Udah, kok di luar. Liam sendiri?"
"Tadi lagi angkat telpon, ayo masuk!" Cakra menarik tangan Liora untuk ikut masuk.
__ADS_1
Tetapi Liora malah berhenti melangkah. "Aku mau ngomong sesuatu," lirih Liora.
Alis Cakra saling bertaut satu sama lain, menunggu kalimat keluar dari mulut Liora.
"Aku masih ragu ikut kamu ke Kota. Aku takut setelah di sana banyak yang bakal hina karena jadi istri kamu. Tapi aku juga nggak mau egois mikirin diri sendiri, padahal Liam harus berobat." Liora menunduk seraya menatap tangan Cakra yang mengenggam tangannya.
Sejak Cakra membicarakan tentang kepindahan ke Kota. Liora tidak berhenti memikirkan semuanya. Tapi hatinya belum siap jika harus di hina oleh orang lain karena tidak pantas, walau Cakra sudah meyakinkan.
"Bawa Liam ke Kota, setelah sembuh kembalikan dia padaku." Liora menatap mata Cakra yang memancarkan kehangatan dan kenyamanan.
Mata indah itu kembali terpenjam saat tangan kekar Cakra menyentuh pipinya. "Jangan pikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi Ra. Orang kota nggak seperti warga kampung yang suka mengurusi kehidupan tetangga. Di kota kita hidup sendiri-sendiri."
"Apa kamu nggak sedih pisah sama Liam? Kamu nggak kasihan sama Liam karena harus berpisah sama Mamanya?"
"Jangan nyiksa diri sendiri seperti ini Ra. Aku tahu kamu masih cinta sama aku, lalu apa yang kamu takutkan? Aku juga cinta sama kamu. Buang jauh-jauh semua keraguan dalam diri kamu, dan kita membangun keluarga yang bahagia."
Liora mengangguk samar. "Apa kali ini aku bisa pegang semua kata-kata kamu? Kamu nggak bakal ngecewain aku?"
"Nggak akan, aku janji bakal bahagiain kalian berdua. Mau kan ikut aku ke kota?"
Liora kembali mengangguk samar, membuat Cakra sangat bahagia. Tanpa meminta izin, Cakra memeluk Liora sangat erat. "Makasih Ra udah mau kasih aku kepercayaan sekali lagi. Aku nggak bakal nyia-nyiain kepercayaan yang kamu berikan, karena aku tahu meluluhkan perempuan sepertimu itu sulit banget."
...****************...
__ADS_1
Apa otor terlalu baik yang nyatuin mereka?