
Di saat Liora sedang ditangani oleh dokter kendungan, lantaran sudah pembukaan 6, di sisi lain Eril mulai frustasi akan situasi yang dia hadapi untuk saat ini. Belum lagi dia terus mendapatkan panggilan dari orang-orang penting yang telah mendengar kabar hilangnya pesawat yang Cakra tumpangi. Mereka semua meminta rapat dadakan untuk membicarakan saham perusahaan. Sungguh para pemegang saham Alexander tidak punya hati. Alih-alih iba akan musibah yang nimpa ceo mereka, mereka malah memetingkan uang dan uang.
"Tuan, anda ke mana?" tanya Eril mengacak-acak rambutnya frustasi. Pria itu ingin bergerak sendiri, tetapi Cakra menitipkan Liora padanya, dia juga tidak tega jika harus meninggalkan Liora sendirian di rumah sakit.
Pria itu membalik tubuhnya ketika namanya dipanggil oleh dokter yang menangani Liora. Dia tersenyum pada dokter wanita tersebut.
"Apa nyonya Liora baik-baik saja?" tanya Eril.
"Untuk sekarang di baik-baik saja, Pak. Tapi nyonya Liora terus memanggil nama tuan Cakra. Dia mulai kehilangan tenaga karena terus menangis," jawab sang dokter.
"Kalau begitu saya titip nyonya Liora untuk beberapa menit, Dok."
__ADS_1
Eril berlari di lorong rumah sakit setelah mendapatakan anggukan dari sang dokter. Pria itu terpaksa meninggalkan Liora sendirian karena akan menumui seseorang yang mungkin saja bisa menolongnya. Orang yang akan Eril temui tidak lain adalah Rahma, hanya wanita itulah yang ada dalam pikiran pria itu saat ini.
Eril melajukan mobilnya di atas kecepatan rata-rata. Mengendalikan setir kemudi menggunakan sebelah tangan, sementara sebelahnya lagi dia gunakan untuk memegang benda pipihnya. Pria itu sedang menjawab panggilan dari pelayan di kediaman Alexander.
"Apa lagi?" tanya Eril.
"Tuan muda terbangun, dia menangis mencari nyonya Liora. Apa yang harus saya katakan sekarang?" tanya pelayan di seberang telpon. Wanita itu juga tidak tahu harus melakukan apa untuk bocah kecil seusia Liam.
Eril langsung memutuskan sambungan telpon ketika mobilnya sampai di depan sebuah kontrakan yang tidak terlalu besar. Dia turun dari mobil, kemudian mengentuk pintu rumah tanpa membuang waktu lama. Ketukan yang terlalu terburu-buru dan terkesan tidak sopan, membuat pemilik rumah tentu saja kesal, terlebih pak somat, sebagai ayah dari Rahma.
Pria paruh baya itu membuka pintu. "Kau?"
__ADS_1
"Maaf pak Somat, tapi saya sangat butuh bantuan anda dan Rahma. Nyonya Liora ada di rumah sakit, dan tidak ada yang menemaninya. Apa anda dan Rahma bisa menjaganya sebentar?" tanya Eril tanpa basa-basi.
"Ada apa, Abah?" tanya Rahma yang kebetulan belum tidur. Wanita perut buncit itu baru saja melakukan sholat malam.
"Neng Liora ada di rumah sakit," jawab pak Somat.
"Kalau begitu ayo kita ke sana, Abah! Mbak Lio nggak punya siapa-siapa."
Pak Somat langsung menganggukkan kepalanya, pria paruh baya itu bersama Rahma dibawa oleh Eril menuju rumah sakit, setelahnya Eril meninggalkan rumah sakit tersebut untuk mencari tahu sendiri tentang berita pesawat yang hilang. Tidak tanggung-tanggung, Eril langsung melesatkan mobil miliknya menuju bandara untuk memastika semuanya tanpa perantara apapun.
Sementara di tempat lain, yakni ruang persalinan. Liora sesekali mengejang karena rasa sakit di pinggangnya. Wanita itu juga terus menyebut nama Cakra berulang kali lantaran sangat khawatir.
__ADS_1
"Dokter, di mana suami saya? Kenapa dia belum datang? Dokter, tolong berikan ponsel saya, saya ingin menghubungi mas Cakra. Saya nggak kuat lagi!"