Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 183 - Suami Hebat


__ADS_3

Eril bergegas untuk pulang ke rumahnya setelah mendapatkan laporan dari penjaga rumah bahwa Wildan datang dan ingin bertemu dengan istri tercinta. Dia keluar dari ruangan kebesarannya dan tidak sengaja bertemu dengan Rocky di lorong lantai paling atas tersebut. Eril hanya melempar senyumnya kemudian memasuki lift yang akan membawa dia menuju basemen perusahaan Alexander.


Siapa yang menyangka, ternyata Rocky ikut masuk ke lift tersebut, sehingga keduanya berada di tempat yang sama. Hanya pikiran mereka tertuju pada hal yang berbeda meski sama-sama perempuan.


"Kak Rocky, aku akan pulang sebentar. Aku juga sudah mengerjakan semua tugas yang kakak berikan," ucap Eril yang tidak suka jika terjadi keheningan seperti ini. Terlebih Rocky bukan orang lain baginya.


"Hm," gumam Rocky.


"Kak Rocky tidak bertanya alasan aku pulang?" tanya Eril.


"Wildan datang ke rumah kamu, benar bukan?" jawab Rocky dengan wajah datarnya. Pria itu keluar dari lift setelah pintu terbuka lebar di lantai 3. Rocky ada urusan bersama kepala HRD.


Sementara Eril melanjutkan perjalanannya hingga akhirnya sampai di basemen. Pria itu melajukan mobilnya meninggalkan lingkungan perusahaan dengan kecepatan penuh, guna sampai cepat di rumahnya.


Sepanjang jalan, sebelah tangan Eril bergerak gelisah untuk menghubungi istrinya, tetapi sayang, wanita yang dia cintai tidak menjawab telepon lantaran sibuk mengendong Arhan yang tiba-tiba rewel setelah bangun. Rahma sampai kebingungan harus mengapakan putranya.

__ADS_1


Wanita itu terus mondar-mandir di dalam kamar sambil mengendong Arhan yang menjerit tiada henti.


"Sayang, perut kamu sakit?" tanya Rahma dengan mata berkaca-kaca. "Jangan nangis ya, kita telepon papa dulu," gumam Rahma. Wanita itu bergerak untuk mengambil ponselnya yang tergeletak di meja rias. Baru saja akan menghidupkan benda pipih itu, suara decitan pintu terdengar.


"Sayang, putra kita kenapa nangis?" tanya Eril yang baru saja datang. Percayalah, selama perjalanan Eril mempertaruhkan nyawanya lantaran kebut-kebutan di jalan hanya karena Rahma tidak menjawab panggilannya satu pun.


"Aku tidak tahu kenapa Arhan menangis, Mas," jawab Rahma dengan wajah piasnya. "Sebelum tidur dia baik-baik saja, dan selang beberapa menit, dia tiba-tiba terbangun dan menangis."


"Jangan panik seperti itu, mungkin saja Arhan digigit semut atau nyamuk," ucap Eril menenangkan. Pria itu mengambil alih Arhan dalam gendongan Rahma. Lalu meletakkan di atas ranjang King size miliknya.


Bukannya berhenti menangis, suara tangisan itu malah semakin terdengar, tetapi raut wajah Eril tampak santai. Dia mengambil minyak telon yang ada di boks bayi kemudian membalurkan di perut sang putra sedikit demi sedikit. Siapa yang menyangka tangisan Arhan perlahan-lahan mulai menghilang.


Arhan yang diajak bicara hanya melenguh ala bayi yang merasa tidak nyaman.


"Tunggu yang Sayang, papa bantu buat kentut."

__ADS_1


Eril menggoyang-goyangkan kaki kecil Arhan seperti sedang mengayuh sepeda, beberapa menit berikutnya dia sedikit melipat kaki Arhan hingga lututnya mengenai perut, saat itulah suara kentut sangat kecil terdengar. Eril terus mengulangi gerakan itu hingga akhirnya Arhan tenang tanpa lenguhan pelan lagi.


Rahma yang melihat itu langsung tersenyum, dia lagi-lagi bangga melihat betapa hebatnya Eril menjadi orang tua dan suami yang baik untuknya.


"Aku malu sama Mas yang bisa segalanya, bahkan untuk urusan bayi," ucap Rahma yang berdiri di samping suaminya.


Eril langsung menoleh pada Rahma, berdiri tegap dan mengelus pipi Rahma, padahal tangannya baru saja menyentuh baby oil. "Jangan malu, mas juga baru belajar. Beberapa hari yang lalu mas tidak sengaja melihat tutorial cara mengatasi bayi yang rewel karena kurang nyaman akan sesuatu. Jadi mas iseng deh urut dan peragain yang mas lihat, siapa yang menyangka sangat berguna," jelas Eril


"Tapi Mas memang hebat," puji Rahma.


"Selain hebat, mas juga tampan," canda Eril dan dibalas tawa oleh Rahma.


Wanita itu segera beralih pada putranya yang kembali terlepas setelah diurus oleh sang papa. Rahma menyelimuti bayi mungil tersebut, kemudian beralih mengambil jas Eril yang ada di kursi.


"Aku buatkan susu dulu ya mas," ucap Rahma keluar dari kamar, menyisakan Eril yang memilih duduk di sofa sambil memandangi bayi mungil yang ada di atas ranjang.

__ADS_1


Sudut bibir Eril tertarik hingga membentuk bulan sabit. "Dia putraku Zayn, tidak akan aku biarkan kau merebutnya hanya karena keserakahan. Merebutnya karena ingin memberikan kasih sayang saja saya tidak rela, apalagi kau hanya ingin memanfaatkan keberadaannya untuk mencapai apa yang kau inginkan," ucap Eril dengan tekad penuh.


"Darah daging siapa pun jika itu lahir di rahim Rahma, maka dia adalah anakku, termasuk Arhan," lanjut Eril.


__ADS_2