Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 51


__ADS_3

"Mas Lima menapa?" tanya Liora dengan wajah panik.


"Liam ...."


"Aku harus liat Liam." Tanpa mendengarkan kalimat Cakra, Liora berlari keluar kamar. Wanita itu menghiraukan panggilan suaminya.


"Sayang, itu baju kamu ... akhhhh, sialan!" Maki Cakra entah pada siapa. Dia menyusul Liora keluar kamar. Tidak lupa membawa cardigan lumayan besar untuk menutupi tubuh Liora nantinya.


Wanita itu keluar kamar hanya memakai kaos keberasan milik Cakra, entah memakai dalaman atau tidak.


Langkah Cakra berhenti di ruangan sangat luas, di sana banyak pengawal juga pelayan berdiri seraya menundukkan kepalanya.


"Bubar!" perintah Cakra dengan suara tegas. Laki-laki itu langsung menghampiri Liora kemudian memakaikan cardigan, agar paha mulus wanita itu tidak dinikmati semua orang.


"Sayang, kamu nggak papa Kan? Mama udah bilang jangan nakal. Dengerin kata Nani," ucap Liora dengan mata berkaca-kaca. Dia menciumi seluruh wajah Liam yang sekali-kali berkedip layaknya boneka.


"Apa yang terjadi?" tanya Cakra pada Eril.


"Sepertinya tadi ada penyusup Tuan. Tuan Muda Liam melihat seseorang mirip Anda, sepertinya Tuan Brian."


Cakra memejamkan mata sejenak, tangannya terkepal kuat kemudian melayan dan mendarat di wajah Eril.


"Apa yang sebenarnya kamu lakukan, hm? Kalau sampai terjadi apa-apa dengan putra saya kamu akan menanggung akibatnya!" bentak Cakra.


"Mas?" Liora langsung berdiri. Wanita itu sedikit terkejut.


"Maaf Tuan, pengawal yang saya siapkan sedikit teledor." Eril menunduk seraya meringis, sudut bibirnya robek padahal hanya satu pukulan.


"Kontrol emosi kamu Mas, Liam ada di sini, jangan sampai dia takut," bisik Liora menenangkan.

__ADS_1


"Aku khawatir kalian bakal terluka."


"Jangan memikirkan sesuatu yang belum terjadi, lagian Liam baik-baik aja." Liora menatap Eril. "Obati luka kamu."


"Saya nggak papa Nyonya," jawab Eril enggang untuk pergi.


Aturannya dia tidak boleh beranjak, sebelum Cakra yang memerintahkan.


"Pergilah ke ruangan Rocky, kita bicara nanti!"


Setelah kepergian Eril, Cakra beralih pada Liam yang bersembunyi di balik kaki mulus Liora.


"Sayang?"


"Tatut."


"Heh, kok takut sama Papa sendiri?"


Hal tersebut membuat Liora berjongkok, kemudian mengendong Liam. "Papa bukan orang jahat, dia cuma mukul orang nakal Sayang. Maukan di gendong sama Papa?" Liam mengeleng, dia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Liora.


"Harusnya aku nggak mukul Eril tadi," sesal Cakra.


"Udah nggak papa Mas, jadikan pelajaran. Anak-anak memang seperti itu jika melihat sesuatu, bentar lagi juga luluh."


Liora dan Cakra segera menuju kamar, tentu saja Liam ikut serta. Mungkin ini terakhir kalinya Liora meninggalkan Liam tanpa dampingannya.


Dia mendudukkan Liam di atas ranjang. Mata indahnya membulat sempurna saat tidak sengaja melihat pantulannya di cermin.


"Mas!" pekik Liora.

__ADS_1


Cakra yang mengerti keterkujutan sang istri hanya tertawa singkat. "Baru nyadar? Untung para pengawal nggak ada yang jelalatan kayak aku," sindir Cakra.


Pipi Liora memerah, dia membayangkan bagaimana pikiran orang tentangnya. Tanda kepemilikan Cakra ada di mana-mana. Leher bahkan paha yang bisa di lihat semua orang.


"Mas kok ketawa? Apaan sih, nggak lucu."


Liora buru-buru ke kamar mandi setelah mengambil baju ganti.


Kini di atas ranjang hanya ada Liam dan Cakra. Laki-laki itu mendekat perlahan-lahan.


"Maafin Papa ya ... ya. Kita temenen lagi, janji Papa bakal ngasih Liam dedek," bujuk Cakra menarik-narik baju Liam.


"Janji?"


Cakra mengangguk. "Papa bakal ngasih Liam dedek 4, eh nggak deh 5 sekalian biar bisa bentuk tim basket."


"Mau." Liam mengangguk atunsias.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2