Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 139 - Membeli rumah


__ADS_3

Jika Eril masih menikmati hari liburnya bersama Rahma, maka berbeda dengan Rocky yang sangat repot karena perinah Cakra yang tidak ada habisnya. Entah itu hal pribadi atau pun memang untuk urusan perusahan. Seperti saat ini, Rocky baru saja kembali ke perusahaan setelah bertemu dengan klien mewakili Cakra, lantaran klien itu seorang perempuan.


Cakra sangat anti bertemu dengan rekan kerja yang ditangani oleh perempuan. Bahkan pernah sekali Cakra rela membatalkan proyek besar hanya karena pimpinan proyek meminta agar Cakra sendirilah yang datang untuk bertemu empat mata.


"Semuanya telah selesai, Tuan." Lapor Rocky yang kini berdiri di depan Cakra yang tengah fokus pada layar laptop.


"Siapa yang mengatakan itu?" tanya Cakra dengan wajah datarnya.


Rocky mengambil napas dalam-dalam. Jika Cakra bertanya seperti itu, artinya dia masih mempunyai tugas dan tidak boleh istirahat dengan tenang. Ingin mengamuk? Tentu saja. Tetapi itu hanya keeinginan tanpa bisa direalisasikan.


"Rocky," panggil Cakra setelah terjadi keheningan beberapa menit.


"Ya Tuan?"


"Kau tahu rumah yang ada di depan rumah mewah saya?"

__ADS_1


"Tahu Tuan."


"Sepertinya sekarang rumah itu tidak berpenghuni."


"Benar Tuan, rumah itu sudah tidak berpenghuni sejak setegah tahun yang lalu. Yang saya dengar, rumah itu sedang dijual tetapi sampai saat ini belum laku karena harga yang cukup tinggi."


"Beli rumah itu dengan harga semestinya. Saya ingin menerima sertifikat nya dalam waktu dekat!" perintah Cakra tak terbantahkan.


Rocky mengangguk, pria itu segera meninggalkan ruangan Cakra, kemudian langsung melaksanakan perintah tuannya secepat mungkin, agar pekerjaan yang akan datang tidak tertunda. Sambil berajalan menuju lift, Rocky menelpon seseorang yang akan membantunya agar bisa mendapatkan rumah itu dengan cepat.


"Suka-suka tuan Cakra," gumam Rocky yang tidak ingin pusing memikirkan segala tingkah gila tuannya. Yang harus Rocky lakukan hanya mengerjakan perintah Cakra dan memastikan anak dari pria paruh baya yang telah membesarkannya bahagia. Itulah janji Rocky pada almarhum papa Cakra.


***


"Mas, Eril!" panggil Rahma dengan suara pelannya, tidak lupa tangan wanita itu menyentuh lengan Eril agar cepat terbangun.

__ADS_1


Eril yang merasakan seseorang menyentuh lengannya segera membuka mata. Dia tersenyum melihat Rahma yang menunduk dan sangat dekat dengan wajahnya.


"Udah jam 4 sore, Mas tidak salat?" tanya Rahma.


"Aku masih mengantuk, Rahma. Satu jam lagi," jawab Eril. Pria itu mengambil tangan istrinya kemudian menempelkan di pipi. Tidak lupa memejamkan mata.


"Padahal shalat tepat waktu sangat baik," gumam Rahma. Wania itu menarik tangannya dari pipi Eril, kemudian memutari ranjang untuk melihat putranya yang telah tampan sehabis mandi sore.


Sementara Eril yang mendengar gumaman sang istri, langsung duduk meski mata sulit untuk terbuka. Pria itu ingin jauh lebih baik, tetapi setan dalam dirinya bahkan lebih besar.


"Aku mulai shalatnya besok saja ya? Lagian tadi aku tidak shalat subuh," tawar Eril masih setia duduk di ranjang.


"Meninggalkan atau menunda-nunda shalat bukan hal yang baik, Mas. Apalagi jika itu disengaja dan kita dalam keadaan sehat. Shalat adalah tiang agama, maka siapa yang mendirikan shalat, berarti ia menegakkan sendi-sendi agama, dan siapa yang meninggalkan shalat, berarti dia telah meruntuhkan sendi-sendi agama."


Eril menunduk, pria itu kali ini tidak bisa berkata-kata mendengar penuturan istrinya. Penjabaran Rahma sama sekali tidak menghakimi siapapun, tetapi berhasil membuat Eril malu. Dia beragama islam, tetapi jangankan shalat lima waktu, shalat jumat saja sering kali dia tinggal dengan sengaja.

__ADS_1


Pria itu beranjak dari duduknya, keluar dari kamar hanya untuk ke kamar mandi untuk berwudhu.


__ADS_2