Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 36


__ADS_3

Cakra langsung mengejar Liora, berharap istrinya belum jauh. Ini sudah tengah malam, apa lagi jarak desa dan jalan raya lumayan jauh juga banyak tanah kosong. Cakra tidak mungkin membiarkan orang yang dia cintai kenapa-napa.


Nafas Cakra memburu, berhenti sejenak untuk mengantur nafas. Ada rasa lega dalam dirinya saat melihat Liora berdiri di pinggir jalan menunggu angkutan yang mustahil akan di dapatkan.


Cakra berjalan mendekat, langsung mengengam tangan Liora erat. "Maaf, apa yang kamu liat nggak benar Ra. Aku sama dia ...."


"Antar aku pulang, Liam udah tidur." Potong Liora tanpa ingin mendenger penjelasan Cakra.


Dia terpaksa meminta Cakra karena tidak punya pilihan lain.


Laki-laki itu hanya mengangguk, menarik tangan Liora menuju mobil dan mengantarnya pulang.


***


Cakra mencegah Liora turun saat mobil terparkir rapi di pinggir jalan. Dia menatap mata Liora sangat dalam juga teduh.


"Jangan dengarkan omongan orang ya Ra. Aku cuma cinta sama kamu, dan nggak bakal pernah misahin kalian berdua."


"Buka Cakra."


Bukannya membuka pintu mobil, Cakra malah mengambil Liam yang sudah tertidur di pangkuan Liora. Barulah setelah itu dia membuka pintu.

__ADS_1


Cakra mengikuti langkah Liora memasuki kamar untuk menidurkan Liam hati-hati. Setelah itu keluar kamar dan duduk di depan Tv.


"Udah setengah sebelas, aku nggak bisa balik ke penginapan, ngantuk berat. Nginap di sini boleh ya?" tanya Cakra.


Sebenarnya itu semua hanyalah alasan semata. Cakra ingin bermalam di rumah Liora, menikmati sarapan di pagi hari seperti dua tahun yang lalu. Dia merindukan kenangan indah keduanya.


"Ra?"


"Kamar cuma satu, kalau mau tidur di situ terserah kamu!" jawab Liora setelah itu masuk ke kamar tanpa meperdulikan Cakra lagi.


"Ra?" panggil Cakra lagi. Laki-laki itu menyusul ke kamar.


"Minta bantal sama tikar, obat nyamuk juga kalau ada."


Melihat hal itu, Cakra hanya bisa tersenyum.


"Jangan panggil aku Cakra kalau dalam satu bulan nggak bisa luluhin kamu Ra," gumanya.


Dia langsung mengelar tikar di depan Tv setelah menyingkirkan kursi ke tempat lain, tidak lupa membakar obat nyamuk.


Cakra tidak langsung tidur, laki-laki itu memperhatikan atap rumah Liora, bergantian dinding yang mulai rapuh. Kamar yang dia tempati sudah tidak ada, mungkin Liora membongkarnya agar Liam lebih bebas bermain.

__ADS_1


Suara decitan pintu membuat Cakra langsung memejamkan matanya. Walau begitu, suara langkah kaki masih dia dengar seperti mendekat.


Beberapa detik kemudian suara kaki itu kembali menjauh. Baru saja membuka mata, bayangan Liora melintas terlihat, reflek Cakra merubah posisi tidurnya membelakangi pintu dapur.


Cakra merasakan kain tipis namun terasa lembut menyentuh kulitnya. Hal itu membuat jantung Cakra berdebar. Bagaimana tidak, Liora diam-diam menyelimuti dirinya tanpa ada perintah.


Mungkin wanita itu mengira Cakra sudah tidur.


"Makasih Ra, anget banget," gumam Cakra.


"Aku cuma nggak mau masuk penjara karena kamu mati kedinginan di rumah ini," jawab Liora membuat Cakra kaget bukan kepalang.


Laki-laki itu langsung bangun dengan cengiran menyebalkan. "Liora?"


"Aku tau kamu belum tidur. Aku mau nanya sesuatu boleh?" tanya Liora.


Ya, setelah memantapkan hatinya di kamar, Liora memutuskan untuk menemui Cakra untuk menanyakan sesuatu yang menjanggal di hatinya.


"Apa?"


...****************...

__ADS_1


Gantung dulu biar kering


__ADS_2