
Seperti janji yang telah Cakra ucapkan tadi pagi sebelum berangkat bekerja, pria itu pulang ke rumahnya tepat waktu diantar oleh Rocky yang pikirannya sedang kacau meski berusaha tetap tenang. Cakra melirik asistennya yang sedang mengemudikan mobil dan hanya fokus pada jalanan.
"Arumi sehat?" tanya Cakra, bagaimanapun Arumi adalah keponakannya meski ayah balita itu hanya adik tiri.
"Baik Tuan, tapi sekarang sedang diasuh oleh istri Eril."
"Kenapa?" Kening Cakra mengerut.
"Saya akhir-akhir ini sangat sibuk dan naninya pulang ke kampung."
Cakra mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Pria itu segera turun dari mobil milik Rocky setelah sampai di rumah. Tidak lupa Cakra merapikan jasnya yang sedikit berantakan agar terlihat berkarisma di depan istrinya nanti.
"Pulanglah, hari ini sudah cukup sebelum kita berperang esok pagi," ujar Cakra dan dijawab anggukan oleh Rocky.
Cakra melangkahkan kakinya memasuki rumah mewah yang menjadi istananya untuk menghilangkan lelah di kala pekerjaan sedang melanda. Senyuman pria itu melebar melihat wanita cantik yang sudah rapi dengan dress berwarna zaitun di bawah lutut. Belum lagi rambut yang diabiarkan tergerai di bagian belakang, semakin menambah kecantikan istrinya.
"Aku dandan tepat waktu," sambut Liora sambil mengecup punggung tangan suaminya.
"Selalu cantik setiap saat, tetapi hari ini sangat-sangat cantik," bisik Cakra. Dia mendaratkan kecupan di pipi istrinya. Mengamit pinggang Liora menuju kamar untuk dia berganti baju. "Anak-anak mana?"
__ADS_1
"Lion dan Leona sama nani. Mereka sudah mandi sore. Liam ada di taman belakang bersama Eril," jawab Liora penuh senyuman. "Mas mau minun sesuatu dulu sebelum berangkat?"
"Tidak, kita bisa menikmatinya di luar sana," jawab Cakra.
Pria itu bergegas ke kamar mandi setelah menanggalkan pakaiannya dibantu oleh Liora. Sementara Liora sendiri kini menyiapkan setelan untuk suaminya, kemudian mematut ditinya di depan cermin. Mencari-cari kekurangan yang mungkin akan Cakra dapati dalam dirinya.
Terlalu serius mematut dirinya, Liora sampai tidak menyadari bahwa Cakta telah keluar dari kamar mandi. Wanita itu tersentak saat tubuhnya dipeluk dari belakang sangat erat.
"Kamu sangat sempurna, Sayang. Jadi jangan berdiri di depan cermin terus-menerus. Mas cemburu pada cermin yang bisa kau pandangi cukup lama, sementara mas hanya ditatap sekian menit."
Liora tertawa, dia menyentuh pipi Cakra yang kini berada di pundaknya. "Apakah masuk akal cemburu pada benda?"
Liam berkacak pinggang di ambang pintu sambil menatap mamanya yang sedang dipeluk oleh sang papa. Cemburu melihat hal tersebut, Liam segera berlari dan memisahkan keduanya. Bocah kecil itu berkacak pinggang di tengah-tengah orang tuanya. Menatap Cakra seakan mengibarkan bendera perang.
"Mama punya, Liam!" ucap Liam tegas.
"Mama punya papa!" Cakra ikut berkacak pinggang.
"Tidak boleh, papa! Mama Lilola cantik cuma milik Liam! Papa jelek kata mama!"
__ADS_1
"Heh?" Mata Cakra membola, tatapannya tertuju pada sang istri yang tengah menahan senyum sambil mengelengkan kepalanya. "Beneran papa, jelek?"
"Tidak, Pa. Papa sangat tampan," jawab Liora. Seakan ingin menjahili putranya, Liora langsung memeluk Cakra seolah memperlihatkan pada Liam bahwa dia bukan miliknya.
"Tuh lihat, Kan? Mama milik papa." Ledek Cakra.
Seketika wajah Liam memerah, belum lagi pipi yang semakin mengembung lantaran marah. Liora yang melihat itu segera melepaskan pelukannya pada sang suami, lalu berjongkok untuk memeluk putra sulungnya sangat erat. Tidak lupa mengecup pipi Liam berulang kali, hingga pipi itu mengempes layaknya ikan buntal yang airnya telah keluar.
"Mama cuma milik, Liam. Kasian papa sendirian, ya?" ujar Liora.
"Yey Liam menang. Liam ikut mama!"
"Heh? Tadi katanya mau sama om Eril? Mama sama Papa ada keperluan bentar, Sayang," ujar Cakra. Dia ikut berjongkok meski kesusahan karena hanya menggunakan handuk pendek.
"Pepelluan?"
Cakra mengangguk cepat, dia mendekatkan bibirnya pada telinga sang putra kemudian membisikkan sesuatu.
"Liam udah punya dedek 2!" Elak Liam menaikkan 3 jarinya.
__ADS_1