
Rahma, wanita itu sedang sibuk mencuci baju juga piring setelah Arhan tertidur dengan lelap. Sesekali Rahma akan ke kamar hanya untuk memastikan putranya baik-baik saja. Wanita itu dengan gesit menyelesaikan semua pekerjaan dan hendak istirahat sebelum Arhan bangun. Namun, waktu istirahat Rahma harus tertunda ketika seseorang mengentuk pintu kontrakan sesekali.
Wanita cantik berambut gelombang itu, segera ke kamar untuk mengganti hijabnya dengan yang lebih panjang sebelum membuka pintu yang diketuk berulang kali. Tubuh Rahma membeku, jantungnya berdetak tidak karuan melihat sosok pria berkemeja hitam garis-garis yang berdiri di hadapannya. Seketika dia menundukkan pandangannya.
"Ma-mas Wildan?" lirih Rahma, jujur saja sampai saat ini masih ada sedikit rasa cinta yang Rahma simpan untuk Wildan, tetapi wanita itu berusaha mengusirnya lantaran sadar hal itu sangat lah buruk, terlebih dia telah mempunyai suami yang jauh lebih baik dari siapapun. Suami yang ingin menerima dia apa adanya.
"Rahma, mas sangat merindukanmu. Maaf, mas telambat datang untuk menemuimu," ucap Wildan. "Apa mas boleh masuk?" tanya pria itu lagi.
Rahma mengelengkan kepalanya pelan. "Maaf, Mas Wildan. Abah dan suami aku tidak ada di rumah," jawab Rahma.
"S-suami?" Mata Wildan membola mengetahui fakta tersebut. Sampai detik ini Wildan tidak mendengar kabar apapun tentang pernikahan Rahma. Hati Wildan terasa nyeri mendapati kenyataan pahit tersebut. Dia terlalu lama meminta restu dari orang tuanya sehingga ditikung oleh seseorang. "Apakah dia ayah dari anakmu?" tanya Wildan.
"Bukan, Mas, tetapi dia pria yang mau menerima aku apa adanya dan tidak memberikan penghakiman atas apa yang menimpaku selama ini. Maaf, jika ini lancang untuk mas Wildan, tetapi jika tidak ada yang penting harus kita bicarakan, ada baiknya mas Wildan pergi. Suami saya sangat pecemburu."
"Rahma?" Rasanya Wildan ingin memeluk Rahma sakin rindunya, tetapi apa boleh buat wanita itu sekarang sudah jadi milik orang lain.
__ADS_1
Wildan melangkah mundur seiring pintu itu ditutup oleh Rahma. Lagi-lagi cintanya harus berakhir karena terlambat datang. Dulu Liora, sekarang Rahma, semuanya karena restu dari orang tua. Katanya pilihan orang tua adalah yang terbaik, tetapi orang tua Wildan pengecualian. Karena mereka, putranya telah kehilangan dua wanita yang dulunya tulus mencintai tanpa karena.
***
"Mas Cakra mau minum kopi atau jus?" tanya Liora yang baru saja membuka pintu ruangan kerja suaminya.
"Apa kamu tidak lelah, Sayang? Istirahatlah, selagi anak-anak tidur," sahut Cakra.
Pria itu meletakkan berkas yang dia teliti tadi, kemudian mendekati Liora yang tingkahnya masih saja aneh. Terlalu penurut dan ingin mengerjakan semuanya tanpa kenal lelah.
"Hey? Apa kamu seorang pelayan sehingga mau melayani mas dan anak-anak hm? Kamu itu istri mas, yang harus kamu lakukan hanya besantai dan memerintah." Cakra tertawa sambil mencubit pipi Liora gemas.
Liora memang membalas senyum itu, tetapi tidak dengan isi hatinya yang selalu ingin melakukan yang terbaik agar tidak membuat Cakra marah seperti sebelumnya. Dia akan melakukan apapun agar menjadi istri yang baik.
"Jus atau kopi?" tanya Liora.
__ADS_1
"Tidur siang bareng kamu." Manja Cakra.
"Ya sudah, ayo!" jawab Liora tanpa ada teguran atau atau protes seperti sebelumnya. Alih-alih senang, Cakra malah merasa ada yang tidak beres dengan tingkah istrinya.
"Lebih dari sekedar tidur?" tanya Cakra lagi semakin memancing reaksi Liora.
"Apapun boleh, Mas, asal jangan yang satu itu karena aku belum selesai nifas."
"Pergilah ke kamar lebih dulu, mas akan menyusul!" perintah Cakra.
Siapa yang menyangka Liora benar-benar pergi dari ruang kerja Cakra tanpa mengatakan apapun atau hanya sekedar mengerutu karena Cakra telah membuat keputusan seenaknya. Alih-alih menyusul Liora ke kamar, Cakra malah mengunci pintu ruangannya kemudian meninju tembok sekencang mungkin, bukan hanya sekali tetapi berkali-kali. Ini semua untuk melepaskan rasa kesalnya pada diri sendiri.
Karena kesahalannya, sikap Liora yang dulu telah hilang. Lioranya yang selalu penuh warna, kini pasrah dengan apapun yang dia katakan.
"Sikapmu kali ini membuat mas tersiksa Liora."
__ADS_1