Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 113 - Masalah proyek


__ADS_3

Waktu terus bergulir hingga tidak terasa usia kandungan Liora telah memasuk bulan kelahiran. Wanita yang tengah mengandung bayi kembar itu semakin hari semakin terlihat cantik dan membuat Cakra semakin bucin dibuatnya. Menanti kelahiran anak kembar mereka adalah hal yang menyengkan untuk Cakra, terlebih saat Liora melahirkan putra pertama mereka, dia jauh dari malaikat-malaikatnya.


Tangan Cakra sejak tadi bergerak mengelus perut buncit Liora tanpa terhalang apapun. Pria itu dan istrinya sedang berada di dalam kamar untuk istirahat di siang hari. Sesekali Cakra mengecup puncuk kepala sang istri.


"Antara senang dan deg-degan menanti putra kita, Ra," bisik Cakra.


"Ngapain deg-deg an sih? Mas, Ini bukan pertama kalinya aku melahirkan, ya meski sekarang harus caesar karena berat putra kita."


"Jangan banyak gerak salama satu minggu ini, biar nanti operasinya lancar."


Liora mengangguk cepat, wanita paruh baya itu tahu betul kekhawatiran suami bucinnya. Bahkan Cakra telah menambah keamanan rumah padahal Brian dan Rissa telah jauh dari mereka. Wanita berbadan dua itu merosotkan tubuhnya karena merasa pegal duduk setengah bebaring.

__ADS_1


"Nitip Liam, aku mau tidur siang dulu," ucap Liora sebelum memejamkan matanya.


Cakra mengangguk. "Tidurlah, aku keluar dulu nemuin Liam," bisik Cakra. Pria itu mengecup pipi mengembung istrinya sebelum meninggalkan kamar. Dia berjalan di sekitar lantai dua untuk mencari keberadaan putranya yang entah sedang ke mana. Usia yang telah berjalan 4 tahun itu membuat Liam semakin nakal dan aktif menjelajahi rumah. Entah bagaimana rempongnya Liora dan dia nanti saat baby kembar mereka lahir ke dunia.


"Liam!" Suara Cakra mulai terdengar di rumah mewah tersebut, membuat bocah kecil yang sedang berlarian di taman bersama Eril, menghentikan langkahnya. Alih-alih menghampiri sang papa, Liam malah menarik tangan Eril masuk ke sebuah sela tembok lumayan kecil, sehingga tubuh Eril sedikit terhimpit.


"Tuan Muda?" Eril menatap Liam sambil mengelengkan kepalanya, seolah berkata jangan bersembunyi.


"Om Eyil nanan libut!" perintah Liam dengan wajah cemberutnya membuat Eril tidak berdaya selain menuruti tingkah anak kecil yang kini akan menjadi bosnya.


"Tuan Cakra," panggil seseorag dari belakang.

__ADS_1


Cakra langsung membalik tubuhnya dan menemukan Rocky yang tengah berdiri di ambang pintu dengan wajah datar tanpa ekspresi.


"Ada apa?" tanya Cakra.


"Pembangunan proyek yang ada di Bali ditantang oleh warga sekitar, lantaran ganti rugi yang kita janjikan tidak sampai ke tangan mereka," lapor Ricky. Sebenarnya pria itu tidak ingin menganggu Cakra yang ingin bersantai di rumah, tetapi ada banyak hal yang harus Rocky urus, terutama bayi Rissa yang kini dia ambil alih agar tidak diasuh oleh Liora. Rocky takut anak itu nantinya akan membawa petaka bagi Liam atau pun anak-anak Cakra lainnya.


"Mereka ingin bicara secara langsung dengan Anda sebagai pemilik dari proyek ini," lanjut Rocky.


"Siapkan keberangkatan saya, kita akan berangkat dan langsung pulang!" perintah Cakra tegas dan dijawab anggukan oleh Rocky.


Pria berwajah datar itu segera meninggalkan rumah mewah tersebut, sementara Cakra kembali mencari putra nakalnya.

__ADS_1


...****************...


Hay readers tercinta aku. Otor balik lagi ke cerita ini dan akan melanjutkan kisah Eril, Cakra dan Rocky sekaligus. Jangan kemana-mana yau.


__ADS_2