
Cakra datang membawa dot berisi susu untuk Liam. Meski usia sudah tiga tahun, bocah itu masih minum susu melalui dot.
"Mimi Liam!" Bocah itu mengulurkan tangannya untuk mengambil dot di tangan Cakra.
"Habisin, setelah itu Liam bobo!" perintah Cakra dan dijawab gelengan oleh Liam.
"Liam aci au ain cama Mama. Liam bobo cini dedek," jawab Liam kembali berbaring seraya memeluk Liora yang tengah tertawa.
Wanita cantik itu setengah berbaring di atas ranjang.
Cup
Tanpa izin Cakra mengecup bibir Liora. "Gemes banget liatnya, kenapa bangun hm?"
"Anak kamu tuh masa masukin tangan di hidung aku," adu Liora membuat Liam tertawa padahal tidak tau artinya.
"Ais Papa." Liam menyerahkan dotnya pada Cakra.
"Sekarang Liam bobo, papa mau jengung dedek dulu ...."
Plak
Cakra mengusap kepalanya yang baru saja dipukul oleh sang istri.
"Omongannya difilter Sayang, mau Liam pengen jenguk juga hah?" kesal Liora.
"Ehe."
__ADS_1
***
Tiga bulan kemudian.
Cakra tersenyum sangat lebar melihat istrinya melalui pantulan cermin. Hari ini Liora seperti pengantin saja.
Gaun putih membuat istrinya terlihat sangat menawan, di tambah perutnya yang telah membuncit sebab usia kandungan memasuki bulan ke lima.
"Cantik banget istri mas," bisik Cakra membuat Liora tersipu malu.
"Apasih Mas, malu diliatin sama mbaknya," lirih Liora menundukkan kepalanya.
Ayolah tidak tahuka Cakra sekarang jantung wanita cantik itu telah berdegup begitu cepat sejak pagi? Liora sama sekali tidak mengerti kenapa sejak pagi suaminya sangat sibuk mempersiapkan ini itu, tapi dia hanya nurut agar Cakra tidak ngambek.
"Mas sebenarnya ini ada acara apa sih?" tanya Liora membalik tubuhnya ketika MUA sudah selesai merias.
"Sudah semua?" tanya Cakra pada pelayan yang berjejer rapi.
"Sudah Tuan!"
"Kalau begitu bersiapkan yang lain, saya harus pergi sekarang, semua orang sudah menunggu," ketus Cakra.
"Semua?"
"Hm."
Laki-laki tampan itu jongkok tepat di depan Liora, mengecup punggung tangan istrinya sekali lagi dengan penuh kasih Sayang.
__ADS_1
"Makasih Ra, udah mau melengkapi hidupku, memberi warna dan membersamaiku di sisa hidupku ini," ucap Cakra dengan tatapan penuh cinta.
Meski bingung, Liora tetap saja menganggukkan kepalanya. Menjadi istri seorang Aleksander Cakra lubis tidak pernah terpikirkan olehnya. Menjadi wanita paling beruntung dan dijadikan ratu bahkan tidak pernah Liora mimpikan. Namun, semuanya terjadi tanpa rencana.
"Aku hampir nangis," lirih Liora mendongak agar air mata tidak menghapus make up di wajahnya.
"Bumilku Sayang, selamat ulang tahun. Selamat ulang tahun yang ke 26."
"Mas hari ini aku ...." Liora mengangga tidak percaya, bahkan hari lahirnya sendiri dia lupakan karena terlalu fokus pada hal-hal lain.
"Hm, Mas nggak mungkin lupa sama hari lahir kamu, liam bahkan tanggal pernikahan dan kapan kita bertemu, karena itu semua adalah hal yang sangat penting dalam hidup mas Ra."
"Sayang," panggil Liora manja. Wanita itu langsung memeluk suaminya sangat erat.
"Tuan, apa Anda akan di rumah saja?"
Cakra mendengus kesal, suasana romantis yang sempat tercipta di antara dia dan istrinya harus buyar karena kedatangan asisten tidak berakhlaknya.
"Liam bagaimana?"
"Sudah tampan Tuan," jawab Eril dengan cengiran.
Akhirnya Cakra menarik tangan Liora keluar dari kamar, salah satu pelayan ikut berjalan di belakang Liora untuk memastikan ekor gaun nyonya Aleksander tidak nyangkut di manapun.
"Sebenarnya kita mau kemana Mas?" tanya Liora sekali lagi.
"Rahasia Sayang, sabar dikit bisa kan?"
__ADS_1