
"Sayang, dasi biru garis-garis aku mana?" teriak Cakra dari dalam kamar, membuat Liora yang sedang memomong anaknya menghela napas panjang. Dia sudah mempunyai tiga anak, tetapi sikap Cakra tidak pernah berubah. Selalu repot jika di pagi hari.
"Ambil yang ada dulu, Mas!" sahut Liora. Dia menatap dua nani yang sedang berdiri di samping kanan dan kirinya. "Tolong ya dijagain," pintanya sopan, kemudian berjalan menuju kamar untuk menemui sang suami.
Dia menghela napas panjang melihat Cakra yang ternyata duduk di sisi ranjang hanya menggunakan handuk. Dia mengira suaminya telah rapi, tinggal memasang dasi saja, nyatanya belum mandi. Liora bersedekap dada ketika Cakra menyengir ke arahnya.
"Mas lupa kalau punya anak kembar? Jangan mau terlalu di manja kayak sebelumnya," omel Liora.
"Ada Nani yang jagain mereka, Sayang. Lagian kalau malam waktu kamu habis sama mereka. Ini masih pagi, kembar udah mandi dan kenyang, nggak salah sama nani dulu." Cakra memanyunkan bibirnya.
Tidak tahan dengan kegemasan sang suami, Liora segera mendekati pria anak tiga itu. Mengecup bibir Cakra yang mengerucut. "Ya udah ayo mandi, sekalian cukur bulu-bulu halusnya," ucapnya.
Cakra mengangguk cepat, segera berjalan ke kamar mandi bersama sang istri. Cakra duduk di pinggir bathtub, memeluk pinggang istrinya sambil mendonggak. Dia bersiap dicukur oleh sang istri tercinta.
__ADS_1
"Mama, Liam duda mau mandi!" pekik Liam yang kini berdiri di depan kamar mandi. Bocah kecil itu berkacak pinggang dengan rambut acak-acakan.
"Eh putra mama udah bangun, ayo sayang sekalian sama papa." Liora melepas paksa pelukan Cakra, kemudian menghampiri putranya. Liora berlutut hanya untuk mengecup kedua pipi Liam sebelum akhirnya mengajak duduk di pangkuan Cakra.
Wanita itu segera menyelesaikan urusannya dengan sang suami, kemudian meninggalkan dua laki-laki berbeda generasi itu di kamar mandi. Dia kembali menghampiri Lion dan Leona yang ternyata sedang jalan-jalan di dalam rumah. Liora mengambil napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Harinya kini dimulai dengan kelelahan karena harus mengurus tiga anak kecil dan satu bayi besar.
***
Jika di kediaman Alexander sedang sibuk-sibuknya, maka berbeda dengan Eril yang kini tengah duduk di sofa seorang diri. Tangan pria itu terasa dingin, dia sangat gugup lantaran beberapa jam lagi akan melakukan Akad di masjid terdekat kontrakan Rahma. Yang jadi masalah saat ini, hanyalah restu kakaknya.
Eril melirik ponselnya yang tiba-tiba berdering, awalnya dia tidak ingin menjawab, tetapi karena tahu itu dari bosnya, mau tidak mau Eril meraih benda pipih tersebut.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Eril sopan. Sebenarnya dia merasa aneh karena Cakra menghubunginya pagi-pagi, padahal dia telah meminta izin dengan alasan keperluan penting.
__ADS_1
"Temui saya di perusahaan setengah jam lagi!" perintah Cakra di seberang telpon.
"Maaf, Tuan, tapi saya tidak bisa. Saya ada urusan mendesak yang akan ...."
"Temui saya sekarang atau kau akan dipecat!" ancam Cakra.
Eril memejamkan mendengar ancaman tersebut. Dipecat oleh Cakra adalah neraka untuknya, terlebih Rocky tidak mendukung pernikahan ini. Yang ada dia hanya akan membuat Rahma sengsara. Eril meremas benda pipih di tangannya setelah panggilan terputus. Dia segera beranjak untuk melasanakan perintah Cakra sebelum waktu akad yang telah ditentukan tiba.
Pria itu meninggalkan apartemen kakaknya, melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata agar bisa sampai dengan cepat ke kantor. Dia memarkirkan mobilnya di basemen setelah sampai di kantor. Eril mengancingkan jasnya kemudian turun dari mobil.
"Tuan Eril, anda sudah lama ditunggu oleh Tuan Cakra dan Rocky," sapa sekretaris Cakra ketika Eril telah sampai di depan ruangan bos nya.
Eril perlahan-lahan membuka pintu ruangan Cakra, tersenyum kikuk pada dua pria yang sama-sama menyeramkan jika tidak tersenyum. Alih-alih duduk, dia malah berdiri di depan mereka.
__ADS_1
"Duduk!" perintah Cakra. "Kau mengambil libur karena akan menikah bukan? Kenapa kau tidak memberitahu saya?"