
Tidak terasa sudah tiga hari sejak Liora melahirkan di rumah sakit, dan hari ini mereka akan pulang ke kediaman Alexander bersama putra dan putri mereka yang terlihat sehat. Cakra dengan setiap memapah Liora berjalan, lantaran wanita itu tidak ingin memakai kursi roda, sementara dua anaknya digendong oleh dua pengasuh yang telah Rocky cari. Pengasuh bukan sekedar pengasuh, mereka adalah perawat muda yang telah Rocky pastikan latar belakangnya.
Rocky membukakan pintu mobil pada tuan dan Nyonya. Mempersilahkan para nani menyerahkan dua bayi mungil tersebut. Kemudian dua perawat itu menggunakan mobil yang berbeda dengan Rocky, Cakra dan Liora. Itu semua atas perintah Cakra yang roman-romannya alergi pada perempuan untuk saat ini.
Sepanjang perjalanan pulang, Rocky terus dibuat panas dingin dengan kebucinan Cakra pada istrinya. Sesekali Rocky melirik kebelakang dan mendapati Cakra mencium kening Liora.
"Alihkan perhatianmu jika tidak ingin panas!" ucap Cakra tegas.
Seketika Rocky memfokusnya atensinya pada jalan raya yang mulai padat akan pengendara, mungkin karena waktu pulang kerja. Pria itu memarkirkan mobilnya dengan aman setelah sampai di depan rumah Cakra, begitupun dengan mobil hitam yang setia mengikuti dari belakang.
Di depan sana, di ambang pintu. Ada Liam yang berdiri sambil berkacak pinggang bersama Eril yang berdiri tegap. Bocah itu berlari sekencang mungkin ketika melihat mama dan papanya turun.
"Mama, Liam tanen!" teriak Liam. Bocah itu merentangkan tangannya lebar-lebar, tidak memperhatikan sekitar sehingga sepatu yang dia kenakan tersandung, membuat dia terjatuh di lantai. Tangisan seketika terdengar di depan rumah, terlebih lutut kecil itu tergores dan mengeluarkan darah.
"Sayang?" Cakra berjalan cepat dan mengendong putranya. "Cuma luka kecil, jangan nangis. Suka lari-lari harus berteman sama luka," ucapnya. Meski begitu Cakra tetap mengusap air mata putranya.
__ADS_1
"Jangan diomelin, Mas!"
"Liam tanen." Bocah itu memanyungkan bibirnya, memeluk leher Cakra dan menyembunyikan wajah cemberut di sana.
"Papa juga kangen Liam. Ayo obatin lukanya, setelah itu ketemu dedek!" seru Cakra dan dijawab anggukan antusias oleh Liam.
Mereka semua berjalan masuk ke rumah mewah milik Cakra. Berpencar sesuai arahan masing-masing, begitupun dengan baby L yang di bawa ke kamar oleh para pengasuh. Sementara Liora dan Liam, diajak ke kamar oleh Cakra.
"Istirahat dulu, biar mas yang obatin Liam," ucap Cakra. Pria itu mendudukkan diri di sisi ranjang. Mendorong pundak Liora pelan dengan sebelah tangan, sementara sebelahnya lagi mengalung di pinggang kecil Liam agar tidak terjatuh.
"Iya, Sayang," jawab Cakra.
"Mama cepat cembuh." Liam mengusap kening Liora penuh kelembutan, membuat wanita itu tersenyum.
Cakra yang melihat putranya anteng, segera beranjak dari sana untuk mengambil kotak P3K yang tersedia di dalam kamar. Setelahnya kembali duduk di sisi ranjang.
__ADS_1
"Liam senang punya dedek?" tanya Cakra basa-basi. Itu semua hanya untuk mengalihkan perhatian putranya agar tidak terlalu merasakan sakit.
Liora yang mengertipun ikut mengalihkan perhatian putranya. Bercerita banyak hal tentang baby L yang membuat Liam semakin antusias.
"Liam udah tau nama dedeknya?" tanya Liora.
"Belum, Mama."
"Dedek laki-lakinya, namanya Lion, dan dedek perempuan namanya Leona."
"Liam?"
"Liam jadi abang, punya dua adek. Sekarang putra mama punya dua teman."
"Cacit!" Cakra dan Liora sama-sama terkejut mendengar pekikan putranya yang tiba-tiba. Sepertinya Cakra terlalu menekan luka itu.
__ADS_1