
Ingin mengembalikan keharmonisan rumah tangganya seperti dulu, membuat Cakra selalu berhati-hati mengambil tindakan agar tidak menyinggung perasaan Liora atau membuatnya takut. Terlebih kata dokter, ibu yang baru saja hamil rentang depresi yang disebabnya oleh banyak hal, dan Cakra takut itu terjadi pada istrinya yang memang sedikit depresi akibat kisah di masa lalu.
Pria itu tidak lagi merepotkan Liora di pagi hari. Dia mandi tanpa menjahili istrinya yang lebih perasa. Mengambil pakaian di lemari jika melihat wanita itu sibuk dengan si kembar di ranjang. Namun, satu yang tidak akan mau Cakra lakukan, yaitu memasang dasi di lehernya. Dia ingin yang memasangkan adalah istri tercinta.
"Sayang, apa kamu sudah mengurus anak-anak?" tanya Cakra. Dia menghampiri istrinya yang sedang berdiri membelakangi. Dia tersenyum ketika Liora membalik tubuhnya. Tanpa abah-abah dia mengecup pipi Liora. "Cantik banget sih istri, Mas," puji Cakra.
"Sudah, Mas. Aku akan pakaikan dasinya," jawab Liora cepat. Wanita itu mengambil dasi yang tersampir di pundak sang suami, mulai mengalungkan di leher Cakra dan melilitkannya agar telihat lebih rapi.
Sementara Cakra sendiri mengambil kesempatan dengan cara melingkarkan tangannya di pinggang ramping sang istri. "Kita jalan-jalan sebentar sore ya? Akhir-akhir ini kita jarang punya waktu berdua saja," ucap Cakra sambil menatap Liora.
"Bagimana dengan anak-anak?"
"Kita bisa menyerahkannya pada nani. Meninggalkannya beberapa jam tidak masalah, Sayang."
__ADS_1
"Aku ikut apa kata, Mas aja. Oh iya, makan siang di rumah?"
Cakra mengelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Tidak, Mas akan menjemputmu nanti sore. Istirahatlah jika anak-anak tidak rewel. Jangan melakukan apapun!"
"Aku mengerti." Liora tersenyum. Wanita itu berjinjit hanya untuk mengecup pipi Cakra yang masih memperlihatkan senyum hangat. Pagi ini, dirinya merasa disayangi oleh Cakra, hatinya menghangat.
"Mas pergi dulu." Cakra mengecup kening Liora sebelum keluar dari kamar. Pria itu kali ini akan berangkat ke kantor sendirian tanpa menunggu Rocky. Mereka berdua telah sepakat akan langsung bertemu di kantor saja, terlebih ada banyak hal yang harus Cakra selesaikan sebelum kerajaan yang mati-matian dia pertahankan roboh.
Pria itu duduk dengan tenang di jok belakang mobil, memperhatikan lalu lalang kendaraan yang mulai padat akan kendaraan. Mungkin karena para pekerja beserta anak sekolah berbondong-bondong meninggalkan rumah. Sepanjang perjalananan menuju perusahaan, Cakra hanya terdiam. Bukan dengan pikiran kosongnya, tetapi memikirkan jalan keluar dari setiap masalah yang menimpa.
***
Sebelum menuju perusahaan Alexander Group, Rocky lebih dulu melajukan mobilnya menuju rumah adik ipar yang tidak pernah dia inginkan menjadi bagian dari keluarganya. Namun, siapa yang menyangka, wanita yang dia tolak keberadaanya malah bersedia mengasuh balita kecil yang telah dia angkat menjadi seorang putri. Balita yang dia beri nama Arumi, seperti nama gadis yang meninggalkannya tiga tahun yang lalu bersamaan dengan hilangnya Cakra dulu.
__ADS_1
Pria itu memarkirkan mobilnya tepat di depan kontrakan Rahma, melirik sekitar untuk menunggu kedatangan Eril.
"Papa?" gumam Arumi di pangkuan Rocky.
"Baik-baik di rumah ini, saya tidak bisa menemuimu untuk beberapa hari ke depan," ucap Rocky seakan berbicara pada orang dewasa. Sepertinya memang Arumi tidak boleh terlalu dekat dengan Rocky, arau balita itu akan dewasa sebelum waktunya.
"Ma-ma-ma," gumam Arumi, tetapi tidak direspon oleh Rocky.
Pria itu membuka pintu mobil ketika melihat Rahma dan Eril berjalan mendekat. Dia turun dari mobil sambil mengendong Arumi yang sangat cantik hari ini.
"Hay Sayang, sama tante dulu ya?" sapa Rahma setelah berada di hadapan Rocky. Wanita itu segera mengambil alih Arumi dari gendongan Rocky, sementara Eril sibuk menurunkan barang bawaan Arumi lantaran tahu kakaknya sedang buru-buru.
"Kak Rocky tidak mampir dulu?" tanya Rahma.
__ADS_1
"Saya buru-buru," jawab Rocky kemudian kembali masuk pada mobilnya. Pria itu hanya membunyikan klakson lalu melesatkan benda besi itu meninggalkan halaman kontrakan Rahma.
"Kak Rocky sedang buru-buru dan sikapnya memang seperti itu," ucap Eril memberitahukan, tidak ingin Rahma tahu bahwa hubungan mereka ditentang oleh pria dingin tersebut.