Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 32


__ADS_3

Liora terkejut mengetahui pak Soleh datang kerumahnya. Jika pria tua itu sudah datang, maka hal penting tentu saja akan di bicarakan. Liora melempar senyumnya, menunduk sopan untuk menyapa pak Soleh.


"Masuk dulu, Pak." Sopan Liora.


"Di luar saja Nak, abah cuma sebentar," jawab pak Soleh duduk di kursi batu.


Liora ikut duduk di samping pak Soleh. Dia meremas jari-jari tangannya untuk menghilangkan kegugupan.


"Kalau boleh saya tau, ada apa pak Soleh kesini?" tanya Liora lagi.


"Tadi Wildan nanya sama abah, katanya 'Boleh nggak Abah kalau kita ngajarin anak kita benci sama ayahnya?' "


Liora terdiam. Sudah dapat di tebak kemana arah pembicaraan pria tua di sampingnya.


"Abah kesini karena nebak pasti yang di maksud Wildan itu kamu. Abah bukannya mau ikut campur rumah tangga kalian. Abah cuma mau ngasih masehat sebagai orang tua." Pak Soleh menjeda kalimatnya sejenak.


"Mau kamu mandikan Liam sebanyak air di laut, itu nggak akan bisa ngehapus darah Cakra dalam tubuhnya Nak. Kamu boleh membenci suami kamu, tapi nggak untuk ngajarin anak kamu benci sama ayahnya."


Tidak ada sahutan dari Liora. Wanita itu semakin menundukkan kepalanya, dia tahu dirinya salah, tapi ini dia lakukan karena satu alasan.


"Jangan karena rasa sakit yang kamu rasakan, Liam harus menanggung semuanya, dia masih kecil, butuh kasih sayang kedua orang tuanya."


"Tapi Pak, saya takut Cakra bakal ngambil Liam," lirih Liora.


"Abah bakal jadi orang pertama yang bela kamu kalau saja Cakra berani ngambil Liam. Di sini abah cuma mau kamu jujur sama Liam siapa Cakra sebenarnya, kenalkan dia pada ayahnya. Cepat atau lambat dia harus mengetahui itu."


"Maaf Pak," balas Liora.


"Nggak papa, namanya juga perasaan. Apa lagi kamu hidup tanpa ada orang tua di sekitar. Semoga kamu bisa melapangkan hati untuk anak kamu Nak."


Usai memberi patuah panjang lebar pada Liora, pak Soleh segera undur diri karena banyak pekerjaan. Ucapan bu Firda beberapa bulan yang lalu menjadi kenyataan. Pak Soleh berhasil menjadi kepala desa, bukan mencalonkan diri, tapi di pilih oleh warga sebab kebaikan dan tanggung jawabnya.


Sementara di sisi lain, Liora terus memikirkan perkataan pak Soleh, dan membenarkan semuanya. Dia menatap putranya yang tidur dengan lelap. Mengusap rambut lembut Liam pelan.


"Maafin mama karena egois mikirin diri sendiri selama ini Nak. Sepertinya benar, mama nggak seharusnya misahin kalian." Setetes air mata kembali membasahi pipi Liora.


Sebelum mengerjakan hal-hal lainnya, Liora mengecup kening putranya penuh kasih Sayang.


***

__ADS_1


Jika siang tadi Liora di kagetnya karena kedatangan pak Soleh, kali ini wanita itu di kagetkan sebab kedatangan Cakra tanpa di duga.


Entah sejak kapan laki-laki tampan beralis tebal itu duduk di depan rumahnya.


"Ngapain ke rumah aku?" tanya Liora. Hampir saja wanita itu menjatuhkan sampah di tangannya.


"Ra, kamu masih marah sama aku? Ngomong aja, aku harus ngapain biar kita sama-sama lagi," pinta Cakra dengan wajah putus asa.


"Nggak ada."


Cakra menghela nafas panjang mendengar jawab wanita yang dia cintai.


"Aku bakal ke kota malam ini, aku kesini mau ketemu Liam, apa boleh?"


Lama Liora terdiam sebelum menganggukan kepalanya. Hal itu berhasil mengundang senyum di bibir Cakra.


"Dia tidur di kamar, kamu boleh nemuin dia tapi jangan ganggu tidurnya," ucap Liora.


"Makasih Say ....Ra." Cakra buru-buru meralat kalimatnya takut Liora mengamuk jika di panggil Sayang.


Laki-laki itu langsung melepas sepatu, kemudian mesuk kerumah sederhana tersebut. Dia tersenyum melihat putranya tidur beralaskan kasur tidak terlalu tebal.


"Jangan biasain dia boros," celetuk Liora di ambang pintu.


Cakra segera berdiri lalu menghampiri Liora, tanpa meminta izin dia langsung mengecup pipi istrinya itu. "Aku janji bakal balik, jaga diri di sini."


"Jangan janji, kamu nggak pernah nepatin apapun," gumam Liora memandangi kepergian Cakra yang menghilang di balik horden.


***


Cakra menyandarkan punggung lebarnya pada sandaran kursi. Dia sampai subuh tadi, hanya beristirahat sebentar kemudian menuju kantor.


Ada beberapa berkas yang harus dia urus selain proyek yang ada di desa Luwut. Kali ini dia mempunyai banyak kesibukan. Mengambil hati Liora, proyek pembangunan dan rumah mewah untuk istri dan anaknya. Juga, menyelidiki latar belakang Brian yang sebenarnya.


Cakra terus memandangi surat yang ada di genggamannya. Siapa saja akan kecewa dan membeci dirinya jika membaca surat tersebut. Surat itu Cakra dapatkan dari Liora langsung. Cakra sangat mengenali siapa pemilik tulisan itu. Tulisan tangan Cakra dan Brian hampir sama, jika orang baru mereka tidak akan bisa membedakannya.


"Tuan Brian sudah menuju kesini Tuan," ucap Asisten Cakra.


"Saya tahu. Pergilah ke desa Nelayan, kerjakan apa yang sehasrunya kamu kerjakan," perintah Cakra tanpa mengalihkan tatapannya dari kertas.

__ADS_1


Tepat saat Asisten Cakra membuka pintu, Brian juga datang dengan senyuman manis sebab tidak tahu kejadian di desa nelayan.


Tentu saja, sebab Cakra sudah menyingkirkan anak buah laki-laki itu tanpa ada jejak sedikitpun. Selama beberapa hari ini, Brian menerima kabar palsu dari anak buah Cakra yang bertugas menjaga Liora.


"Aku mengira kak Cakra kentol perawan desa sampai betah di sana," celetuk Brian langsung duduk.


Remasan Cakra pada kertas semakin kuat karena geram. Laki-laki itu melempar gulungan kertas tersebut pada tempat sampah, kemudian menghampiri Brian dengan senyum smirknya.


Tanpa abah-abah, Cakta melayangkan bogeman tepat di pelipis Brian.


"Apa yang Kak Cakra lakukan?" tanya Brian langsung berdiri.


Bukannya menjawab, Cakra malah menarik kerah kemeja Brian sangat erat. Pupil mata lelaki itu melebar, nafasnya memburu.


"Beraninya kau membongi aku selama ini Brian! Kau mengatakan istri dan anak aku sudah meninggal, nyatanya nggak! Aku membuat mereka benci padaku!"


Cakra mendorong tubuh Brian hingga membentur rak buku lumayan tinggi.


"Sial, aku mengira dia bodoh selama ini," batin Brian merapikan kemejanya.


"Aku melakukan ini semua demi kebaikan kak Cakra!"


"Demi kebaikan aku atau kamu?"


"Aku nggak mau anak dan istri kak Cakra dalam bahaya, itulah mengapa menyembunyikannya. Lawan bisnis papa sangatlah menyeramkan."


"Sepeduli itu?" Cakra senyum mengejek. "Enyah kau sekarang juga, atau aku akan membunuhmu!" bentak Cakra kembali melayangkan pukulan pada tubuh Brian, kali ini menendang perut laki-laki itu, hingga Brian terbatuk.


Tidak ingin memperkeruh suasana dan membuka semua kedoknya, Brian segera meninggalkan Cakra tanpa perlawanan. Dia tahu di ruangan tersebut ada CCTV, sekali saja dia melukai CEO Aleksander Group, maka dia akan berada di balik jeruji besi.


Orang-orang di belakang Cakra sangat berpengaruh, sebab kakaknya itu menjadi kebanggan ayahnya sejak dulu.


...****************...


Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπŸ₯°πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉ


Follow untuk melihat visual


IG: Tantye005

__ADS_1


Tiktok: Istri sahnya Eunwoo


__ADS_2