Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Pqrt 115 ~ Menitipkan Liora


__ADS_3

Seperti pembahasan mereka tadi sore, malam ini Cakra bersiap-siap untuk berangkat dengan alasan urusan pekerjaan. Sejak itu pula, Liora selalu berada di dekat sang suami. Mengumamkan banyak kalimat tentang kesehatan ataupun hal-hal lainnya, padahal Cakra hanya pergi satu hari saja.


"Udah Sayang, udah. Mas tahu kok," ucap Cakra menghampiri istrinya yang sedang menyiapkan bekal, padahal sebenarnya itu tidak perlu.


"Mas tahu tapi sering lupa kalau sibuk kerja."


"Baiklah, biarkan istri cantik mas mengomel tiada henti." Cakra akhirnya mengalah. Pria itu memeluk istrinya dari belakang tanpa memperdulikan dua bersaudara yang tengah berdiri di seberang meja pantri.


Eril yang sejak tadi melihat keuwuan itu ingin rasanya memesah tiket ke mars lantaran sangat iri melihat keromantisan yang tidak bisa dia lakukan pada wanita yang dia sukai. Bahkan dia terhalang oleh sesuatu yang sangat jelas, belum lagi sang kakak tidak merestui hubungan mereka. Eril ingat betul saat dia dikirim ke luar negeri karena ketahuan diam-diam menemui Rahma.


"Udah otw punya bontot tiga, masih aja nggak tahu tempat," gumam Eril ketika melihat Cakra mengecup leher Liora yang sejak tadi terekspos lantaran wanita berbadan tiga itu tengah mencepol rambutnya. Eril meringis sembari memegangi perutnya yang terasa nyari akibat sikuan sang kakak.

__ADS_1


"Jaga bicara kamu!" tegur Rocky.


"Baiklah, aku akan tutup mulut," pasrah Eril. Dia kembali menegakkan tubuhnya seperti yang dilakukan oleh sang kakak, saat Tuan Cakra menghampiri dengan setelan jas yang sangat rapi.


"Eril, saya titipkan istri dan anak-anak saya pada kamu. Ingat, mereka tidak boleh terluka sampai saya pulang!" titah Cakra dengan tegas.


"Akan saya pastikan semuanya baik-baik saja, Tuan!" sahut Eril.


"Rocky, di dalam tas ini ada bekal untuk kalian berdua, jangan telat makan ya," ucap Liora menyerahkan tas kecil pada Rocky. Pria itu dengan sigap menerima pemberian sang nyonya, meski ada rasa was-was melihat tatapan Cakra. Sungguh tuannya sangat pecemburu.


"Kalian duluanlah!"

__ADS_1


"Baik." Dua bersaudara itu segera meninggalkan meja pantri, menyisakan Liora dan Cakra. Liam? Bocah nakal itu telah tertidur, itulah mengapa Cakra berangkat.


"Hati-hati, kalau udah sampai kabarin aku. Aku nggak bakal tidur sebelum ada kabar dari, Mas."


"Iya, Sayang." Cakra mengecup kening istrinya, kemudian berjalan beriringan menuju mobil yang telah terparkir rapi di depan rumah. Cakra dan Rocky akan berangkat bersama untuk menangani masalah di sana.


Pria itu melambaikan tangannya setelah berada di dalam mobil dan dibalas lambaian tangan oleh Liora yang berdiri tidak jauh dari Eril. Cakra menyandarkan kepalanya setelah mobil perlahan-lahan meninggalkan pekarangan rumah. Lirikan pria itu tertuju pada sang asisten yang duduk di jok depan bersama sang sopir.


"Coba kau cari tahu sekali lagi, sepertinya saya tidak rela jika harus meninggalkan Liora di rumah!" perintah Cakra dan dijawab anggukan oleh Rocky.


Asisten cekatan itu mulai menjelajahi ponselnya, sibuk mengirim pesan atau pun menjawab telpon dari orang-orang penting. Sementara Cakra sendiri, meneliti berkas-berkas yang diberikan oleh Rocky. Berkas itu berisi pengeluaran dana tentang proyek di Bali. Menurut laporan, perusahaan telah mengeluarkan banyak dana, tetapi proyek belum berjalan semestinya, terlebih para warga yang rumahnya telah digusur kembali menuntut hak ganti rugi.

__ADS_1


"Tuan, cuaca sedang buruk untuk melanjutkan perjalanan," ucap Rocky tiba-tiba. Bagaimana tidak, hujan turun begitu derasnya di tengah-tengah kota.


__ADS_2