
Bukannya marah mendengar penuturan Rahma, Eril malah mengembangkan senyumnya. Pria itu mengangkat dagu Rahma agar mau menatapnya. "Memangnya apa yang kamu pikirkan tentang Mas, hm? Siapa yang telah mempengaruhi pikiran istri cantik mas?" tanya Eril penuh kelembutan.
"Maaf, Mas. Harusnya aku lebih mempercayai mas dibandingkan orang lain. Aku tahu mas tidak mungkin melakukan itu padaku atau pun putraku," ujar Rahma sedikit tidak jelas dan tidak beraturan. Itu karena dia merasa gugup juga penuh rasa bersalah pada suami yang tidak pernah marah padanya.
"Melakukan apa?" Kening Eril mengerut.
"Bekerja sama dengan tuan Zayn, untuk memisahkan aku dan putraku karena Mas tidak mau Arhan ada di antara kita."
"Siapa yang mengatakan hal itu?"
"Ma-mas Wildan," jawab Rahma cepat.
Detik itu juga tangan Eril mengepal hebat, emosi pria itu langsung tersulut, bukan pada istrinya, melainkan pada Wildan yang berani membuat pikiran Rahma kacau. Pria itu menutup matanya, berusaha meredam emosi yang seakan menguasai diri. Dia memaksakan senyuman untuk menutupi rasa marah yang bersemayang di hatinya.
"Jika mas ingin melakukan itu, untuk apa mas membuang waktu untuk memisahkan kalian? Bisa saja maa mengambil paksa Arhan dan membawanya ke pria brengsek itu."
"Maaf." Rahma semakin menundukkan kepalanya, sehingga tatapannya tertuju pada Arhan yang berbicara sendiri.
"Tidak perlu meminta maaf, mas tahu bagaimana perasaan kamu. Mas tahu kamu sangat menyayangi putra kita sehingga takut kehilangannya. Percaya sama mas, mas tidak akan membuat kamu dan Arhan terluka."
Eril maju satu langkah, lalu mengecup kening Rahma sangat lama. "Sarapanlah dan tenangkan diri kamu, mas ada urusan sebentar," gumam Eril, kemudian bergegas meninggalkan rumah tanpa menyentuh sarapan yang telah terhidang di meja makan.
Sepeninggalan Eril, Rahma menjatuhkan tubuhnya pada kursi makan. Dia mengusap wajah kasar lantaran merasa gagal menjadi istri yang baik.
"Harusnya aku tidak meragukan, Mas Eril. Sekarang, pasti perasaannya sangat teluka," ucap Rahma penuh rasa penyesalan.
***
__ADS_1
Dua manusia dengan kepribadian yang sangat bertolak belakang harus berada di satu ruangan yang sama karena tragedi kemarin sore. Dua manusia itu tidak lain adalah Rocky dan Alea. Sejak bangun tidur, tidak ada pembicaraan di antara mereka. Rocky dan Alea hanya sibuk dengan benda pipih masing-masing lantaran sama-sama marah akibat perdebatan semalam.
"Selamat pagi, nyonya Alea, waktunya untuk sarapan dan minum obat," ucap perawat yang membawakan makanan rumah sakit yang telah diracik oleh ahli gizi secara langsung. Terlebih kini kandungan Alea sangat lemah lantaran baru kehilangan banyak darah.
Perawat tersebut meletakkan nampang di atas nakas, sesekali melirik Rocky dan Alea yang tampak seperti orang asing, padahal di data tertera mereka sepasang suami istri. Rumah sakit Al-Ikhlas tidak terlalu mencari data-data resmi Alea, karena Rocky mengambil jalur mandiri. Di mana menginap satu malam saja akan memakan jutaan rupiah.
"Setelah sarapan, anda jangan lupa meminum obatnya agar kandungan nyonya lebih kuat lagi," ujar sang perawat dan hanya dibalas senyuman palsu oleh Alea.
"Kapan saya bisa pulang?" tanya Alea.
"Nyonya bisa mengetahuinya setelah dokter yang menangani nyonya datang," jawab perawat tersebut, kemudian keluar dari ruangan perawatan, dan lagi-lagi menyisakan Alea dan Rocky.
Lirikan Rocky tertuju pada Alea yang memandangi makanan rumah sakit dengan malas, seakan tidak punya selera.
"Kamu ingin memakan yang lain?" tanya Rocky.
"Alea!"
"Saya ingin pulang, kenapa tuan tidak mengerti?"
"Jangan keras kepala Alea! Makan, makanan itu lalu minum obat kamu!" ujar Rocky penuh penekanan. Pria itu beranjak dari duduknya setelah meletakkan benda pipihnya di atas meja. Dia menghampiri Alea dengan tatapan tajamnya, tetapi itu tidak membuat Alea takut lagi, lantaran rasa bencinya jauh lebih mendominasi.
"Saya tidak mau! Memakannya sama saja saya menyelamatkan calon bayi kamu!" jawab Alea tegas.
"Makan!"
"Tidak!"
__ADS_1
"Jangan membuat saya melakukan hal kasar!" ancam Rocky, tetapi Alea tetap bergeming di tempatnya.
Melihat hal itu, Rocky langsung menarik seprei putih yang membalut kasur brankar, pria itu merobek ujungnya sehingga menjadi bagian kecil-kecil yang cukup panjang.
"Kamu mau apa?" tanya Alea, tetapi Rocky seakan tuli. Pria itu beralih mengikat kedua tangan Alea di belakang tubuhnya, kemudian mengingat kaki agar tidak bisa bergerak. "Lepasin saya!" bentak Alea dengan mata memerah.
Namun, bukannya mendengarkan, Rocky malah meletakkan meja khusus di tempat tidur, kemudian memindahkan makanan ke tempat tersebut. Dia menyendok bubur yang entah apa campurannya, lalu mengarahkan pada mulut Alea yang tidak bisa bergerak sama sekali.
Alea menggelengkan kepalanya, enggang untuk membuka mulut, tetapi Rocky tidak kehabisan akal. Pria itu menutup hidung Alea dengan sebelah tangannya, sehingga mau tidak mau Alea harus membuka mulutnya untuk mengambil napas, saat itulah Rocky menggunakan kesempatan untuk memasukkan makanan ke mulut wanita yang tengah mengandung calon anaknya.
Tetapi siapa yang menyangka, Alea malah memuncratkan semua isi mulutnya hingga mengenai wajah tampan Rocky yang baru saja selesai mandi. Detik itu juga Rocky mengepalkan tangannya lantaran sangat emosi menghadapi Alea yang tingkahnya sangat keterlaluan.
"Harusnya kau beruntung saya ingin bertanggung jawab atas dirimu! Tidak bisa kah kau menurut saja?"
"Beruntung? Bahkan saya lebih beruntung jika anda pergi dari kehidupan saya!"
"Cukup! Kali ini saya tidak akan memberikan ampun padamu! Kau ingin menggugurkan kandungan itu bukan?" Rocky melepas semua tali pengikat di tubuh Alea, kemudian menyeratnya turun dari brankar.
Alih-alih memedulikan kondisi Alea yang belum stabil, Rocky membawa wanita itu pergi tanpa izin dari siapa pun. Dia bahkan tidak peduli pada tatapan para pengujung rumah sakit saat dia menyeret Alea di lobi dan menghempaskannya masuk ke mobil.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Alea.
"Membunuh kalian berdua, kau dan janin yang ada di dalam perutmu itu!" jawab Rocky.
Pria itu melajukan mobilnya meninggalkan lingkungan rumah sakit dengan sebelah tangan, sementara sebelahnya lagi dia gunakan untuk menggenggam tangan kedua tangan Alea agar tidak melakukan hal gila lainnya. Sekarang Rocky benar-benar hilang kesabaran dia akan menghukum Alea agar jera bertingkah seenaknya.
Mungkin semua orang lupa, bahwa dia adalah pria kejam yang tidak segan-segan menyakiti siapa pun yang telah berani mengusik harga dirinya. Rocky baru menghentikan mobilnya setelah sampai di sebuah bukit yang cukup tinggi. Di ujung bukit ada sebuah jurang kematian. Jika ada yang terjatuh ke dalam sana, maka mustahil mereka akan selamat.
__ADS_1
"Dari pada kau ingin membunuh calon anak saya, lebih baik kalian mati!"