Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 95


__ADS_3

Cakra terus saja melirik Liora yang sejak tadi diam seribu bahasa. Kini mereka sedang dalam perjalanan kerumah setelah menikmati pemandangan dari atas.


Sejak itu pula Liora sama sekali tidak menegur Cakra bahkan jika laki-laki tampan itu bersikap konyol sekalipun.


"Sayang, kamu kenapa sih? Tadi masih senyum loh," ucap Cakra mencolek lengan Liora, untung saja Liam sudah tidur di jok depan bersama bersama Eril.


"Tidak apa-apa," jawab Liora fokus pada jalanan di luar sana, bahkan memainkan jarinya di kaca mobil untuk menulis sesuatu mulalui embun.


"Manggil Sayang tapi ngabulin satu permintaan saja tidak bisa," sindir Liora semakin membuat Cakra frustasi.


Laki-laki tampan itu mengacak-acak rambutnya kasar ketika sampai di rumah, Liora masih saja mendiamkannya.


"Eril!" panggil Cakra dengan suara tegasnya.


"Iya Tuan, ada apa?"


"Bagaimana kabar Rissa? Apa dia sebentar lagi akan melahirkan?"


"Kata dokter tinggal menghitung hari lagi Tuan, mungkin sekitar dua minggu," jawab Eril sopan.

__ADS_1


"Pergilah!" usir Cakra dan dijawab pergerakan tubuh oleh Eril.


Sepeninggalan Eril, Cakra kembali menemui istrinya di kamar. Tanpa meminta izin dia memeluk Liora yang tengah duduk di meja rias.


"Sayang, jangan diam-diam gini terus dong, kamu tahu sendiri mas paling tidak bisa di cuekin sama kamu," rengek Cakra.


"Apa sih sana deh, aku gerah Mas!" Liora mendorong tubuh Cakra agar menjauh, namun laki-laki tampan itu engang bergerak.


"Tidak mau. Liora maafin Mas!" rengek Cakra seperti anak kecil.


"Udah deh, mas itu tidak sayang sama aku. Sayang dan cinta mas cuma di mulut saja!" Liora mengalihkan tatapannya keluar jendela. Kali ini dia benar-benar marah pada suaminya. Entah kenapa dia juga tidak tahu, tapi rasa kesal sering kali datang jika apa yang dia ingingkan tidak terpenuhi.


"Baiklah!" ucap Cakra dengan hembusan nafas kadar. Laki-laki itu berdiri di hadapan istrinya. "Mas bakal turutin keinginan kamu, tapi kamu tidak perlu ikut!"


Liora ikut berdiri dan memeluk suaminya sangat erat. "Aku sayang mas Cakra banyak-banyak," ucapnya.


"Mas juga sayang sama kamu, jadi mas jadi ojek onlinenya kapan?" tanya Cakra setelah pelukan mereka terlerai.


Memang sejak turun dari helikopter, Liora mengajukan satu permintaan pada Cakra yaitu menjadi ojek online satu hari sampai mendapatkan uang jajan. Liora sangat ingin melihat suaminya naik motor menggunakan jaket dan helm berwarna hijau.

__ADS_1


"Sekarang! Mas tidak boleh pulang sebelum mendapat uang minimal 5 rb," jawab Liora dengan binar mata bahagia.


Sementara Cakra menelan salivanya kasar. Memang dia sudah berjanji akan menuruti semua kemauan Liora tapi tidak menjadi tukang ojek juga.


Laki-laki itu melempar senyuman pada Liora. "Baiklah Sayang," ucap Cakra.


Keduanya keluar kamar untuk menemui Eril yang ada di lantai dasar.


"Eril panggilkan tukang ojek online yang seragamnya lengkap dan bawa kesini!" perintah Cakra.


"Baik Tuan ...."


"Kenapa Eril? Harusnya mas? Mas yang keluar ke jalan dan meminta tukang ojek. Aku ikut!"


Mata Cakra membulat sempurna. "Katanya tadi tidak mau ikut."


"Berubah pikiran, aku tidak apa-apa ikut naik mobil sama Eril, mas naik motor pink di teras rumah." Cengir Liora tanpa dosa.


Memang di garasi ada satu motor berwarna pink, motor yang Cakra beli untuk Liora. Sayangnya motor itu hanya menjadi pajangan saja sebab Cakra tidak mengizinkan Liora naik motor dengan alasan berbahaya.

__ADS_1


"Ayo Eril kita ikutin mas Cakra!" ajak Liora menarik tangan Eril karena sudah melupakan hal memalukan tadi pagi.


"Eril, tangan sialan kamu jauhkan dari istriku!"


__ADS_2