
"Ibu nggak tau mau ngomong apa lagi Nak, liat kesuksesan kamu sekarang. Intinya selalu bahagia sama keluarga kecil kamu," ucap bu Fatimah yang kini berada di kamar utama Liora dan Cakra.
Wanita paruh baya itu diminta langsung oleh Cakra agar menemani istrinya di dalam kamar karena sebentar lagi acara akan dimulai.
"Makasih do'anya bu," ucap Liora tersenyum, hingga dia terlihat semakin cantik.
Kini wanita cantik itu memakai gaun berwarna Cream model prisess agar perut yang membuncit tersebut tidak kelihatan juga tidak terasa sesak selama acara belangsung.
Liora berdiri ketika jarum jam sudah menujukkan angka delapan malam. Sudah waktunya dia ke lantai dasar untuk menyambut para tamu yang katanya akan datang.
"Makasih Bu, udah baik sama Lio. Lio nggak mungkin lupain semua kebaikan ibu selama ini," ucapnya seraya berjalan beriringan menuju pelaminan yang telah disiapkan tadi.
Sesampainya di lantai dasar, senyuman Liora mengembang melihat suaminya yang sama sekali tidak mengalihkan tatapannya.
Apakah dia secantik itu sampai Cakra tidak ingin berpaling?
Liora dan bu Fatimah berpisah setelah wanita cantik itu berada di samping suaminya.
"Cantik pakai banget istri Mas, jadi nggak rela diliatin banyak orang," puji Cakra dengan nada menggoda.
"Mas yang buat acara juga."
"Iya juga." Cakra mengaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Menarik tangan Liora agar duduk di kursi karena tamu yang datang belum begitu banyak.
Meski tidak ada yang datangpun sebenarnya tidak masalah, karena Cakra hanya ingin foto pernikahan, tapi sekalian pamer kekayaan.
"Mama-papa!"
Liora dan Cakra sontak menoleh ketika Liam bersama Eril dan fotografer yang siap mengabadikan momen sebanyak-banyaknya menghampiri mereka.
"Pemotretannya jam sembilan saja, istri saya belum makan malam," ucap Cakra dijawab anggukan oleh sang fotografer.
Kini Cakra beralih pada istri tercintanya. "Mau makan apa Sayang? Makanan kampung kan? Tenang aja, makanan diacara kita murni makanan kampung, hanya beberapa yang bukan."
__ADS_1
"Mau dimakan aja," jawab Liora mengedipkan matanya.
"Nakal kamu hm? Mentang-mentang mas lagi sibuk."
"Mama-Papa nomong apa? Liam duda makan," ucap Liam menatap orang tuanya secara bergantian. Bocah kecil tersebut berada di tengah-tengah antara orang tuanya.
***
"Tuh kan nggak ngedip!" kesal Liora.
"Mas nggak tertarik sama sekali Sayang," sahut Cakra.
"Nggam tertarik tapi diliatin terus. Ya udah sana sekalian ikut joget, aku ke kamar aja."
Bagaimana Liora tidak kesal, wanita cantik itu tidak menyangka Liora akan mengundang girl team dance ke acaranya, apalagi pakaian mereka lumayan terbuka.
"Sayang, jangan cemberut gitu dong! Mas ngundang mereka buat tamu," bujuk Cakra menghadap istrinya.
Liam yang tengah mencium Liora, atau sekedar memperebutkan siapa yang akan mengendong Liam. Bukan hanya itu saja, tapi banyak potret lainnya hanya Liora dan Cakra saja.
Potret saat Cakra berlutut dan mencium purut buncit dimana ada dua purta di dalam sana. Potret saling membelakangi namun berpegangan tangan.
Semuanya sudah Liora dan Cakra lakukan beberapa menit yang lalu, hingga keduanya kini kembali duduk dipelaminan menikmati pertunjukan.
Kembali pada Cakra yang kini membujuk istrinya. Dia menangkup kedua pipi Liora yang sangat cubi.
"Liat, mas cuma mandangin kamu Sayang. Jadi jangan cemberut lagi," ucap Cakra.
"Senyum dong!" perintahnya.
Perlahan-lahan Liora kembali menerbitkan senyumnya, namun menyuruh Cakra terus menatapnya agar tidak menatap gadis-gadis seksi di depan sana.
"Aku juga bisa kayak mereka kalau mau."
__ADS_1
"Mas tahu."
"Lebih dari itu juga bisa," lanjut Liora lagi.
"Buktikan sama mas pas dikamar nanti." Cakra menumpu dagunya dengan tangan dan benar-benar hanya menatap istrinya saja.
Istri yang sangat dia cintai dan cinta itu tidak akan berkurang sampai kapanpun. Mungkin malah akan semakin bertambah setiap harinya.
Bukan Liora yang beruntung memilikinya, tapi dia yang beruntung memiliki Liora dalam hidupnya. Wanita yang menerima segala kekurangan dan kelebihan yang dia miliki selama ini.
"Ra," panggil Cakra mengulum senyum.
Liora membalas tatapan suaminya. "Kenapa Mas?"
"Sekali aja, panggil aku Sayang dan ungkapkan isi hati kamu tentang Mas. Kita hampir punya anak tiga, tapi kamu nggak pernah ungkapin perasaan sendiri."
Liora tersebut mendengar permintaan suaminya.
"Mas Cakra Sayang. Suami yang paling aku cintai seumur hidupku. Aku bangga memilikimu. Aku bangga karena mempunyai putra yang berasal darimu. Teruslah bersamaku sampai maut memisahkan kita. Jangan pernah ada orang ketiga dalam hubungan kita, karena aku nggak sanggup bersaing dengan wanita-wanita yang menyukai mas diluar sana."
"Mas hanya akan melihat dan menatapmu sampai tua nanti."
Cup
Cakra membenamkan bibirnya cukup lama di kening Liora tanpa memperdulikan perhatian semua tamu yang kini tertuju padanya sejak tadi.
...Happy Ending...
...****************...
Huh, akhirnya kita sampai di ujung cerita dari kisah Cakra dan Liora. Tentu saja ini berkat dukungan kalian, karena tanpa dukungan dari kalian, otor nggak mungkin sampai sejauh ini.
Sampai jumpa di novel Samuel "Lost Love" dan Novel Eril yang insya allah akan rilis bulan depanš¤.
__ADS_1