Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 187 - Halaman terakhir


__ADS_3

Mendapatkan persetujuan dari atasan tanpa diberi banyak pertanyaan adalah hal yang sangat menguntungkan bagi Rocky. Pria itu sangat bersyukur kali ini Cakra tidak mencurigai apa pun gerak-geriknya. Tidak ingin membuang banyak waktu, Rocky segera menyetor semua berkas-berkas yang harus Cakra tanda tangani lalu bergegas meninggalkan perusahaan.


Pria itu siap-siap berangkat ke Bandung dengan alasan pekerjaan, sehingga tidak akan ada yang tahu apa tujuan sebenarnya dia kesana. Rocky tidak membawa banyak barang, hanya ada dompet, ponsel dan mobil yang akan menemaninya selama perjalanan ke bandung, karena dia memang bukan tipe pria yang ingin susah jika bepergian ke suatu tempat, kecuali benar-benar penting di mana harus membawa pakaian formal khusus untuk menghadiri sebuah acara.


...


Syok berat. Itulah yang saat ini Alea rasakan setelah mendapati kenyataan bahwa dirinya tengah mengandung bayi pria yang bahkan tidak dia kenali. Wanita itu sejak pagi hanya mengurung dirinya di kontrakan, bahkan untuk masuk kerja saja rasanya dia tidak mampu. Yang Alea lakukan hanya memeluk tubuhnya sambil menangis lantaran tidak ingin menerima ada makhluk bernyawa di dalam perutnya.


"Tidak-tidak, dia tidak boleh hidup di dalam perut saya!" Pekik Alea. Wanita itu terus memukuli perutnya berharap janin yang bersarang di dalam rahimnya segera keluar dalam artian keguguran.


Dalam hidupnya, Alea tidak pernah berpikir untuk hamil di usia muda, terlebih tanpa dampingan suami ataupun orang tua. Dia tidak akan sanggup hidup seperti ini dengan menyembunyikan aib yang jelas-jelas bukan kesalahannya.


Air mata Alea terus saja mengalir seiring pukulan diperut yang memelan lantaran lelah bergerak tetapi tidak kunjung ada darah yang keluar dari pangkal pahanya. Wanita itu meraih ponselnya yang tergeletak di kaki tempat tidur, dia mengambil benda itu dengan tangan bergetarnya. Mengetikkan beberapa kalimat di pencarian hingga beberapa hal serupa mulai muncul satu persatu.

__ADS_1


"Obat pengugur kandungan?" gumam Alea terus meneliti satu persatu hasil yang dia dapatkan.


Tanpa pikir panjang dan jernih, Alea langsung mengklik sebuah tautan yang langsung menghubungkannya pada penjual obat berbahaya tersebut. Alea memesan obat itu tanpa menanyakan harga lebih dulu.


Setelah mengurus semuanya, dia kembali merenung seorang diri, sesekali memukul perutnya hanya untuk melampiaskan rasa kesal di hatinya juga rasa benci pada pria yang telah membuatnya hamil. Bahkan jika pria itu datang untuk bertanggung jawab, Alea tidak akan luluh begitu saja. Dia lebih rela mati jika harus menikah dengan Rocky.


"Saya sangat membencimu dan pria itu," ucapnya pada janin yang ada di perutnya.


Alea terus saja bicara seorang diri di kontrakannya, sementara di tempat lain, yakni kantor. Seorang pria berjas hitam mengkilap baru saja turun dari mobilnya beberapa menit setelah jam makan siang selesai. Pria itu tidak lain adalah Rocky, dia sampai dibandung setelah mengendarai mobil kurang lebih tiga jam dengan kecepatan tidak menentu. Alih-alih mencari tempat penginapan, dia langsung berkunjung ke anak perusahaan untuk bertemu secara langsung dengan Alea.


"Tu-tuan Rocky? Kenapa tidak mengabari sebelum datang?" tanya Aryo ketika membuka pintu ruangannya langsung mendapati Rocky berdiri dengan tegap di depan ruangan.


Manajer tersebut tentu saja terkejut kedatangan orang penting dari perusahaan pusat, terlebih lagi biasanya jika kedatangan orang penting seperti ini tentu ada masalah dengan laporan yang mereka setor.

__ADS_1


"Harusnya saya tidak memberikan kepercayaan pada pegawai baru tersebut," batin Aryo yang mulai menyesal memberikan laporan bulan ini pada Alea.


"Silakan duduk dulu, Tuan," ujar Aryo dan hanya dijawab anggukan oleh Rocky. Sebelum menutup pintu, Aryo melirik Ob yang kebetulan melintas, dia memberikan isyarat untuk membuatkan kopi. Barulah setelahnya dia menyusul Rocky yang telah duduk dengan tenang di sebuah kursi tidak terlalu besar.


"Boleh saya tau dalam rangka apa Tuan berkunjung secara tiba-tiba? Apa laporan yang sangat kirimkan salah?" tanya Aryo penuh kehati-hatian.


"Benar, laporan yang kamu kirimkan terdapat banyak kesalahan dan lampiran terakhir sangat di luar nalar. Kau yang mengerjakannya?" tanya Rocky dengan tatapan penuh selidik.


Aryo dengan sigap menggelengkan kepalanya, pria itu tidak ingin mengambil risiko degan mengakui apa yang tidak dia kerjakan.


"Bu-bukan saya, Tuan. Tetapi karyawan baru kami. Maaf atas kesalahannya, saya akan memperbaiki laporan tersebut sekarang juga."


"Panggil dia ke sini!"

__ADS_1


"Hari ini dia tidak masuk bekerja karena kurang enak badang,Tuan."


"Saya tidak terima alasan! Bawa dia ke sini sekarang juga, saya ingin bicara!" perintah Rocky tidak terbantahkan.


__ADS_2