Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 171 ~ Dendam Cakra


__ADS_3

Seperti yang diperintahkan oleh Rahma, Eril mengurus Arhan dan Arumi lebih dulu agar tidak semakin histeris. Pria itu menggendong Arumi yang menangis, membisikkan kata-kata penenang, bahkan memberikan mainan agar Arumi lebih tenang dari sebelumnya.


Usaha Eril untuk membuat Arumi diam berhasil, pria itu menggendong balita tersebut keluar dari kamar untuk membuatkan susu buat Arhan yang sepertinya lapar. Dia menuangkan susu formula sesuai takaran ke botol dot dengan sebelah tangannya, kemudian menuangkan air panas sedikit agar susu tersebut matang dengan sempurna, baru lah setelah itu menuangkan air dingin.


Eril kembali ke kamar, duduk di sisi ranjang dan memasukkan kepala dot ke mulut Arhan, saat itulah bayi menggemaskan tersebut diam dan menikmati susunya. Melihat kedua anak-anaknya tenang, Eril mengalihkan atensinya pada Rahma yang masih berada di dekat pintu. Wanita itu menganggukkan kepala seolah baik-baik saja padahal kenyataanya masih sangat ketakutan.


"Arumi mau main? Kita main yuk, Sayang!" ajak Eril.


Pria itu bangkit dari duduknya setelah memastikan Arhan telah kenyang, dia membawa Arumi ke ruang tamu kemudian mengelar baby playpen playmat atau lebih tepatnya tempat bermain anak yang berukuran 2x2 dengan keaman terjamin. Eril memasukkan Arumi di sana, tidak lupa memasukkan banyak bola di dalamnya.


Merasa Arumi telah asik bermain sendiri, Eril akhirnya menghampiri sang istri. Berlutut di depan Rahma, lalu mengusap pipi yang basah akan air mata.


"Peluk, biar tenang," ucap Eril. Pria itu mengambil Rahma masuk ke pelukannya, mengusap hijab yang dikenakan istrinya cukup lembut, tidak lupa mengecupnya sekali-kali. "Kenapa hm? Kenapa ketakutan seperti ini, padahal di telpon baik-baik saja? Apa karena pria tadi?" tanya Eril ketika sudah tidak mendapati tangisan Rahma.


Wanita itu mengangguk. "Aku takut, Mas. Maaf buat anak-anak menangis dan buat mas mengurus mereka padahal sedang lapar," lirih Rahma yang jauh lebih tenang dalam dekapan suaminya.


"Tidak apa-apa, sudah tugas aku membantumu mengurus anak."


***


"Apa kau sudah menemukannya?" tanya Rocky pada seseorang di seberang telpon. Pria itu sedang berada di kantin untuk menikmati makan siang seorang diri, sementara sang atasan ada di ruangannya entah melakukan apa.


"Maaf Tuan, tetapi sampai saat ini saya belum menemukam perempuan yang Anda cari. Sepertinya dia meninggalkan kota ini beberapa hari yang lalu."


"Cari sampai ketemu!" perintah Rocky, kemudian memutuskan sambungan telpon sepihak. Pria itu kembali fokus pada makana siang di hadapannya.


Sama halnya dengan Rocky, Cakra juga sedang menyantap makan siang kiriman dari istri tercinta. Bahkan pria itu makan sambil melakukan video call dengan putra sulung dan istrinya. Sesekali Cakra tertawa mendengar celotehan Liam yang sangat mengemaskan.

__ADS_1


"Papa, tadi dedek kentut!" ujar Liam memberitahukan.


"Benarkah?" Alih-alih jijik, Cakra malah meladeni celotehan putranya.


"Iya papa, dedek kentut Liam."


"Huh?"


"Katanya, dia dikentutin sama Lion, Mas. Tadi kan Liam lagi cium-cium Lion, eh tiba-tiba anaknya kentut."


"Ck, lucu banget sih kalian. Papa jadi pengen pulang."


"Sini papa, om Eyil pulang!" seru Liam.


Cakra mengerutkan keningnya, sampai saat ini pria itu belum bisa mengerti bahasa Liam yang sering kali tidak nyambung dan kebalik satu sama lain.


"Om Eril pulang? Tidak makan siang di rumah?"


"Oh gitu."


"Iya papa!"


Cakra kembali tertawa melihat wajah Liam yang memenuhi layar ponsel dan sebuah kecupam terdengar di seberang telpon.


"Liam cium papa."


"Duh sayang banget sih anak papa satu ini. Awas sampai di rumah, Liam tidak boleh tidur dulu. Papa mau main sama Liam."

__ADS_1


"Ayo pulang papa!" teriak Liam setelahnya sambungan telpon terputus, sepertinya Liam memencet sesuatu.


Cakra tidak menelpon istrinya lagi meski sambungan telpon terputus begitu saja, dia malah beralih menghubungi Eril. Terlebih dia telah selesai makan siang. Panggilan pertama dan kedua Cakra tidak dijawab dan itu membuat Cakra sangat kesal. Baru saja dia akan mengumpati Eril habis-habisan, panggilan balik telah Eril lakukan.


"Kemana saja sampai tidak menjawab telpon dari saya!" gerutu Cakra.


"Maaf Tuan, saya tadi di kamar mandi."


"Alasan, bilang saja kamu lagi romantis-romantisan sama istri kamu itu."


"Tidak, Tuan, saya berani bersumpah."


Cakra mengelum senyum mendengar suara Eril yang tampak ketakutan.


"Balik jam berapa? Liam mencari kamu di rumah."


"Maaf, Tuan. Tapi sepertinya saya tidak bisa bekerja hari ini. Tuan Zayn datang ke rumah, tadi, dan membuat Rahma takut."


"Zayn?" Kening Cakra mengerut.


"Benar, Tuan."


"Ya sudah." Cakra memutuskan sambungan telpon begitu saja. Dia beranjak dari duduknya kemudian berjalan menuju dinding kaca untuk menatap pemandangan di luar sana. Cakra bersedekap dada, memikirkan kemungkinan besarnya kenapa Zayn mengunjungi rumah Eril, bukan dirinya. Padahal yang mengibarkan bendera perang adalah dia.


"Zayn. Dia benar-benar memasuki kehidupan saya tanpa disengaja. Mari kita lihat sampai di mana kau akan bertahan mengusik orang-orang kepercayaan saya," gumam Cakra dengan senyum smirknya.


Pria itu membalik tubuhnya sebentar untuk melihat siapa yang baru saja membuka pintu ruangannya. Ternyata yang datang adalah Rocky.

__ADS_1


Rocky menghampiri Cakra, berdiri tepat di hadapan pria itu yang kini menatapnya. "Tuan, saya ingin membicarakan tentang Wildan dan Zayn."


"Katakan!"


__ADS_2