
Tanpa menunggu waktu lama, Eril segara masuk keruangan Cakra untuk memenuhi panggilan tuannya itu. Eril berdiri tepat di samping Liam yang tengah berkacak pinggang di samping sofa.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya Eril sangat sopan karena takut mendapat semprotan siang-siang seperti ini.
"Cek kesehatan Rissa hari ini, Liora ingin mengetahuinya, jika sudah menjelang lahiran, minta keringanan pada polisi!" perintah Cakra.
"Baik Tuan," sahut Eril cepat. Dalam hati laki-laki itu mengucapkan syukur karena tidak mendapat omelan dari Cakra.
Ketika akan pergi, tangan Eril malah ditarik oleh Liam. "Liam itut Om Eyil." Liam mendongak dan memperlihatkan pupy eyesnya pada Eril. Hal itu tentu saja membuat Eril dilema. Liam memang sudah menjadi teman baiknya akhir-akhir ini, tapi mengingat sikap Cakra Eril memutuskan menjaga jarak.
"Tapi Tuan Muda ...."
"Liam sini Nak, sama papa saja!" panggil Cakra menepuk-nepuk tempat di sampingnya.
"Liam mau itut, Papa," jawab Liam dengan gelengan kepala.
"Katanya Liam mau hadiah. Kalau ikut sama om Eril Liam tidak dapat apapun!" ancam Cakra.
Sontak Liam melepaskan tangan Eril dan berlari ke arah Cakra. Bocah mengemaskan itu naik ke pangkuang Cakra yang tengah bersantai di sofa. Liam melambaikan tangannya pada Eril.
"Dah om Eyil."
__ADS_1
"Sampai jumpa Tuan Muda," sopan Eril kemudian berlalu pergi.
Saat itulah Liora mengalihkan atensinya dari ponsel. Memang Liora sejak tadi pura-pura sibuk dengan benda pipihnya dan itu tidak luput dari perhatian Cakra.
"Kamu kenapa?" tanya Cakra penuh selidik pada istrinya yang terlihat sangat aneh.
"Tidak ada, aku hanya ...."
"Kamu menyembunyikan sesuatu?" Tatapan Cakra semakin intens, membuat Liora langsung gugup seketika. Wanita cantik itu memikirkan sesuatu untuk menjawab pertanyaan Cakra tanpa membeberakan kejadian dirumah.
Atau bukan hanya Liora yang akan mendapat marah karena tidak bisa memperhatikan pakaiannya, tetapi Eril juga akan mendapatkan hukuman.
Hanya dengan bersikap seperti ini biasanya Cakra akan melupakan hal-hal aneh yang dicurigainya.
"Ra, jangan mengalihkan topik, kamu sama Eril kenapa?"
"Ak-aku ...."
"Tuan, semuanya sudah siap, Anda boleh ke aula sekarang," ucap Rocky yang membuat Liora bernafas lega.
Untung saja Rocky datang tepat waktu, jadi Liora tidak perlu mengarang cerita untuk berbohong pada Cakra. Sebenarnya masalah itu tidak besar sama sekali, tapi Cakra terlalu licik untuk ukuran laki-laki bucin dan takutnya Eril malah mendapat hukuman yang tidak akan pernah diduga oleh siapapun.
__ADS_1
"Baiklah," sahut Cakra.
Laki-laki tampan itu berdiri dengan Liam yang ada di gendongannya. Cakra tidak lupa menarik tangan Liora untuk ikut bersamanya.
"Ayo Sayang, semua orang sudah menunggu kita di Aula," ucap Cakra.
"Ki-kita? Aku, Liam dan Mas? Untuk apa?" tanya Liora tidak percaya sekaligus bingung. Entah apa lagi yang akan dilakukan Cakra hingga mengajaknya ke Aula dimana semua karyawan dikumpulkan.
"Mau mana Papa? Diah Liam mana?" tanya Liam. Sepanjang koridor Liam terus bertanya banyak hal pada Papa juga Mamanya.
Jantung Liora berpacu sangat hebat setelah Rocky membuka pinta Aula. Wanita cantik itu mengeratkan genggaman tangannya. Rasa gugup tiba-tiba melanda diri Liora ketika berjalan di depan puluhan karyawan Cakra yang jauh lebih cantik dan juga seksi.
Jiwa insekyur Liora muncul dipermukaan, mengigat dia hanya gadis kampung yang tidak mempunyai barang berharga selain Liam.
"Mas, aku pulang saja, aku tidak pantas ada di sini."
...****************...
Bumil insinyur padahal secantik ini?
__ADS_1