Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 109


__ADS_3

Cakra mengkode semua pelayan juga Eril dan Rocky agar segera turun ke lantai dasar, sementara dia dan Liora berada di lantai dua.


Cakra tersenyum senang dan bangga pada dirinya sendiri karena berhasil mendesain rumah untuk istri yang sangat dia cinta.


"Ribut banget Mas, aku malah dengar suara orang kampung nelayan," lirih Liora memegang penutup matanya.


"Tunggu dulu Sayang! Kenapa sih bumil Cakra nggak sabaran banget, hm?" greget Cakra pada Liora yang ngotot ingin melepas penutup mata.


"Mas marah?" tanya Liora balik.


Cakra tidak memperhatikan karena sibuk memperhatikan jejeran para pelayan yang tengah memegang huruf masing-masing.


Setelah semuanya siap, Cakra melepaskan penutup mata sang istri.


"Sayang?"


"Hm."


"Dalam hitungan ketiga buka mata kamu ya!" pinta Cakra dan dijawab anggukan kepala oleh wanita cantik tersebut.


Liora perlahan-lahan membuka matanya ketika hitungan telah berakhir, tatapannya langsung tertuju pada lantai dasar di mana para ibu-ibu kampung nelayan berdiri. Ada beberapa dari mereka memegang angka dan barisan membentuk angka 26.


SELAMAT ULANG TAHUN YANG KE 26 NYONYA ALEKSANDER.

__ADS_1


Mungkin itu terkesan lebay bagi sebagian orang, tapi tidak dengan Cakra yang sangat menyangi istrinya.


Mata Liora berkaca-kaca, apa yang dia lihat seperti mimpi saja. Sudah lama dia ingin ke kampung nelayan, bahkan meminta Cakra tinggal di kampung, tapi siapa sangka suaminya malah membawa orang kampung ke kota?


"Mas?" Liora berbalik dan langsung memeluk suaminya. Dia merasa terharu melihat kejutan ini. Seumur hidupnya baru kali ini dia merayakan ulang tahun dan mendapat kue yang sangat besar.


"Padahal dulu beli kue aja rasanya mustahil," lirih Liora berlinangan air mata. "Sekarang aku masih nggak percaya bisa mendapatkan apa yang aku ingin hanya dengan menyebutkannya."


Cakra tersenyum dan menghapus air mata istrinya dengan tisu. Dia telah menyediakan tisu sejak tadi karena sudah menebak istrinya akan menangis. Tahu sendirilah, Liora terlalu mudah tersentuh akan sesuatu.


"Jangan nangis, mas bayar make up mahal-mahal! Ayo sayang, ketemu mereka!" perintah Cakra.


Liora mengangguk dia mengangkat gaun yang dia kenakan dan berlari menuju anak tangga. Untung saja dia tidak memakai sepatu hak jadi bebas berlari.


"Bumilnya Cakra suka lupa kalau lagi hamil, ck."


Liora tertawa, dia segera memelankan langkahnya menapaki satu persatu anak tangga. Setelah sampai di lantai dasar dia langsung saja memeluk wanita paruh baya yang sudah baik padanya selama ini.


"Bu fatimah," lirih Liora.


"Selamat ulang tahun Nak. Selamat juga atas kebahagiannya selama ini, kamu memang pantas mendapatkannya setelah menderita dalam waktu yang cukup lama." Bu Fatimah membalas pelukan Liora tidak kalah erat.


"Ra, mas ke depan dulu ya." Pamit Cakra dan hanya dibalas anggukan oleh Liora.

__ADS_1


"Makin cantik aja kamu Nak, udah hamil lagi," puji bu Fatimah setelah pelukan mereka terlerai.


"Biasa aja bu. Bu Fatimah bermalam kan? Pulangnya nanti aja, di lama-lamain di kota," ucap Liora membuat bu Fatimah menganga.


"Kota? Kita sedang di desa Nak, dan rumah kita hampir berhadapan," ralat wanita paruh baya itu cepat.


Kini giliran Liora yang menganga tidak percaya, jadi dia ada di kampung nelayan? Lalu ini rumah siapa?


"Ini rumah siapa? Kok besar dan mewah banget bu?"


"Aduh Neng, ini rumah kamu lah. Di depan aja ada tertempel. Rumah nyonya Aleksander. Beruntung kamu nak punya suami kaya raya."


Otak Liora masih mencerna setiap perkataan bu Fatima. Tiba-tiba dia blank sendiri karena tidak mengetahui apapun.


"Aduh makin cantik aja, mana datangnya pakai helikopter lagi. Itu punya suami kamu?" bu Firda datang dan sok akrab pada Liora.


"Iya itu punya Cakra, kata suami saya tadi," jawab bu Fatimah.


"Wah pasti suami kamu kaya banget Ra. Sekarang orang terkaya di kampung ini tuh kamu, padahal dulu paling miskin." Bu Firda tertawa seraya menepuk pundak Liora, membuat Rocky yang sejak tadi mengawal Liora mendekat.


"Jangan memukul seperti itu! Tuan Cakra tidak menyukainya!"


"Rocky, nggak papa. Sebaiknya kamu nyusul mas Cakra!"

__ADS_1


Rocky bergeming, tetap pada tempatnya berpijak sesuai arahan Cakra yang menyuruhnya mengawal Liora sampai acara puncak selesai nanti malam.


__ADS_2