Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Novel Author


__ADS_3

Judul: Tolong Cintai Aku!


Napen: Avegas


Auristela Divanya, itulah nama perempuan yang baru saja pulang setelah bertemu seseorang di Cafe. Perempuan cantik yang mempunyai kehidupan hampir sempurna. Banyak pria tampan dan sukses yang ngejar-ngejar Auris, tapi tidak satupun yang menarik menurutnya.


Perempuan itu kini menangis di dalam kamarnya, menghamburkan barang sesuka hati untuk melampiaskan rasa kesal dan marah.


Cinta bertepuk sebelah tangan sangat menyakitkan, dan itu tengah Auris rasakan sekarang. Dia baru saja di tolak oleh salah satu CEO yang selama ini di cintainya.


Hari ini, Auris mendapat keberanian untuk mengungkapkan cintanya setelah lama memendam rasa. Cinta bukannya bersambut, malam patah hati yang dia rasakan.


"Auris, kamu baik-baik aja Nak?" panggilan seorang wanita di depan pintu tidak Auris hiraukan. Perempuan itu masih sibuk menghancurkan segala barang.


"Kenapa semua ini harus terjadi padaku!" pekik Auris.


***


Makan malam keluarga tiba, Auris ikut makan malam bersama orang tuanya dengan wajah lesu. Perempuan cantik yang selalu di kagumi dan terlihat sempurna jika ada di luar itu, akan menjadi anak manja jika berada didalam rumah.


"Kenapa wajah anak Papa cemberut gitu?" tanya Kenzo ayah dari Auris.


"Kayaknya lagi patah hati Pa, tadi pagi wajahnya berseri-seri. Katanya mau ketemu seseorang, pas pulang malah nangis," jawab Raisa mewakili putrinya.


Perempuan berusia 25 tahun itu tidak menyahut, sibuk menyantap makan malamnya.


"Siapa pria yang berani menolak anak papa Hm? Ayo katakan, papa bakal bantu kamu nak." Ucapan Kenzo berhasil menarik perhatian Auris.


Perempuan cantik dengan bibir sedikit tebal itu menatap papanya dengan wajah berseri-seri. "CEO Anjaya Group, aku menyukainya sejak duduk di bangku kuliah, tapi dia nggak pernah balas, bahkan nolak aku tadi," jujur Auris.


Kenzo mengusap puncuk kepala putrinya dengan senyuman. "Kenapa harus sedih? Lakukan apapun buat dapatin cinta kamu Nak, kalau nggak bisa dengan cara halus, cara licikpun jadi."


"Maksud Papa?" tanya Auris. Sepertinya perempuan itu tertarik dengan pembicaraan Papanya.


"Feri Aditya Saputra bukan? Dia pengusaha baru, sangat mudah menyingkirkan dirinya. Kebanyakan koleganya itu teman-teman Papa."


Auris mengerjapkan matanya berkali-kali, mencoba memahami perkataan Papanya. Beberapa detik kemudian, bibir tebal namun terlihat seksi itu menipis karena tersenyum.


"Papa mau bantu aku?"


"Kenapa nggak? Kamu anak Papa satun-satunya. Kebahagian kamu, adalah kebahagian papa juga. Makanlah, kamu terima beres paling lambat 3 hari."

__ADS_1


Auris mengangguk patuh, melanjutkan aktivitas makannya. Sementara Raisa hanya bisa mengeleng melihat suami dan putrinya. Auris adalah Kenzo versi perempuan.


Harus mendapatkan apa yang dia inginkan, tidak peduli jalan yang akan di tempuhnya.


***


Feri Aditya Saputra. Pria itu mengusap pelipisnya, rasa pusing tiba-tiba melanda setelah mendengar kabar dari asisten pribadinya.


Beberapa rekan kerja yang susah paya dia dapatkan, beralih bekerjasama dengan Quen Group. Perusahaan raksasa yang tidak mungkin bisa dia saingi.


Masalah ini tentu saja berdampak buruk bagi perusahaan yang baru saja dia rintis.


Aditya melewatkan makan siangnya hanya untuk mencari penyuntik dana untuk mengantikan kerugian yang di alami perusahaan selama dua hari ini.


"Tuan, ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan Anda," ucap asisten Aditnya.


"Biarkan dia masuk," sahut Aditya, langsung merapikan kemeja yang dia kenakan.


Aditya memutar bola mata malas melihat siapa wanita yang di maksud asistennya itu. Dia adalah wanita yang dia tolak dua hari yang lalu. Wanita itu berjalan semakin dekat kearahnya.


"Hay?" sapa Auris langsung duduk di atas meja kerja Aditya, hingga beberapa berkas berjatuhan.


"Ada apa lagi kamu kesini?"


Wanita itu menarik ujung dasi Aditya kemudian memainkannya. Mengulung sampai leher lalu melepaskan, itu dia lakukan berulang kali.


"Auris, udah berapa kali saya bilang, saya nggak suka sama kamu. Carilah laki-laki yang mencitai kamu. Jangan menjadi murahan hanya karena pria sepertiku," ucap Aditya penuh tekanan.


Raut wajah datar pria itu perlihatkan pada Auris. Semakin ada yang mendekati, maka semakin Aditya risih. Itulah mengapa dia tidak suka pada Auris yang terlalu aktif sebagai perempuan.


Tingkat ketidaksukaan Aditya semakin besar kemarin, saat wanita itu menyatakan persaanya.


Bukannya tersingung dengan kata-kata Aditya, Auris malah tersenyum.


"Dengar-dengar perusahaan kamu di ambang kebangkrutan," lirih Auris. "Bagaimana kalau aku bantu kamu?"


Aditya langsung menyingkirkan tangan lentik Auris dari wajahnya. "Saya nggak butuh bantuan kamu, sebaiknya enyah dari kantor saya sekarang juga!" usir Aditya.


Laki-laki cuek anti perempuan itu langsung menarik tangan Auris kemudian membawanya keluar dari ruangan.


***

__ADS_1


Auris menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Dia memejamkan mata untuk mengatur nafasnya yang memburu sehabis olahraga di sore hari.


Dia tinggal menunggu waktu untuk menjadikan Aditya miliknya, cepat atau lambat laki-laki itu akan mencarinya jika tidak ingin kehilangan perusahaan.


"Sabar Ris, sebentar lagi kamu bakal dapat apa yang kamu ingingkan." Auris menatap foto Aditnya yang dia ambil diam-diam. "Maaf kak, aku begini karena kamu, kalau aja kamu mau nerima aku dan bersikap baik, mungkin ini semua nggak bakal terjadi," gumam Auris.


Saat matanya hampir terpejam, suara decitan pintu terdengar. Dia menoleh dan mendapati Mamanya berjalan mendekat.


"Gimana? Dia setuju?"


Auris mengeleng dengan wajah cemberut. "Dia ngusir aku Ma. Apa aku kurang cantik sampai dia nolak? Apa aku kurang kaya?"


"Bukan kurang cantik apa lagi kaya. Kamu terlewat cantik sampai semua laki-laki insekyur bersanding sama kamu Nak. Jangan berkecil hati dong, semuanya tentang waktu."


"Nggak guna cantik aku kalau belum di cintai sama kak Adit."


Raisa tertawa seraya mencubit cuping hidung putrinya. "Kok mama ngerasa kamu nggak cinta sama Adit, tapi obsesi. Lagian mama sebenarnya nggak setuju sama rencana kamu itu. Gimana kalau misalnya kamu berhasil dapatin Adit, tapi suatu hari ini dia tahu kalau dalang di balik jatuhnya perusahaan dia itu kamu?"


"Ish Mama mikirnya kejauhan, nggak lah. Siapa coba yang mau bocorin? Mama?" Auris ikut tertawa.


Wanita bibir tebal itu memeluk Mamanya sangat erat. "Do'a in aja semuanya berjalan lancar."


"Mama do'a in yang terbaik buat kamu Nak. Ingat jangan sampai salah langkah."


"Siap bu bos." Auris memberi hormat pada Mamanya. "Ah ya, Auris hampir lupa ada janji sama Gita, hari ini mau shoping bareng. Dah mama Sayang." Auris mengecup pipi mamanya sebelum menyambar tas dan ponsel di atas meja.


"Mama nggak suka kamu temenan sama dia Ris, dia kayaknya nggak tulus!" teriak Raisa sebelum anaknya benar-benar pergi.


"Itu cuma perasaan Mama aja, Gita tuh baik banget sama Auris. Sampai mau bantu Auris dapetin Kak Adit!"


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ....


Gais, jangan lupa mampir di novel baru Author ya. Ramaikan, biar Author makin semangat. Baca ya sambil nunggu babang Cakra up🥰


__ADS_2