
Liora terus berlari mengejar Liam yang tengah bermain di halam depan rumah. Bocah kecil kurang lebih dua tahun itu, belum makan siang padahal jarum jam sudah menunjukkan angka 4 sore. Itulah mengapa Liora mengejar Liam agar makan.
"Sayang, ayo Nak habisin makannya," bujuk Liora terus saja berlari.
Sementara Liam, semakin di kejar maka semakin lari karena mengira di ajak bermain oleh mamanya.
Liam cekikikan sendiri di kejar-kejar oleh Liora.
"Mamam Liam cini!" pekik Liam bersemhunyi di balik pohon kecil.
"Awas ya kamu Liam, Mama laporin papa!" ancam Liora berkacak pinggang karena berlarian kesana kemari. Dia sudah lelah sungguh, bahkan keringat sudah membanjiri tubuhnya.
Mungkin ini karena efek hamil muda, jadi terlalu mudah lelah. Saat akan kembali berlari, seseorang malah memeluknya dari belakang. Pelukan hangat yang Liora tahu siapa pelakunya.
"Jangan lari-lari Sayang, kalau jatuh gimana, hm?" bisik Cakra mengecup pipi Liora dari belakang.
Liora tertawa menanggapi karena merasa canggung pada beberapa pelayan yang sengaja berbaris rapi menyaksikan kelucuan Liam di sore hari.
Liora menyikut perut Cakra pelan. "Mas malu ih, lepasin," bisiknya.
"Nggak mau, katanya kangen tadi," jawab Cakra semakin erat memeluk Liora.
Suasan romantis yang sempat tercipta di antara mereka buyar ketika seorang pria paruh naya berjaket honda masuk ke halaman rumahnya.
__ADS_1
"Maaf Tuan, tapi bayarannya," ucap bapak-bapak tersebut sedikit takut.
Cakra yang di ajak bicara segera melepaskan pelukannya. "Bayaran apa?" tanya Cakra heran.
"Ojek Tuan, saya mau beli bensin," jawab bapak-bapak tersebut.
Liora di buat bingung oleh perkataan bapak-bapak tersebut, begitupun dengan Eril yang kini mendekat.
"Ah iya saya lupa," ucap Cakra, kini dia melirik Eril. "Punya uang Cash?"
"Tidak Tuan," jawab Eril.
"Aku punya Mas, tunggu ya pak," sahut Liora segera masuk kerumah untuk mengambil uang walau belum tahu untuk apa, dan kenapa Cakra bisa berurusan dengan tukang ojek.
"Ambil aja kembaliannya," ucap Cakra.
"Makasih banyak Tuan." Bapak-bapak paruh baya itu menunduk hormat sebelum keluar dari pagar.
Kalian tidak akan percaya jika mengetahui apa yang di lakukan Cakra hingga bisa berurusan dengan tukan ojek.
Saat jalan pulang, terjadi drama macet yang sengat membosankan untuk ukuran Cakra yang minim kesabaran pada lingkungan. Itulah mengapa Cakra mendesak Rocky agar segera turun dari mobil dan mencari ojek agar dia bisa sampai lebih cepat kerumah. Sayangnya, saat turun dia lupa membayar karena tidak terbiasa. Dimana Rocky sekarang? Tentu saja masih semedi di tengah kemacetan.
"Papa puyang, Liam au mamam cama Papa," ucap Liam memeluk kaki Cakra.
__ADS_1
Laki-laki yang tengah di tatap aneh oleh istrinya segera mengendong Liam. "Ayo Sayang, Papa bakal buat perut kamu gendut."
"Taya peyut Papa?"
Liora mengulum senyum mendengar pertanyaan Liam. "Perut Papa nggak gendut Nak, tapi berotot," ralat Liora tanpa sadar.
"Ekhem, si paling hafal bentuk tubuh suami. Pasti di pikirannya itu ...."
Pletak
Liora menyentil bibir Cakra kemudian berlalu begitu saja masuk kerumah. Bisa-bisanya dia di tuduh oleh Cakra, dan kesalnya lagi karena tuduhan itu tepat sasaran. Iya, perut Cakra selalu terbayang di pikiran Liora.
"Mama marah?"
"Mama malah?" tanya Cakra dan Liam entah pada siapa. Sontak Cakra tertawa, tawa yang sangat jarang para pelayan lihat sebelumnya.
Cakra ikut masuk kerumah di ikuti oleh Eril juga Nani Liam yang tengah membawa makanan. Laki-laki tampan itu ikut duduk di sofa dan mengecup pipi Liora tanpa ada kata bosan.
"Aku tahu kemana kamu hari ini, kalau dalam hitungan ke tiga nggak senyum, maka aku bakal hukum kamu karena keluar rumah tanpa izin, apa lagi sama laki-laki!" ancam Cakra, membuat jantung Liora seakan rusak. Nada bicara Cakra sangat menyeramkan.
"Ak-aku nggak kemana-mana kok."
"Bohong, Rocky melaporkan semuanya!"
__ADS_1