Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 72


__ADS_3

Karena curiga tentang sesuatu dan tidak ingin merepotkan Cakra yang tengah sibuk di kantor. Liora memutuskan kerumah sakit di antar oleh Eril. Tentu saja Liam tidak ikut dan tinggal bersama naninya di rumah.


Senyuman Liora mengembang setelah keluar dari ruangan dokter yang memeriksa dirinya. Pipi Liora memanas, mungkin sekarang sudah memerah karena sangat bahagia.


Eril yang melihat itu segera bertanya.


"Nyonya sejak keluar dari ruangan dokter senyum-senyum mulu, ada apa?" kepo Eril, walau begitu dia tidak berani mensejejarkan langkahnya dengan Liora. Padahal wanita yang menjadi istri Tuannya sesekali berhenti hanya untuk berjalan beriringan.


"Aku nggak bakal jawab sebelum kamu jalan di samping aku, Eril," ucap Liora.


"Lebih baik saya tidak tahu apapun Nyonya," sahut Eril tanpa menambah kecepatan langkahnya.


Eril lebih baik memendam rasa ingin tahu daripada harus kehilangan kakinya jika ketahuan.


Eril membukakan pintu mobil untuk Liora yang sejak tadi belum memudarkan senyumnya.


"Eril, jangan beritahu Mas Cakra tentang ini ya," pinta Liora penuh harap.


"Saya tidak bisa menjamin Nona, bang Rocky mempunyai kekuatan melebihi Canayang," jawab Eril. Entah laki-laki itu memuji saudaranya atau sedang meledek.


Tapi memang benar adanya, Rocky selalu tahu apa saja padahal tidak pernah jauh-jauh di sekitar Cakra. Eril mencurigai Rocky mempunyai kekuatan goib.


Liora hanya tertawa menanggapi selorohan Eril, dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Rocky untuk meminta bantuan. Mungkin jika dia yang bicara, Rocky tidak akan bocor pada Cakra, kalau perlu Liora akan menggunakan kekuasaanya sebagai nyonya Aleksander.

__ADS_1


"Halo, Rocky ...."


***


"Siapa?" tanya Cakra penuh selidik ketika ponsel Rocky berdering.


"Nyonya Liora Tuan, saya permisi untuk menjawabnya," jawab Rocky sebelum meninggalkan ruangan.


"Hm."


Setelah memastikan sudah jauh dari jangkuan Cakra, barulah Rocky menjawab panggilan dari pawang Cakra. Tidak biasanya wanita cantik itu menelpon kecuali hal-hal mendesak saja.


"Halo, Rocky." Dua kata yang terdengar di seberang telpon.


"Kamu tahu aku pergi kemana aja hari ini?"


"Tidak," jawab Rocky.


"Aku dari rumah sakit. Mungkin kamu butuh informasi itu untuk di laporkan."


"Tentu saja Nyonya, saya akan mengatakan ini pada Tuan ...."


"Jangan laporkan kegiatan aku hari ini Rocky, atau aku akan memecatmu!" ancam Liora, bukannya takut, Rocky malah gemas mendengarnya.

__ADS_1


"Saya tidak takut sama sekali dengan ancaman Anda. Jika tidak ada lagi yang mau di bicarakan, saya ...."


"Aku mohon, kali ini aja. Jangan beritahu Mas Cakra, aku tidak punya penyakit serius. Tolonglah, kau bisa mengeceknya sendiri ke rumah sakit!" pinta Liora.


"Saya akan melakukannya Nyonya."


Rocky langsung memutuskan sambungan telpon setelah berpamitan. Aneh-aneh saja istri Tuannya itu. Memberitahukan tapi tidak ingin di laporkan.


Rocky bukan orang yang secepu itu, melaporkan sesuatu yang menjadi privasi orang lain kecuali membahayakan. Seperti yang di sarankan Liora, Rocky akan mengecek kerumah sakit lebih dulu sebelum melapor pada Cakra.


"Apa yang kau bicarakan dengan istriku?" tanya Cakra dengan nada sedikit ketus.


"Tidak ada Tuan. Nyonya Liora hanya menanyakan kesibukan Anda," bohong Rocky.


"Kenapa dia malah menelpon kamu bukan Saya? Jelas-jelas saya suaminya!" gerutu Cakra. Terlihat jelas raut kekecewaan di wajah laki-laki tampan itu.


Karena cemburu juga kesal, Cakra langsung menghubungi Liora, untung saja di jawab lebih cepat, atau dia akan kembali merajuk.


"Habis telponan sama siapa?"


"Sama Rocky, Mas kapan pulang? Ini udah jam setengah 4 aku udah kangen banget," ucap Liora di seberang telpon.


"Aku pulang sekarang karena kamu kangen," jawab Cakra dengan senyum. tersunging di bibirnya.

__ADS_1


"Bucin banget, ngeri sendiri liatnya," batin Rocky saat melihat senyuman Cakra.


__ADS_2