
Cakra menurunkan Liam dari gendongannya, kemudian menarik dagu Liora agar menatap dirinya. "Jangan menunduk Sayang, mas tidak mau mahkota kamu jatuh," bisik Cakra dengan tatapan penuh cinta.
"Aku merasa tidak pantas ada di sini Mas," jawab Liora.
"Yang menentukan pantas tidaknya siapa? Kamu pantas beridiri di sini, karena kamu adalah Nyonya Aleksander, jadi berhenti rendah diri mengerti?" ucap Cakra mengingatkan.
Laki-laki tampan tersebut berjalan menuju podium yang sudah disediakan. Mengerakkan Microphone agar sesui dengan keinginnanya.
Cakra menatap satu persatu karyawan yang kini berbaris rapi di hadapannya.
"Saya mengumpulkan kalian karena ingin menyampaikan sesuatu, tapi sebelum itu saya ingin membagi ...." Kalimat Cakra berhenti ketika melihat putranya berjalan ke depan para karyawan dan berkacak pinggang.
Penasaran apa yang akan di lakukan bocah itu, Cakra memutuskan untuk diam dan memperhatikan putranya saja.
"Nanan libut-libut! Dedek Liam peyut mama bobo!" teriak Liam pada semua karyawan yang sejak tadi saling berbisik satu sama lain.
"Tante Nanan libut!" tegur Liam mengembungkan pipinya masih berkacak pinggang, hal itu malah membuat semua karyawan tertawa karena gemas.
"Liam sini Sayang," panggil Liora.
__ADS_1
"Selamat Nyonya atas kehamilannya, kami turut senang mendengar kabar bahagia ini," ucap salah satu karyawan paling depan yang mengerti ucapan Liam barusan.
Hal itu membuat semua karwayan ikut mengucapkan selamat pada Liora juga Cakra. Liam segera berlari menghampiri mamanya karena suara para karyawan yang membuatnya takut.
"Liam tatut Mama," ucap Liam memeluk kaki Liora.
"Semuanya tenanglah!" perintah Rocky membuat semuanya langsung terdiam. "Silahlan Tuan," lanjutnya.
Cakra mengangguk sebagai jawaban. "Sebenarnya saya ingin mengumumkan kehamilan istri saya, tapi sudah keduluan, jadi masuk ke inti saja," ucapnya.
"Yang masuk kriteria yang saya sebutkan silahkan berpindah tempat ke sisi kiri ruangan!" perintah Cakra melirik satu persatu karyawannya.
Sesuai intrupsi, para karyawan yang masuk kriteria langsung memisahkan diri dari yang lainnya. Jika dihitung, ada 10% karyawan yang berpindah tempat.
"Peraturan ini berlaku bagi semua karyawan mulai hari ini juga! Untuk wanita yang sedang hamil akan mendapatkan cuti sampai mereka melahirkan nanti dan mendapatkan jagi setengah dari gaji normal, dan boleh langsung masuk bekerja setelah pemulihan. Untuk laki-laki yang istrinya sedang hamil, jam kerja kalian hanya setengah hari dengan kerja part time."
Mata semua karyawan berbinar mendengar peraturan yang sangat menguntungkan tersebut, mengingat perusahaan Cakra termasuk perusahaan yang sangat tertib akan sesuatu.
"Kalian bisa mengajukan hal tersebut pada kepala devisi masing-masing dengan bukti yang jelas! Sepertinya hanya itu yang ingin saya sampaikan.
__ADS_1
"Terimakasih Tuan atas pengertiannya, kami sangat berterimakasih!" ucap para karyawan serentak.
"Doakan istri dan calon anak saya baik-baik saja, itupun jika kalian mau." Cakra melirik Rocky sebelum menjauhi podium, laki-laki tampan itu akan menyerahkan sisanya pada Rocky, sementara dia mengajak istri dan anaknya ke suatu tempat untuk melihat hadiah Liam yang sesungguhnya.
Liora menutup mulutnya tidak percaya setelah mereka berada di rooftop perusahaan Aleksander Group. Cakra benar-benar mewujudkan keinginan Liam, bukan mainan tapi sungguhan.
"Toptel Papa!" pekik Liam penuh bahagia melihat helikopter yang sangat mirip dengan mainan miliknya. Terlebih gambar dan nama Liam tertulis di sana.
"Mas ini terlalu berlebihan, Liam cuma minta mainan."
"Tidak ada kata berlebihan untuk kalian." Cakra mengenggam tangan Liora dan berjalan mendekati helikopter yang sejak tadi menunggu kedatangan mereka.
Cakra akan membawa istri dan putranya terbang dan melihat dunia dari atas.
"Katakan apa pemintaan kamu Sayang? Katanya kalau hamil kamu ingin mengajukan satu permintaan," bisik Cakra setelah helikopter mulai meninggalkan perusahaan Aleksander.
"Jangan tinggalkan aku apapun yang terjadi nantinya, karena sekarang aku cuma punya mas Cakra. Mau berjanji?" tanya Liora mengacungkan jari kelingkingnya kehadapan Cakra.
"Mas tidak bisa berjanji."
__ADS_1