Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 163 ~ Pria misterius


__ADS_3

Cakra langsung berdiri ketika mengenali siapa yang baru saja memanggil nama isri cantiknya. Pria itu menatap tajam Wildan, pria yang sangat dia benci dan takutkan akan menjadi saingannya, bagaimanapun Wildan adalah cinta pertama Liora. Pria itu berdiri tepat di hadapan Wildan yang sedikit pendek darinya, seolah menghalangi agar pria kampung itu tidak memandang Liora.


"Dia bukan teman kamu, atau pun adik kamu. Jadi panggil dia Nyonya Alexander!" ucap Cakra penuh penekanan.


Wildan yang melihat itu hanya senyum tipis. Sejak dulu hingga sekarang, sikap posesif Cakra tidak pernah berubah jika melihatnya, bahkan malah semakin bertambah.


"Saya hanya ingin menyapa teman sekampung, apa itu salah, Tuan?" tanya Wildan.


"Salah, karena dia istri saya."


"Jelas dia istri kamu, saya tidak pernah mengklaim dia istri saya."


"Wildan!" bentak Cakra dengan tangan mengepal, berhasil menarik perhatian beberapa pengunjung. Bahkan para pengawal yang memantau dari kejauhan siap mendekat jika saja terjadi kegaduhan.

__ADS_1


Liora yang mulai merasakan ketegangan segera meraih tangan suaminya, kemudian mengenggam dan mengelusnya. "Malu dilihat orang, Mas. Lagi pula Wildan tidak sebanding dengan Mas Cakra. Mas sangat sempurna sampai membuat aku tidak bisa berpaling," bisik Liora di mana hanya bisa didengar oleh Cakra dan Wildan saja.


Siapa yang menyangka, ucapan Liora mampu membuat api cemburu dalam diri Cakra mereda. Pria itu mengambil napas dalam-dalam, lalu mendorong pundak Wildan yang masih saja tersenyum.


"Ternyata kamu masih menganggap saya saingan. Apakah saya harus bergerak?"


"Mas Wildan ... maksud aku, Wildan." Ralat Liora takut Cakra semakin cemburu. "Cukup! Jangan mencari masalah sama aku atau pun, Mas Cakra."


"Baiklah." Pasrah Wildan kemudian berlalu pergi. Awalnya dia hanya ingin menyapa baik-baik karena kebetulan bertemu di tempat keramaian, tetapi karena respon Cakra di luar espektasinya, dia pun jadi terpancing dan menimbulkan keributan.


"Sorry, saya tidak ...." Wildan menghentikan ucapannya ketika menyadari pria yang dia tabrak adalah pria yang ingin dia temui sehingga berkunjung ke kota.


"Tuan, Wildan?" tebak pria itu dengan salah satu alis terangkat.

__ADS_1


"Benar."


"Mari bicara di dalam mobil," ajak pria berkacamata itu.


Wildan mengangguk, segera mengikuti langkah pria yang menjadi tujuannya berkeliaran di kota metropolitan. Dia memasuki mobil hitam yang dibukakan oleh dua pengawal samping kiri dan kanan. Setelahnya pintu itu tertutup kembali menyisakan keheningan di dalam mobil antara Wildan dan pria yang dia temui.


"Ada apa Anda ingin bertemu di tempat seperti ini?" tanya pria tersebut.


Wildan tertawa, tawa menyiratkan kekesalan yang sangat mendalam pada pria yang belum juga membuka kacamatanya. Andai tidak ada pengawal di sekitar pria itu, Wildan mungkin telah melayangkan tinjunya sebanyak mungkin. Namun, apa daya keinginan itu harus dia pendam demi keamanan dirinya.


Wildan mengeluarkan ponselnya kemudian memperlihatkan sebuah foto pada pria yang duduk di sampingnya. "Kamu kenal dengan wanita ini, bukan?" tanya Wildan.


Pria berkacamata itu terdiam sejenak, sebelum akhirnya merebut benda pipih Wildan untuk melihat lebih dekat wanita berhijab panjang yang sedang tersenyum menatap langit jingga. Dia melepas kacamata hitamnya sebagai respon keterkejutan.

__ADS_1


"Kamu tahu dia siapa?"


"Tentu."


__ADS_2