
Sambil mendengar semua penjelasan yang keluar dari mulut Rocky, tatapan Cakra terus tertuju pada gedung-gedung yang jauh lebih tinggi dari perusahaannya. Pria itu sesekali mengangguk atau pun melirik Rocky jika merasa ada yang tidak beres dari tingkah dua pemuda yang tidak tahu apa maunya tersebut, sehingga mengganggu kehidupan dirinya bersama orang-orang yang dia percaya.
"Kedatangan Wildan ke kota ini sebenarnya murni untuk menemui Rahma, Tuan. Tetapi karena status Rahma yang telah berubah menjadi istri seseorang, Wildan malah meminta bertemu dengan Zayn, yang ternyata ayah biologis Arhan. Sampai saat ini saya belum tahu tujuan pasti Wildan memberi tahukan keberadaan Rahma dan putranya pada Zayn, tetapi saya yakin Wildan tidak terima dengan pernikahan Eril dan Rahma," jelas Rocky dengan wajah datarnya.
Cakra membalik tubuhnya ketika Rocky tidak bicara lagi, pria itu menatap tangan kanannya dengan alis terangkat. "Ini yang kau takutkan bukan?" tanya Cakra.
"Benar, Tuan," jawab Rocky disertai anggukan kepala.
Memang pada dasarnya Rocky menentang pernikahan Eril lantaran tidak ingin adiknya terlibat masalah apapun. Namun, Eril tidak pernah mendengarkan dirinya sehingga sekarang harus terlibat dengan pebisnis seperti Zayn yang haus akan validasi dan kekuasaanya.
"Nasi sudah menjadi bubur, bagaimana kau akan mengolahnya?" tanya Cakra lagi.
Rocky senyum smirk. "Berani mengambil keputusan sudah pasti berani menanggung resikonya. Kenapa saya harus, repot, Tuan? Jika nasi sudah menjadi bubur, maka tinggal berikan penyedap rasa agar bisa dinikmati tanpa membuang sesuatu."
Cakra tertawa mendengar jawaban Rocky yang sangat ambigu. Pria itu sepertinya mempunyai ide untuk membuat Zayn jera karena berani mengusiknya. Cakra merapikan jasnya kemudian beralih duduk di kursi kebesaran, tidak lupa menumpu kaki dengan kaki lainnya.
__ADS_1
"Harga saham Z group sedang turun, apa kau tidak ingin berinvestasi? Saya yakin banyak pemegang saham yang dengan suka rela menjualnya sebelum harga semakin turun," ujar Cakra.
"Saya tidak menginginkan kesuksesan, Tuan. Tugas saya hanya berada di samping anda seumur hidup saya," jawab Rocky yang sama sekali tidak tertarik pada kehidupan bisnis apapun.
"Setia itu perlu, tetapi bodoh jangan! Saya tahu kau punya banyak tabungan. Pergunakan semuanya untuk membeli saham dengan harga rendah. Kau tenang saja perusahaan itu akan normal seperti semula jika kau berhasil membelinya."
"Jangan bilang Tuan Cakra akan ...."
"Tebakan kamu benar, jadi bergegaslah!" perintah Cakra.
Tanpa membantahlah lagi, Rocky segera menganggukkan kepalanya, terlebih setelah membaca rencana Cakra yang sangat brilian. Pria itu pamit undur diri pada atasannya, kemudian mengurus segala sesuatu termasuk mengatur janji temu pada beberapa pemegang saham yang sedang terguncang di Z group.
"Wildan-wildan, saya kira kamu itu pintar, ternyata hanya pria bodoh. Masalah ini tidak akan membuat Eril berpisah dengan Rahma."
***
__ADS_1
Melihat istrinya sudah tenang dalam dekapan, bahkan sampai tertidur. Eril perlahan-lahan bergerak turun dari tempat tidur, memberikan ruang untuk Rahma bisa tidur dengan nyenyak tanpa terganggu oleh siapapun. Eril menutupi tubuh Rahma dengan sarung setelah berhasil menidurkannya dengan nyaman di samping Arhan yang juga kembali tertidur.
Dia menunduk untuk mengecup kening Rahma. "Tidurlah, jangan takutkan apapun, karena aku tidak akan membiarkan siapapun membuatmu sedih," bisik Eril.
Sampai saat ini pria itu belum tahu bahwa Zayn adalah ayah biologis Arhan, lantaran Rahma belum menceritakan apapun dan hanya menangis di pelukannya. Eril keluar dari ranjang untuk menemui Arumi yang masih saja asik bermain. Pria itu masuk ke pagar mainan Arumi, kemudian berbaring di sana.
"Rumi, hey? Sampai sekarang om masih penasaran kenapa nani kamu tiba-tiba pergi, padahal kamu sangat mengemaskan, Sayang." Eril menoel-noel pipi Arumi yang sibuk bermain dan bergumam sendiri. Balita kecil itu benar-benar mirip dengan Brian, mata, hidung, bibir semuanya Brian.
"Pa-pa."
"Rumi kangen papa? Papa Rumi lagi sibuk makanya belum jenguk."
Arumi yang seolah sadar sedang diajak bicara, segera melempar mainannya dan merangkak ke atas tubuh Eril. Balita mengemaskan itu sangat suka pada pria, termasuk Eril dan Rocky yang memang sudah bersamanya sejak baru lahir.
"Harus jadi anak pintar sih putri, Om. Biar nanti papa Rocky bangga, ya kan?"
__ADS_1
Arumi tertawa di atas perut Eril, balita mengemaskan itu mengigit tangannya sendiri dan sesekali kegirangan. Senang diajak bicara seperti ini.
"Arumi jangan rewel? Mama lagi sedih tau. Rumi harus hibur mama kalau bangun, oke?"