Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 189 - Rumah sakit Al-Ikhlas


__ADS_3

Mendengar ancaman yang keluar dari mulut Alea, Rocky segera membalik tubuhnya dan bersiap meninggalkan kontrakan tersebut. Saat itu lah Alea mulai meregangkan semua otot-ototnya yang tadi menegang karena dikuasai rasa marah juga benci terhadap pria yang datang tiba-tiba ke kontrakannya.


Alea meluruhkan tubuhnya pada lantai yang sangat dingin dan berteriak histeris sambil menggenggam silet yang sangat tajam.


"Ini semua kesalahan kamu. Kamu telah menghancurkan hidup saya dengan perilaku binatangmu itu!" teriak Alea tanpa merasakan sakit di telapak tangannya padahal darah segar mulai mengalir di sana.


Rocky seketika menghentikan langkahnya yang hampir menyentuh pintu kontrakan. Pria itu hendak pergi lantaran berpikir kepergiannya bisa membuat Alea sedikit tenang. Tetapi siapa yang menyangka, Alea malah semakin menjadi. Pria itu membalik tubuhnya dan terkejut melihat Alea yang telah bersimpuh di lantai dengan darah di pangkuannya.


Rocky bergerak cepat untuk menghampiri wanita itu kembali. Meraih tangan Alea dan memaksa kepalan tangan tersebut terbuka agar dia bisa mengambil benda tajam di dalamnya.


"Jangan sentuh saya, Sialan!" bentak Alea terus memberontak, tetapi Rocky tidak peduli akan hal itu.


Rocky hanya fokus pada tangan Alea agar segera terbuka. Namun, bukannya mengendur, Alea semakin menggenggamnya membuat darah kian deras.


"Buka Alea! Ini sangat berbahaya," bentak Rocky dengan wajah datarnya.

__ADS_1


Tidak kunjung mendapatkan respon, pria itu menunduk lalu menggigit telapak tangan Alea yang penuh akan darah, saat itulah genggaman tangan Alea pada benda tajam itu mengendur. Rocky tidak membuang kesempatan, dia segera merampas silet tajam tersebut lalu melemparnya ke sembarang arah, bertepatan Alea jatuh pingsan tepat di dada bidang Rocky.


"Sial!" umpat Rocky.


Pria itu bergegas melepas dasi putih garis-garis yang melekat di lehernya, kemudian membalut pada luka sayatan yang lumayan lebar di telapak tangan Alea. Barulah setelahnya Rocky mengangkat tubuh wanita tersebut keluar dari kontrakan sempit itu. Rocky berjalan terburu-buru di lorong rumah kontrakan tanpa memedulikan beberapa penghuni yang memperhatikan di depan kamar masing-masing.


Tidak tahu harus meminta tolong pada siapa, Rocky membuka pintu dengan sebelah tangannya, kemudian membaringkan Alea di jok belakang. Barulah setelahnya dia menyusul untuk mengemudikan mobil menuju rumah sakit terdekat. Di sela-sela perjalanan, Rocky sesekali melirik ke jok belakang untuk memastikan bahwa wanita yang kini tengah mengandung darah dagingnya masih bernapas dan baik-baik saja.


Pria itu membanting setir kemudian memasuki rumah sakit Al-ikhlas yang tidak terlalu besar. Dia memarkirkan mobilnya tepat di depan UGD, lalu membuka pintu secara kasar. Mengendong Alea memasuki ruangan itu tanpa menunggu instruksi dari pada perawat atau pun Dokter yang sama-sama sibuk melayani pasien.


Dua perawat langsung menyediakan brankar untuk Alea, tidak lupa menyingkap penyekat antar pasien dan mempersilahkan Rocky.


"Silakan baringkan di sini, Tuan!" ucap salah satu perawat.


Tanpa menyahut, Rocky segera membaringkan Alea pada brankar rumah sakit. Menatap wajah pucat Alea bergantian dengan dasi putih yang terus saja basah karena darah.

__ADS_1


"Telapak tangannya tersayat dan dia kehilangan banyak darah," ucap Rocky memberitahukan dan enggang menyingkir dari tempat tersebut.


"Kami mengerti, Tuan. Sebaiknya anda menunggu istri anda di luar saja agar tidak menghambat pekerjaan kami di sini. Jika ada masalah, saya akan memanggil anda," ucap sang perawat.


Rocky mengangguk, pria itu perlahan melangkah mundur masih menatap wajah Alea. Dia baru membalik tubuhnya setelah perawat menutup penyekat antar pasien. Pria itu bergegas ke luar dari ruangan UGD dan duduk di kursi tunggu bersama beberapa pengunjung lainnya.


Dia melirik kanan kiri dan mendapati tatapan tertuju padanya. Merasa ada yang salah dengan dirinya, Rocky segera meneliti penampilannya yang ternyata penuh oleh noda darah. Tanpa menegur siapa pun, Rocky beranjak dari duduknya kemudian menuju kamar mandi yang entah di mana letaknya.


Rocky membersihkan noda merah di bibir, jas juga tangannya dengan cepat setelah sampai di kamar mandi. Dia bahkan menyempatkan diri menatap pantulan wajahnya pada cermin. Wajah tanpa ekspresi tetapi mengandung banyak kekhawatiran di dalamnya.


"Semuanya akan baik-baik saja," gumam Rocky.


Pria itu memutar kran kemudian mencuci wajahnya berulang kali, lalu mengusap hingga ke kepala membuat rambut yang semula rapi itu sedikit basah. Setelah merasa jauh lebih baik, Rocky kembali ke ruangan UGD untuk menunggu kabar dari Alea. Terlebih Rocky tahu bahwa wanita itu tidak memiliki keluarga sepertinya. Dalam artian yatim piatu.


Ponsel yang terus berdering, membuat Rocky yang tadinya melamun segera merogoh saku jasnya. Ternyata yang menelepon adalah Cakra.

__ADS_1


__ADS_2