Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 43


__ADS_3

Cakra mengecup kening Liora yang kini tetidur di pundaknya. Sepertinya Liora lelah sebab tidak tidur semalaman, dan sekarang harus melakukan perjalanan cukup jauh.


"Spionnya di miringin!" Perintah Cakra pada pengawal yang tengah menyetir.


Pengawal itu hanya mengangguk, lalu langsung melaksanakan perintah Cakra.


"Papa ibi!" pekik Liam menunjuk mobil besar yang kebetulan mereka lewati.


"Nanti setelah sampai rumah, kita beli mobil-mobil kayak gitu," sahut Cakra dengan senyuman.


Sebenarnya tubuh laki-laki itu pegal, tangan kanan kesemutan sebab menyanggah tubuh Liora. Tapi semua rasa pegal itu tidak sebanding dengan rasa bahagia karena kedua orang yang dia sayangi ingin tinggal bersama dan membina keluarga yang bahagia.


"Liam juga ngantuk?" tanya Cakra di jawab anggukan oleh balita dua tahun lebih itu.


Cakra menepuk paha sebelah kirinya, menyuruh Liam duduk di sana. Seperti arahnnya, Liam duduk kemudian bersandar di dada bidang Cakra.


"Tidur yang nyeyak! Kalau udah sampai rumah, papa bangunin."


***


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 6 jam, akhirnya Cakra dan Liora sampai di kota. Wanita yang tadi tertidur sudah bangun saat memasuki jalan tol.


Sementara Liam masih setia tidur di pangkuan Cakra.

__ADS_1


"Liam siniin aja Mas."


"Udah, sama aku aja. Bentar lagi juga sampai," jawab Cakra.


Tepat saat memobil memasuki pekarangan rumah lumayan luas, Liam bangun.


"Rumah Mas?" tanya Liora.


"Hm, kita bakal tinggal di sini."


Liora menelan salivanya kasar sebelum turun dari mobil. Pantas saja jika adik Cakra mengatakan dia tidak pantas bersanding dengan laki-laki itu. Rumah saja sebesar ini, apa lagi kekayaan?


Rasa insekyur melanda hati Liora dalam kejap. Lamunan Liora buyar ketika merasakan gengaman Cakra di tangannya.


"Selamat datang Nyonya Liora dan Tuan Muda Liam," ucap mereka serentak.


Melihat semua orang menunduk, Liora refleks ikut menundukkan kepalanya sopan.


"Jangan nunduk, nanti mahkota kamu jatuh," bisik Cakra hampir mencium telinga Liora.


"Ini lumah Papa?" tanya Liam yang berada di gendongan Cakra.


"Bukan." Cakra menjeda. "Ini rumah kita, rumah Mama, rumah Liam dan papa."

__ADS_1


"Lumah Liam? Ada inan?" Bola mata Liam memancarkan binar bahagia.


"Ada dong."


Cakra melangkah menapaki satu persatu anak tangga tanpa melepaskan genggaman tangannya pada Liora. Sesampainya di lantai dua, Cakra langsung membuka pintu kamar yang membuat Liam berteriak bahagia.


"Inan anak!" Liam meronta agar segera di turunkan. Berjalan memperhatikan dus-dus dari kecil, sedang hingga besar bergambar mobil-mobilan, kapal, robot dan berbagai macam mainan laki-laki.


"Papa tinggal?"


Liam tidak menjawab lagi, bocah kecil itu sibuk membuka dus mainan yang baru saja dia tarik. Cakra melirik pelayan yang sedari tadi mengikuti, seakan mengatakan awasi Tuan Muda.


"Mau kemana lagi?" tanya Liora.


Wanita itu merasa canggung sendiri, berada di rumah mewah seperti di film-film CEO yang dia tonton. Bahkan dari pelayan dan segala penyambutan hampir menyerupai Film. Apakah ini benar-benar nyata, atau hanya sebuah mimpi yang akan hilang dalam sekejap mata?


Keterkejutan Liora bertambah, saat Cakra membuka kamar yang sangat luas. Kamar yang sepertinya sengaja di hias ala pengantin baru. Di atas ranjang, ada bunga mawar berbentuk love.


"Kamar kita," ucap Cakra sebelum Liora bertanya lebih lanjut.


...****************...


Aduh-aduh berasa jadi pegantin baru nih. Eits nggak semudah itu, mereka belum nikah ulang😅

__ADS_1


__ADS_2